TANGGUNG JAWAB ANAK DAN ORANG TUA (kajian isyarat surat al-Ahqaf:15-16)

TANGGUNG JAWAB ANAK

 DAN ORANG TUA

(kajian isyarat surat al-Ahqaf:15-16)

A. Teks Ayat dan Tarjamahnya

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ () أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo`a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni`mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. Qs.46 (al-Ahqaf):15

B. Historis Ayat

Ibn al-Jauzi,[1] mengutip berbagai kitab menympilkan bahwa secara histories ayat ini turun dilatarbelakangi tiga peristiwa :

(1) Abu Bakar yang usianya dua tahun lebih muda dari Rasul SAW telah bershabat sejak muda. Pada suatu saat di usia Abu Bakr 18 tahun dan Rasul SAW 20 tahun pergi ke kawasan Syam dalam rangka bisnis. Di suatu tempat singgah dan bertemu seorang Rahib yang menanykan tentang agama.  Ternyata nampak di atas Rasul SAW itu  awan yang menaungi. Rahib juga melihatnya, dan bertanya pada Abu Bakr tentang siapa yang duduk mendapat naungan itu? Abu Bakar menjawab: ذاك محمد بن عبد الله بن عبد المطلب dia adalah Muhammad bin Abd Allah bin Abd al-Mutthalib. Rahib itu berkata  هذا واللهِ نبيٌّ وما استَظَلَّ تحتَها أحدٌ بعد عيسى إِلاّ محمدٌ نبيُّ الله Demi Allah dia ini pasti seorang Nabi. Tidak ada yang mendapat naungan seperti itu setelah Nabi Isa selain Muhammad sebagai Nabi Allah. Sejak saat itu tertanam dalam hati Abu Bakar keyakinan yang mendalam pada kebenaran Rasul SAW. Tatkala Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun diangkat menjadi Rasul, maka Abubakar dalam usia 38 tahun langsung beriman dan membenarkannya sehingga dijuliki al-Shiddiq (yang membenarkan). Ketika Abu Bakar berusia 40 tahun menyatakan rasa syukur karena ayahnya bernama Abu Quhafah Utsman bin Amr serta Ibunya yang bernama Umm al-Khair putri Shahr bin Amr menjadi muslim, maka berdo’a untuk kedua orang tuanya sebagai ungkapan bersyukur pada Ilahi.[2]. Ayat ini sebagai jawaban terhadap kesalihan dan keni’matan Abu Bakar dan keluarganya.

(2) Sa’d bi Abi Waqqas seorang anak yang amat hormat dan berbakti pada ibunya. Ketika masuk Islam, Ibu Sa’d mogok makan hingga lemah lunglai karena tidak menyetujui akidah putranya. Dalam kedaan lemah ibunya berkata يا سعد! ما هذا الدِّين الذي قد أحدثتَ ، لَتَدَعنَّ دِينك هذا أو لا آكل ولا أشرب حتى أموتَ (wahai Sa’d! agama apa yang yang kamu peluk baru! Tianggalkanla agamamu ini, atau aku tidak makan tidak minum sampai mati!). Lalu ibunya tercinta itu tidak makan dan tidak minum sampai fisiknya lemah.  Tatkala Sa’d datang di lain waktu ibunya berkata  يا قاتلَ أُمِّه (wahai pembunuh ibu!) Sa’d berkata: لا تفعلي يا أُمَّاه ، إِنِّي لا أَدَعُ ديني هذا لشيء  (ibu ! jangan engkau lakukan itu! Sungguh aku tidak akan meninggalkan agamaku sedikitpun), ibunya semakin lemah, sa’ad berkata: تعلمين والله يا أُمَّاه لو كانت لكِ مائة نَفْس فخرجتْ نَفْساً نَفْساً ما تركت ديني هذا لشيء ، فكُلي ، وإِن شئتِ لا تأكلي (hendaklah engkau tahu! Demi Allah wahai ibu! Walau engkau memiliki seratus jiwa kemudian engkau korbankan satu persatu hingga habis, diriku tidak akan meninggalkan agamaku sedikitpun. Sekarang engkau lebih baik makan. Namun kalau engkau tetap tidak berkenan silakan). Tatkala ibunya melihat Sa’ad bersikap seperti itu, akhirnya menghentikan mogok makan. Menurut sebagian ulama ayat ini turun membenarkan sikap Sa’d dan dikuatkan pula oleh turunnya surat al-Ankabut:8.

(3) Bersifat umum mengarah ke berbagai peristiwa yang dialami oleh shahabat berkaitan dengan kewajiban berbuat baik terhadap orang tua.

 

C. Sekilas Tafsir Ayat

Pangkal ayat وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا  (Kami pesankan pada manusia agar mereka berbuat baik pada orang tua), menyerukan agar manusia sesantiasa berbuat baik kepada orang tuanya. Banyak sekali ayat yang memerintah berbuat baik pada orang tua bahkan disandingkan dengan perintah ibadah pada Allah SWT. Kemudian diungkapkan mengapa mesti berbuat baik pada mereka dengan menandaskan حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا (ibunya telah mengandung dengan merasa berat, dan semakin lama semakin melelahkan). Hendaklah setiap anak mengingat jasa orang tuanya yang telah mengandung dan membesarkan mereka dalam susah payah. Kemudian diungkap jangka waktu kehamilan dan menyusui وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاثُونَ شَهْرًا (masa kehamilan dan menyusui minmal sampai tiga puluh bulan). Ibn Abbas menandaskan berdasar ayat ini bahwa masa kehamilan minimal adalah enam bulan, karena masa persusuan maksmal dua tahun sebagai mana ditadaskan pada ayat lain وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ (para ibu hendakla menyusui anaknya hingga dua tahun bagi yang ingin menyempurnyakan persusuannya. Qs.2:233). Oleh karena itu kata Ibn Abbas bila masa kehamilan sembilan bulan, maka masa persusuan dapat dipenuhi selama 21 bulan. Namun jika persusuan itu ingin tetap dilakukan selama dua tahun, maka berarti persusuan yang sempurna walau masa kehamilannya lebih dari sembilan bulan. Masa kehamilan dan persusuan disebutkan dalam al-Qur`an, selain mengungkap kewajiban orang tua terhadap anak, juga sebagai perintah pada anak agar mengingat dan membalas jasa orang tua yang tak ternilai harganya secara materi. Jasa orang tua yang mesti diingat bukan hanya menyusui, tapi juga mendewasakannya seperti ditandaskan حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ (sehingga anaknya menjadi dewasa). Isyarat kalimat ini juga mengandung perintah pada orang tua agar berusaha menjadikan akanya berkulaitas hingga dewasa, bukan hanya yang bersifat materi, tapi juga yang berkaitan dengan ruhani dan khalaq yang mulia. Kalau tanggung jawab yang bersifat materi itu hingga anaknya dewasa, atau menikah sebagai mana tersiat dalam Qs.4:6, maka tanggung jawab penmdidikan akhlq hingga anaknya berusia empat puluh tahun sebagaimana ditandaskan pada kalimat berikutnya: وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً(bahkan sampai usia empat puluh tahun). Dalam ayat ini tersirat perintah bahwa orang tua tetap bertanggung jawab menda’wahi anaknya hingga berusia empat puluh tahun, sehingga di usia itu benar-benar mapan baim jasmani, ruhani, maupun ekonomi. قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ (dia berdo’a: Ya Tuhanku berikanlah padaku petunjuk untuk senantiasa bersyukur atas ni’at yang Engaku anugerahkan padaku dan pada orang tuaku). Potongan ayat ini mengisahkan anak yang shalih, tapi mengandung perintah agar setiap manusia mampu bersyukur pada Allah dan berterima kasih pada orang tuanya. Di samping itu memberi isyarat bahwa anak yang sudah berusia empat puluh tahun, benar-benar sudah mapan baik akhlaqnya, jasmani, ruhani maupun ekonominya. Bagaimana mungkin mereka mengungkapkan rasa syukur kalau benar-benar belum mendapatkan ni’mat. Namun demikian anak yang sudah mapan bukan hanya mmpu mebrsyukur tapi juga senantiasa berusaha mampu beramal shalih sebagaimana dikemukakan pada lanjutan ayat و َأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ(an supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; ). Dalam do’a juga langsung berjanji dan bertekad agar tetap beramal shalih. Bahkan senantiasa berusaha mewujudkan generasi berikutnya yang shalih pula; وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.). Kalaimat ini mengisyaratkan bahwa anak yang berusia 4o tahun, bukan hanya mampu menyantuni orang tuanya, tapi juga mampu mewujudkan generasi yang berkualitas. Namun dalam menjalani kehidupan tentu saja mengalami berbagai godaan, hingga terkadang tergelincir pada kekeliruan, maka sebagai anak yang shalih selau sadar akan kekeliruan dan taubat dari segala kesalahan إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. Ungkapan ini sebagai bentuk kesadaran akan kekeliruan dan minta ampun atas dosa yang terlanjur dilaksanakan, yang dirangkai dengan janji akan tetap berpegang pada syari’ah Islam sebagai muslim sejati.

* أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ.Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka

Ayat ini sebagai jaminan bagi orang tua yang memenuhi tanggung jawabnya terhadap anak dan sekaligus jaminan pula untuk anak yang bertanggung jawab terhadap orangtuanya.

 

D. Beberapa Ibrah

a. Essensi Ayat

1. surat al-Ahqaf: 15 memerintahkan agar setiap muslim berbuat baik pada orang tuanya dengan ihsan, bersyukur pada Allah, bertaubat dari dosa serta tetap menjalankan syari’ah Islam sebagai muslim. Sedangkan ayat 16 merupakan jaminan dari Allah untuk yang menajalankan syari’ah-Nya, bahwa mereka bakal meraih kabahagiaan paripurna baik di dunia maupun akhirat kelak.

2. Kedua ayat ini mengandung nilai pendidikan baik dalam mewujudkan keluarga bahagia, maupun tentang tanggung jawab orang tua pada anak, serta tangung jawab anak terhadap orang tua.

3. Dalam ayat ini juga tersirat (1) orang dewasa mesti menyambut kehamilan secara senang dan bersyukur, (2) jarak antara anak yang satu dengan yang lainnya tidak kurang dari tiga puluh bulan, (3) ibu menyusui anaknya selama dua tahun, (4) membimbing anaknya menghadapi masa depan, bahkan hingga usia empat puluh tahun, (5) ketika orang berusia empat puluh tahun idealnya sudah merasa tenang dan senang hingga bersyukur atas keberhasilan mendidik anaknya, (6) sebagai anak merasa bahagia atas ni’mat yang dianugrahlkan Allah SWT kepada dirinya mau pun pada orang tuanya, (7) anak selalu berbuat ihsan kepada orang tuanya yang dirasakan mereka sangat berjasa.

 

b. Tanggung Jawab anak terhadap Orang tua berdasar isyarat surat al-Ahqaf:15

1. ihsan pada orang tua sebagai mana ditandaskan pada pangkal ayat وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًاAdapun cara berlaku ihsan pada mereka tersirat pada berbagai ayat dan hadits seperti

(a).Firman Allah SWT Qs.17:23-24

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا* وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Cara berbuat baik kepada orang tua berdasar ayat ini:

BUNYI AYAT

TARJAMAHNYA CARA BERBUAT BAIK

إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”

1. tetap hormat walau sudah lanjut usia dan tidak berdaya

2. jangan menyampaikan kata yang menyinggung perasaanya walau hanya satu nada

وَلَا تَنْهَرْهُمَا

Janganlah menghardik mereka

3. tidak menghardiknya walau di kala jengkel

وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Berkatalah pada mereka dengan perkataan yang mulia

4.berkata dengan kalimat yang menyenangkan

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang

5. bersikap merendah di hadapamnya mereka

6. mencurahkan kasih sayang

وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil

7. mendo’akan mereka supaya meraih rahmat

8.mengingat jasanya terutama yang telah membesarkan

(b).Firman Allah SWT .وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ Qs.29:8لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Cara berbuat baik pada orang tua berdasar ayat ini :

BUNYI AYAT

TARJAMAHNYA CARA BERBUAT BAIK

وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya

9. bersikap kritis, menyeleksi pendapat orang tua apakah ada dasarnya ataukah tidak

10.jangan menaati perintah yang tidak sesuai dengan aqidah

إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan

11. mengembalikan segala urusan yang dihadapi semua pihak kepada Allah SWT dan hukum-Nya

©.Firman Allah SWT Qs.31:15.وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ(*)وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Cara berbuat baik pada orang tua berdasar ayat ini :

BUNYI AYAT

TARJAMAHNYA CARA BERBUAT BAIK

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Berterima kasihlah pada-Ku, karena kapadKu tempat kembali

12. mengingat jasa orang tua yang sudah bersusah payah mengurus

13. berterima kasih atas kebaikan mereka

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا

Jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku yang tidak ada padmu ilmu, janganlah kamu menaati mereka

14. boleh berbeda pendapat dengan orang tua, dan jangan mengikuti yang salahnya

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Bergaulah dengan mereka selama di dunia dengan cara yang ma’ruf

15. tetap bergaul dengan orang tua dalam urusan dunia, walau berbeda aqidah dengan mereka

 

(d)ihsan bukan hanya semasa hidup tapi juga pada orang tua yang sudah wafat.

Seorang shabat keturunan Bani Salimah bertanya kepada Rasulullah SAW apakah masih ada tanggung  jawab  ahli waris terhadap orang yang sudah  wafat ? Rasulullah SAW bersabda:

نَعَمْ، الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالإِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَانْفَاذَ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحْمِ الَّتِىلاَتُوصَلُ إِلاَّبِهِمَا وَاكْرَامُ صَدِيْقِهِمَا. رواه أبوداود والبيهقى

“Ya benar! (tanggung jawabmu terhadap mereka) yaitu  shalat dan istighfar untuk mereka, memenuhi janji mereka yang telah mereka janjikan, mempererat silaturrahim terhadap orang yang telah mareka jalin sebelumnya, dan memuliakan para sahabat mereka.

Menurut hadits ini tanggung jawab ahli warits terhadap orang yang meninggal dunia ialah: (1) Shalat dan istighfar. Yang dimaksud dengan shalat di hadits ini ialah shalat jenazah yang dilakukan sebelum mayat dikubur. Sedangkan jika mayat itu telah dikubur cukup dengan istighfar bagi mayat yaitu memohonkan ampun dan berdu’a untuk keselamatan dan kesejahteraan yang dianugerahkan Allah kepada almarhum. (2). Memenuhi janji almarhum. Jika lamarhum semasa  hidupnya telah berjanji kepada sesama manusia, baik berupa jasa ataupun utang piutang maka memenuhi janji itu  merupakan tanggung jawab ahli warisnya. (3) Mempererat silaturrahim dengan orang yang telah terjalin sebelumnya. Maksudnya ahli warits harus tetap bersilaturrahim dengan keluarga almarhum baik yang bertalian darah turunan ataupun pertalian teman sejawat. Keluarga yang paling pertama harus mendapat perhatian adalah anak yatim. (4)Memuliakan para sahabat almarhum. Salah satu tanda hormat kepada almarhum ialah menghormati para  sahabat  dan kaum kerabatnya.

Dengan demikian tanggung jawab ahli warits setelah mengubur mayat lebih banyak ditekankan pada perlakuan  baik kepada orang yang masih hidup.

2. Mengingat jasa dan berterima kasih pada orang tua yang telah mencurahkan kasih sayangnya.

3. Jiga suadh berusia empat puluh tahun, seorang anak bukan hanya hormat dan ihsan secara immateri, tapi juga membantunya secara materi.

 

c. Tanggung Jawab Orang tua terhadap anak berdasar isyarat surat al-Ahqaf:15

suarat al-Ahqaf : 15-16 ini memberi isyarat bahwa tanggung jawab orang tua terhadap anak terdiri beberapa tahap antara lain

1. sejak masa konsepsi hingga lahir seperti tersirat pada kalimat حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا pada periode ini orang tua bertangung jawab (1) menjaga keselamatan kandung, sebagaimana tersirat pada do’a hubungan suami istri بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبْ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا (2) berdo’a dan berdzikir agar berpengaruh positif pada anak yang dikandung, (3) manuhkan diri dari pengaruh negative baik jasmani maupun ruhaninya.

(2) sejak lahir hingga usia dua tahun, tersirat pada kalimat وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا antara lain (1) menjaga anak jangan sampai terpengaruh oleh factor negative baik pada jasmani maupun pada ruhaninya sebagaimana tersirat dalam do’a Rasul SAW pada bayi أُعِيذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ (2) memberi nama yang baik, menggunduli anak dan aqiqah ketika bayi berusia tujuh hari Samurah bin Jundab meriwayatkan bahwa Rasul SAW bersabda:كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ رَأسُهُ وَيُسَمَّىSetiap bayi tergadai oleh aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya, kemudian menggunduli rambut kepalanya dan memberi nama. Hr. al-Nasa’iy (215-303 H), [3] (3) menyusui anak hingga bersusia dua tahun, (4) menyapi anak yang sudah berusia lebih dari dua tahun.

3. sejak dua tahun hingga dewasa, atau usia nikah, tersirat pada kalimat حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ tugasnya antara lain مُرُوا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاء لِسَبْعِ سِنِيْنَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا  لِعَشْر سِنِيْنَ وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِيْ المَضَاجِعِ

Perintahlah anak-anakmu untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukulah mereka bila tidak mau shalat ketika berusia sepuluh tahun, pisahkanlah di antara mereka tempat tidurnya. Hr. Ahmad, Abu Daud (I h. 133) dan Al-Baihaqi (2: 268) Majah dari Ibnu Umar. [4]Implikasi hadits ini terhadap pendidikan pranikah antara lain: (1) Pendidikan ibadah harus dilakukan sejak dini, agar ketika umur anak tujuh tahun, tinggal memerintah. Bagaimana mungkin pada usia tersebut bisa diperintah jika mereka belum bisa melakukannya. (2) Shalat yang sempurna harus memenuhi syarat dan rukunnya, seperti bersih dari hadats dan najis, menutup aurat, menghadap kiblat,  membaca al-Qur’an. Semua itu harus telah diketahui sebelum berusia tujuh tahun. (3) Shaf shalat berjamaah pria berbeda dengan wanita, maka anak berusia tujuh tahun harus sudah mengetahui seks. (4) Dalam berjamaah ada tata tertib imamah, maka pendidikan kepemimpinan dilakukan sejak dini. (5) Anak yang berumur sepuluh tahun menurut hadits ini harus ditindak bila tidak disiplin dalam beribadah, serta dipisahkan tempat tidurnya. Kemudian pendidikan kedewasaan berkeluarga harus dilakukan sejak berusia sepuluh tahun sebagaimana tersirat pada Qs.4:6

4. sejak usia nikah hingga usia empat puluh tahun sebagaimana tersirat pada kalimat وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً. Membina akhlaqnya agar benar-benar mapan baik secara jasmani, ruhani maupun ekonomi. Adapun anak yang sudah berusia di atas empat puluh tahun, bukan lagi tanggung jawab orang tuanya, melainkan menjadi beban pribadinya, bahkan seharusnya menyantuni anak, istri dan orang tuanya

 



[1] Ibn al- Jauzi Zad al-Masir, juz V h.363

[2] lihat pula al-Maraghi, juz xxvI, h.17

[3] Ahmad bin Syi’ab al-Nasaiy, al-Sunan al-Kubra, (Beirut,1991 M, Dar al-Kutub), III h.77

[4]  Ahmad Bin Hanbal (124H-241H), Musnad Ahmad, (Mesir, Muassasah Qurthubah) j. 2 h. 187

4.ETIKA HUBUNGAN SEKS

Etika Hubungan Seks

 

1. Rambu-rambu Hubungan Seks

Ada beberapa ketentuan atau rambu-rambu yang berkaitan dengan jima’ yang tidak boleh dilanggar  oleh suami isteri antara lain:

a.  Jangan melakukan jima’ di kala isteri haidl atau nifas

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ الْيَهُودَ كَانُوا لاَ يَجْلِسُونَ مَعَ الْحَائِضِ فِي بَيْتٍ ولاَ يَأْكُلُونَ ولاَ يَشْرَبُونَ قَالَ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْزَلَ الله ( وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ) فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اصْنَعُوا كُلَّ شَيْءٍ إلاَّ الْجِمَاعَ *

Anas Bin Malik menerangkan bahwa orang yahudi tidak mau duduk berdekatan dengan isteri yang sedang haid, tidak pula mau makan dan minum di rumah bersamanya. Hal ini ditanyakan hukumnya kepada Rasulullah saw. Kemudian turun al-Qur’an (yang artinya) “Mereka bertanya tentang wanita yang sedang haidl, jawablah olehmu bahwa yang sedang haidl itu tidak suci, maka janganlah menggauli mereka dan seterusnya). Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Kerjakanlah apa saja (yang berkaitan dengan kehidupan suami isteri) kecuali jima’. H.R. Ibnu Majah no. 636.

Hadits dan ayat ini melarang hubungan seks dengan isteri yang sedang haidl.

Yang  terlarang dilakukan suami pada isterinya yang sedang haidl itu adalah jima’. Selain jima’, seperti makan bersama, tidur, mandi, bermesraan, tetap dibolehkan. Dalam hadits lain diterangkan oleh Aisyah, Rasul SAW. suka bermesraan dengan isterinya yang sedang haidl dan menyuruh menutupi farji.

b. Hendaklah menjaga rahasia baik sedang jima’ ataupun setelahnya

Jima’ adalah kemesraan suami isteri yang sangat rahasia, siapa pun tidak boleh mengetahuinya. Membuka rahasia intern pergaulan suami isteri, merupakan perbuatan tercela. Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

Sejelek-jelek manusia kedudukannya pada hari kiamat di sisi Allah, ialah orang yang menggauli isterinya dan isterinya melayani, kemudian ia sebarkan rahasianya.   H.R. Muslim[1] dari Abi Sa’d Al-Khudriy.

c.  Boleh bervariasi dalam berjima’ tapi tidak boleh pada dubur

Hubungan seks yang dilakukan suami isteri boleh saja bervariasi, tidak perlu monoton dalam satu teknik atau satu fose. Namun dilarang melakukan analseks, atau hubungan biologis pada dubur, sebagaimana kelakuan kaum sodom yang sangat tercela. Rasulullah SAW. bersabda:

مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا

“Terkutuklah orang yang menggauli isterinya ke dalam dubur”. H.R. Abu Daud dari Abi Hurairah.[2]

2. Adab melakukan hubungan seks

Agar hubungan seks suami-isteri itu berkualitas, baik dari sudut pemenuhan kebutuhan biologis, maupun nilai ibadah, hendaklah melalui empat fase sebagaimana diuraikan berikut:

a.  Fase Muqaddimah 

Fase ini sangat penting dilakukan, sebab akan ada pengaruhnya pada pase berikutnya. Muqaddimah yang paling baik adalah membersihkan diri terlebih dahulu seperti menggosok gigi, dan berwudlu. Selanjutnya memakai wangi-wangian dan mempercantik diri supaya meningkatkan mawaddah. Perlu diingat bahwa kebersihan, keindahan, dan wangi-wangian adalah termasuk Fithrah Islami. Kemudian berbicaralah dengan lembut dan penuh kemesraan dan rayuan. Rasulullah saw. bersabda:

وَلَيْسَ مِنَ اللَّهْوِ إِلاَّ ثَلاَثٌ تَأْدِيبُ الرَّجُلِ فَرَسَهُ وَمُلاَعَبَتُهُ امْرَأَتَهُ وَرَمْيُهُ بِقَوْسِه.

Tidak ada senda gurau (yang baik) kecuali seseorang sedang melatih berkuda, bermesraan dengan isterinya dan melatih main panah. H.R. Ahmad.[3]

Berdasar hadits ini bersenda gurau, bercengkrama dan bermain antar suami-isteri termasuk perbuatan yang terpuji. Menurut Hadits riwayat Ibn Sa’d yang  menerima  informasi dari isteri Rasul, Rasul tatkala hendak berjima’ tidak pernah melewatkan mendekap isteri  dan mengecupnya.

Dalam hadits lain ditandaskan bahwa seseorang tidak dibenarkan berjima’ langsung seperti binatang.

Rasulullah saw. mengajarkan agar dalam hubungan seks suami isteri itu diawali dengan bercumbu rayu penuh kasih sayang dan kemesraan.

وَلْيُقَدِّم التّلطُّف بِالكَلاَم والتَّقْبِيْل

“Hendaklah jima’’ itu diawali dengan penuh  kelembutan, kemesraan, dan kasih sayang dengan merayu dan bercumbu“. Ibn Majah.

Mansur Ali Nashif menganjurkan agar  menyentuh atau mencumbu anggota badan sensitif dan yang dapat  menimbulkan gairah seks misalnya kuduk dan payudara (At-Taj,II:309). Jika keduanya telah sama-sama siap dan syahwatnya telah membara, hendaklah berdu’a:

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنِي الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنِي.

Dengan nama Allah! Ya Allah jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkanlah syetan dari kami dan dari apa yang Engkau rejekikan pada  kami“.  H.R. lima  ahli Hadits dari Ibnu Abbas.[4]

Essensi du’a ini ialah melakukan hubungan seks karena Allah dan berlindung kepada-Nya dari gangguan syetan.

Du’a ini di samping berfungsi ritual ibadah, juga bermakna pendidikan seks yang suci dan halal. Suami isteri berdu’a agar dijauhkan dari syetan, juga dididik agar jima’ bukan karena syetan, dan tidak kesyetanan. Oleh karena itu lakukanlah dengan tenang. Ketenangan suami pada isteri dapat meningkatkan kekuatan mental, sekaligus menambah kekuatan tenaga dan gairah.

b. Fase Jima’

Fase ini baru bisa dilakukan apabila suami isteri betul-betul telah siap.  Dengan kata lain, jima’ dilakukan apabila keduanya telah betul-betul merasa terangsang. Tanda rangsangan antara lain, apabila laki-laki telah ereksi yang optimal, dan wanita telah menyediakan pelumas. Dengan demikian akan menemui kelancaran.

Cara melakukannya pun harus tenang dan   dengan kerjasama yang baik. Al-Qur’an menggambarkan bahwa suami isteri itu bagaikan pakaian. Firman Allah SWT:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ.

“Isterimu adalah  pakaian  bagimu  dan  kamu  adalah  pakaian bagi isterimu” . Qs. 2: 187.

Seorang suami jika beranggapan bahwa dirinya adalah pakaian isteri, maka akan berusaha untuk  memuaskan isterinya. Sang isteri pun demikian, jika beranggapan sebagai pakaian suaminya akan berusaha memberikan kepuasan pada suami. Menggunakan pakaian juga harus tenang tertib dan jangan sampai rusak apalagi robek. Dari segi lain, ayat tersebut mengandung makna bahwa jima’ itu milik bersama. Dirinya merupakan bagian dari yang lain. Betapa erat ikatan suami isteri  digambarkan oleh ayat tersebut. Jima’ adalah mengandung makna didikan bahwa dua sama dengan satu, satu sama dengan dua.

Adapun teknik melakukan jima’ boleh saja  bervariasi, asalkan pada  farji  atau vagina, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ibnu Abbas, bahwa orang Quraisy sudah  biasa  melakukan   jima’ dengan cara yang bervariasi.[5] Pada suatu waktu ada  seorang sahabat Muhajir menikah dengan wanita Anshar. Terjadi perbedaan pendapat antara suami isteri itu tatkala jima’. Suaminya menghendaki cara dan fose yang beragam. Sedangkan isterinya tidak mau, karena menurut orang Madinah tidak layak melakukan hal itu, tidak sesuai dengan budayanya. Akhirnya mereka berkonsultasi kepada Rasulullah saw. Untuk menjawab pertanyaan mereka, Rasulullah saw. membacakan ayat yang  berbunyi sebagai berikut:

 

“Isterimu adalah ladangmu garaplah ladangmu itu sesuai dengan apa yang kamu kehendaki. Kerjakanlah amal baik untuk dirimu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kelak akan menemui-Nya. Berikanlah kabar gembira pada orang-orang mu’min“. Qs. 2: 223.

Dalam riwayat lain, diterangkan bahwa   asbabun-nuzul ayat ini adalah adanya anggapan orang-orang yahudi bahwa jika bergaul sumi isteri  dari belakang, jika punya anak, maka matanya akan juling. Para shahabat bertanya kepada Rasul saw. tentang hal tersebut. Sebagai jawabannya, turunlah Qs. 2: 223 ini.[6] Ibnu Abbas menafsirkan ayat tersebut dengan menandaskan bahwa kita boleh saja jima’ sambil duduk, berdiri, berbaring, berhadapan, atau  dari belakang, asalkan pada farji isteri (al-Iklil: 36-37). Namun tentu saja semua itu harus sesuai dengan kesenangan dan kesepakatan dua belah pihak suami isteri.

c.  Fase Orgasmus

Fase inilah yang merupakan klimaks dari jima’. Fase ini diusahakan bisa dicapai oleh kedua belah pihak suami isteri. Menurut Imam Al-Ghazali,[7]  jima’ yang paling berkualitas adalah jima’ yang klimaksnya bersamaan antara suami isteri.

Keberhasilan tersebut sangat tergantung kepada  kerjasama kedua belah pihak. Namun jika orgasmus sulit dicapai secara bersamaan, usahakanlah sang suami lebih kuat dari isterinya. Artinya isteri bisa mendahului suaminya dalam orgasmus. Jika isteri mendahului suami dalam orgasmus tidak akan menimbulkan masalah, sebab wanita bisa mengalaminya beberapa kali orgasmus tiap kali  berjima’. Sedangkan suami untuk memperoleh orgasmus kedua kali membutuhkan tenggang waktu.

Suami bisa memuaskan isterinya terlebih dahulu, baru meraih kepuasan dirinya. Hal ini sebagai manifestasi dari kedudukan suami yang menjadi pemimpin dan memiliki kewibawaan. Potensi untuk itu, dimiliki seorang laki-laki. Dalam ayat waris ditandaskan:

Satu orang laki-laki sebanding dengan dua orang perempuan. Qs. 4: 11

Bila dikaji dari sudut pendidikan seks, ayat ini bisa diambil pelajaran bahwa laki-laki dapat membuat isterinya dua kali orgasmus, dalam satu kali jima’. Kaum pria juga memiliki potensi untuk memenuhi kebutuhan biologis dua orang isteri dalam satu kali jinabat.

Hal ini bisa dilakukan bila suami tidak egois, tidak  mementingkan kepuasan diri sendiri.

إذَا جَامعَ اَحَدُكُمْ أَهْلَهُ فَلْيُصَدِّقْهُ ثُمَّ إِذَا قَضَى حَاجَتَهُ قَبْلَ أَنْ تَقْضِيَ حَاجَتَهَا فَلاَ يُعَجِّلْهَا حَتَّى تَقْضِيَ حَاجَتَهَا.

“Jika  seorang  suami  berjima’ dengan isterinya, hendaklah melakukan secara benar dan dengan sebaik-baiknya. Jika dia telah terdesak untuk mencapai klimaks, maka hendaklah ia  menahan  diri, jangan melepaskannya sebelum isterinya mencapai klimaks memenuhi kepuasannya”. (Abi  Ya’la)[8]

Banyak kaum suami yang berusaha agar  dirinya mempunyai kekuatan dan daya tahan dalam berjima’ dengan menggunakan obat-obatan. Namun tidak sedikit yang gagal di samping yang berhasil. Menurut ungkapan di atas, daya  tahan seks suami  tidak terletak pada obat-obatan, tapi terletak pada daya tahan emosi. Oleh karena itu tiap suami harus percaya diri bahwa pria itu mempunyai kekuatan untuk memberikan kepuasan pada isterinya.

d. Fase akhir

Fase akhir ialah tercapainya klimaks atau   orgasmus jima’. Klimaks suami tampak sekali  karena ditandai  dengan terpancarnya air mani ke dalam vagina isterinya. Sedangkan klimaks isteri hanya bisa dibuktikan dan  dirasakan oleh dirinya sendiri, yaitu bila telah kembalinya segala organ tubuh yang semula menegang menjadi lemas, relaks,  dan sekaligus merasakan keni’matan dan kepuasan tiada tara.

Jika fase ini telah tercapai, usahakan jangan langsung tertidur. Bersihkanlah terlebih dahulu farji dan dzakarnya,  kemudian berwudlu.

Hadits dari ‘Aisyah menerangkan sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ جُنُبًا فَأَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَنَامَ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ

Hadits dari Aisyah menerangkan “Adalah Rasulullah saw. apabila junub  (habis  jima’) kemudian hendak makan atau hendak tidur suka berwudlu terlebih dahulu seperti wudlu akan  shalat”. H.R. Muslim.[9]

Dalam riwayat Abi Sa’id diterangkan bahwa Rasulullah saw. memerintah wudlu bagi yang telah berjima’, jika hendak melakukan lagi jima’ berikutnya.

إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُوْدَ فَلْيَتَوَضَّأْ بَيْنَهُمَا وُضُوءًا.    رواه مسلم

Jika salah seorang di antaramu menggauli isterinya dan hendak mengulanginya lagi, maka hendaklah berwudlu di antara keduanya. H.R. Muslim.

Bila fase terakhir ini sudah selesai, lebih baik  langsung  mandi, walaupun waktu shalat masih lama, bila tidak mandi minimal wudlu. Namun Ulama bersepakat bahwa wudlu tersebut  bukanlah kewajiban  melainkan anjuran sunnah. Alasannya, karena dalam hadits lain diterangkan bahwa  Rasulullah saw. pernah melakukan jima’ dan hanya mencuci tangan dan farjinya saja, kemudian tidur. Artinya wudlu dan mandi yang wajib setelah jima’ itu apabila akan melakukan shalat. Kewajiban mandi untuk shalat setelah jima’  tersebut berlaku mutlak, apakah jima’nya mencapai orgasmus ataukah  tidak.

عن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَا الأَرْبَعِ ثُمَّ جَهَدَهَا فَقَدْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْغُسْلُ

Hadits dari Abi Hurairah menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Jika salah seorang duduk di antara empat cabang anggota ubuh, kemudian menggauli isterinya maka wajiblah mandi. H.R. Muttafaq alaih no.196

Menurut Mansur Ali (II: 109) yang dimaksud empat cabang anggota tubuh ialah dua tangan dan dua kaki. Kalimat tersebut merupakan kinayah dari hubungan seks suami isteri.

Dalam Hadits ‘Aisyah diterangkan

إِذَا جَاوَزَ الخِتَانُ الختانَ فَقَدْ وَجَبَ الغُسْلُ فَعَلْتُهُ أنَا وَ رَسُول الله عليه وسلم فَاغْتَسَلْنَا

Jika khitan bersentuhan dengan khitan, maka wajib mandi. Aku pernah mengalaminya bersama Rasulullah saw. dan kami mandi. H.R. Tirmidzi

Hadits ini menyatakan   bahwa  jika  dua kelamin bersentuhan, maka wajib mandi walau tidak  mengeluarkan  mani (At-Taj, I: 108).

Adapun cara melakukan mandi jinabat, diriwayatkan Bukhari Muslim (Shahih Muslim Bisyarh Nawawi,III:228):

عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الْجَنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ ثُمَّ يُفْرِغُ بِيَمِينِهِ عَلَى شِمَالِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ ثُمَّ يَتَوَضَّأُ وُضُوءَهُ لِلصّلاَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ الْمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي أُصُولِ الشَّعْرِ حَتَّى إِذَا رَأَى أَنْ قَدِ اسْتَبْرَأَ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ حَفَنَاتٍ ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ

Diriwayatkan dari Aisyah r.a katanya: Apabila Rasulullah s.a.w mandi jinabat, memulakannya dengan membasuh kedua tangan. kemudian menuangkan air dengan menggunakan tangan kanan ke tangan kiri, kemudian membasuh kemaluan dan berwudlu sebagaimana yang biasa dilakukan ketika ingin mendirikan shalat. Kemudian beliau menyiram rambut sambil memasukkan jari ke pangkal rambut sehingga rata. Beliau membasuh kepala sebanyak tiga kali, seterusnya beliau membasuh seluruh tubuh secara merata dan akhirnya membersihkan kedua kaki. H.R. Muttafaq alaih 175

Dengan demikian cara mandi jinabat adalah sebagai berikut:

1)  Mencuci tangan sampai pergelangan, sambil menggosok-gosokannya kanan dan kiri.

2)  Membersihkan farji atau kelamin hingga bersih.

3)  Berwudlu sebagaimana wudlu untuk shalat.

4)  Membersihkan rambut.

5)  Menyiram rambut tiga kali.

6)  Meratakan air ke seluruh tubuh.

7)  Membersihkan kaki.

Mandi jinabat tersebut barlaku untuk bersuci dari berbagai hadats, dan beberapa kali jima’. Dengan kata lain walau melakukan jima’ beberapa kali, mandinya cukup satu kali. Perhatikan hadits berikut:

عن أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ بِغُسْلٍ وَاحِدٍ *

Anas Bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. menggauli beberapa isterinya dengan satu kali mandi.  H.R. Muttafaq Alaih no. 172

Dengan demikian seseorang boleh melakukan beberapa kali jima’, baik dengan satu isteri atau lebih, dalam satu kali mandi. Namun seperti dikemukakan di atas sebaiknya diselang cuci farji dan wudlu di antara jima’ itu.

Tampaklah bahwa jima’  yang baik itu diawali dengan membersihkan diri dan diakhiri dengan membersihkan diri pula. Oleh karena itu kehidupan yang Islami selalu menjaga kebersihan, baik lahir maupun  bathin.

Jika berhubungan seks suami isteri dilakukan secara baik, suci dan menaati etikanya, maka bukan hanya kepuasan yang dicapai, tapi juga bernilai ibadah. Suami isteri dapat meraih kebahagiaan di dunia, dan sekali gus di akhirat mendapat pahala. Itulah salah satu makna:    بيتِي جَنَّتِي    Rumahku adalah surgaku, yang menjadi semboyan rumah tangga Rasulullah saw.

Jadi atau tidaknya rumah tangga sebagai surga, sangat tergantung kepada usaha bersama suami isteri dan keluarga lainnya.

 

 



[1] shahih Muaslim, no.2597

[2] sunan Abi Dawud, no.1857

[3] Musnad Ahmad, no.1697

[4] (At-Taj,II:308 / Subussalam III: 142).

[5] (Sunan Abi Daud, II:249)

[6] (Shahih Bukhari V : 160)

[7] (Ihya Ulum al-Din, II: 52)

[8] al-Mughni, VII h.228

[9] shahih Muslim, no.461

03.MENCEGAH PENYIMPANGAN SEKS

Mencegah Penyimpangan Seks

 

A.  Beberapa Bentuk Penyimpangan Seks

Banyak bentuk penyimpangan seksual atau penyalah-gunaan seks yang terjadi di masyarakat.  Dalam  bab  ini  tidak akan diungkap secara keseluruhan, melainkan hanya  sebagiannya yang dianggap prinsipil.

Adapun bentuk penyimpangan dan penyalahgunaan seks antara lain  sebagai berikut:

1. Perzinaan

Zina ialah melakukan hubungan seksual dengan  lawan jenis secara  tidak  halal, karena tidak melalui pernikahan. Hukumnya menurut Islam, bukan hanya  haram  tapi  juga harus menerima hadd yang cukup berat.

Zina merupakan suatu perbuatan sangat keji, kotor, jorok dan tidak bermoral. Di Indonesia wanita yang suka zina dinamakan WTS (Wanita Tuna Susila) artinya wanita tidak bersusila tidak bermoral.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa zina itu fahisyah atau keji, kotor dan sa’a sabilan yang berarti jalan buruk. Firman Allah SWT:

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk. Qs.17:32

Zina bukan hanya termasuk perbuatan dosa besar, tapi juga merupakan kejahatan yang melepaskan perbedaan manusia dengan binatang. Salah satu perbedaan antara binatang dengan manusia di bidang seks adalah adanya pernikahan bagi manusia. Jika manusia berhubungan seks tanpa melalui aqad nikah, maka derajatnya sama dengan binatang. Mungkin yang demikian itu, fisiknya manusia, tapi prangainya binatang.

Allah SWT. menurunkan ketentuan hukuman bagi pezina secara bertahap, mulai dari yang ringan hingga akhirnya sangat berat.

Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa:15 Allah SWT berfirman:

 

Dan terhadap wanita yang melakukan zina, hendaklah dicari empat orang saksi diantaramu.  Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya” (Qs.4:15).

As-Syaukani,[1]  menerangkan bahwa ayat ini turun pada awal Islam sebelum diturunkan ayat yang berkaitan dengan hukuman dera bagi pezina. Hukuman zina menurut ayat ini adalah penjara kurungan  seumur hidup.

Pada ayat di atas dikemukakan :

أَوْ يَجْعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيلاً(15)

Atau sampai  Allah  memberikan jalan.

Kalimat ini menunjukkan bakal diturunkannya  ketentuan lain mengenai hukuman zina.

Pernyataan tersebut ternyata menjadi kenyataan, sebab Allah SWT. menurunkan ayat berikut:

“Wanita yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah mereka masing-masing sebanyak seratus kali. Janganlah kamu menaruh belas kasihan kepada mereka dalam menegakkan agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah dalam pelaksanaan hukuman tersebut disaksikan oleh kumpulan orang-orang mu’min“. (Qs.24:2)

Setelah surat An-Nur ini turun maka Rasulullah saw.  bersabda:

خُذُوا عَنِّي خُذُوا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلاً الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ.

Ambilah dariku ambilah dariku sungguh Allah telah menjadikan jalan, maka gadis dan jejaka yang berzina, hendaklah didera sebanyak seratus kali dan dipenjara satu tahun, sedangkan tsaib (pria wanita yang pernah nikah) yang berzina hendaklah didera seratus kali dan  dirajam (sampai mati). Hadits Riwayat Muslim.[2]

Menurut Imam Nawawi,  yang dimaksud:

قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلاً      “dengan  Allah  telah menjadikan  jalan” merupakan isyarat pada ayat  yang  telah diturunkan yaitu surat An-Nisa ayat 15. Dengan demikian hukum zina yang harus berlaku sekarang, ialah dera seratus kali dan penjara satu tahun atas jejaka dan gadis yang berzina.

Sedangkan yang pernah nikah baik laki-laki  maupun wanita yang berzina adalah dihukum mati dengan  dera dan rajam.

عن عُمَر بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : قَالَ إِنَّ اللهَ قَدْ بَعَثَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْحَقِّ وَأَنْزَلَ عَلَيْهِ الْكِتَابَ فَكَانَ مِمَّا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةُ الرَّجْمِ قَرَأْنَاهَا وَوَعَيْنَاهَا وَعَقَلْنَاهَا فَرَجَمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَجَمْنَا بَعْدَهُ فَأَخْشَى إِنْ طَالَ بِالنَّاسِ زَمَانٌ أَنْ يَقُولَ قَائِلٌ مَا نَجِدُ الرَّجْمَ فِي كِتَابِ اللهِ فَيَضِلُّوا بِتَرْكِ فَرِيضَةٍ أَنْزَلَهَا اللهُ وَإِنَّ الرَّجْمَ فِي كِتَابِ اللهِ حَقٌّ عَلَى مَنْ زَنَى إِذَا أَحْصَنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ إِذَا قَامَتِ الْبَيِّنَةُ أَوْ كَانَ الْحَبَلُ أَوِ الإِعْتِرَافُ

Diriwayatkan dari Umar bin al-Khattab r.a katanya: Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad saw. dengan kebenaran dan telah menurunkan kepadanya al-Quran. Di antara yang diturunkan kepada beliau ialah ayat hukuman rajam. Kami selalu membaca, menjaga dan memahami ayat tersebut. Rasulullah saw. telah melaksanakan hukuman rajam tersebut dan sepeninggal beliau, kami pun melaksanakan hukuman itu. Pada akhir zaman aku merasa khawatir, akan ada orang yang mengatakan: Kami tidak menemukan hukuman rajam dalam kitab Allah al-Quran sehingga mereka akan menjadi sesat karena mereka meninggalkan salah satu kewajiban yang telah diturunkan oleh Allah. Sesungguhnya hukuman rajam yang terdapat dalam kitab Allah itu mesti dilaksanakan atas pezina yang pernah menikah baik lelaki ataupun perempuan apabila terdapatnya bukti yang nyata, seperti hamil ataupun dengan pengakuan darinya sendiri * Muttafaq alaih no. 997.

Berdasar hadits ini kedudukan hukum rajam bagi pezina mukhshan (yang pernah menikah) adalah sama dengan hukum dera bagi pezina ghair mukhshan (yang belum nikah). Umar Bin Khathab merasa khawatir jika pada suatu saat banyak manusia yang menolak hukuman rajam tersebut, padahal telah ditetapkan Allah SWT. dalam kitabnya. Apa yang dikhawatirkan tersebut ternyata saat ini telah terjadi, banyak orang yang mencari alasan untuk memperingan hukuman bagi pezina. Akibatnya perzinaan merajalela, kejahatan lain pun bertambah menjadi-jadi.

Orang yang berhak menjalankan hukuman tersebut tentu saja  pihak  pengadilan.

عن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : أَتَى رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِينَ رَسُولَ اللهِِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَنَادَاهُ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي زَنَيْتُ فَأَعْرَضَ عَنْهُ فَتَنَحَّى تِلْقَاءَ وَجْهِهِ فَقَالَ لَهُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي زَنَيْتُ فَأَعْرَضَ عَنْهُ حَتَّى ثَنَى ذَلِكَ عَلَيْهِ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ فَلَمَّا شَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ دَعَاهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَبِكَ جُنُونٌ قَالَ لاَ قَالَ فَهَلْ أَحْصَنْتَ قَالَ نَعَمْ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اذْهَبُوا بِهِ فَارْجُمُوهُ*

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Seorang lelaki dari kalangan orang Islam datang kepada Rasulullah saw. ketika sedang berada di masjid. Lelaki itu memanggil: wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah melakukan zina, Rasulullah saw. berpaling darinya dan menghadapkan wajahnya ke arah lain. Lelaki itu berkata lagi: wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah melakukan zina, sekali lagi Rasulullah saw. berpaling darinya. Perkara itu berlaku sebanyak empat kali. Tatkala dia mengakui dirinya sampai empat kali, akhirnya Rasulullah saw. memanggilnya dan bersabda: Apakah kamu gila? Lelaki itu menjawab: Tidak. Rasulullah saw. bertanya lagi: Apakah kamu sudah menikah? Lelaki itu menjawab: Ya. Maka Rasulullah saw. bersabda kepada para sahabatnya: Bawalah dia pergi dan laksanakanlah hukuman rajam  atas dirinya * H.R. Muttafaq alaih no. 998

Hadits ini mengandung implikasi antara lain: (1) hukum rajam bagi pezina muhshan dijalankan di zaman Rasulullah saw., (2) diperlukan bukti yang jelas untuk memvonis hukuman, (3) bukti perbuatan dosa bisa berdasar pengakuan dirinya sendiri, (4) betapa kesadaran hukum di zaman Rasulullah saw. telah meningkat sehingga yang berbuat dosa ingin dihukum, (5) yang berhak menetapkan hukuman adalah hakim berdasar peradilan.

Hukuman bagi pezina tidak bisa diganti dengan denda atau perdamaian dalam bentuk apa pun. Hukuman zina adalah hukuman fisik sebagai bukti taubat kepada Allah SWT. atas dosa yang diperbuat. Perhatikan hadits riwayat Bukhari dan Muslim berikut:

عن أَبِي هُرَيْرَةَ وَزَيْدِ بْنِ خَالِدِ الْجُهَنِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَجُلاً مِنَ الأَعْرَابِ أَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ أَنْشُدُكَ اللَّهَ إِلاَّ قَضَيْتَ لِي بِكِتَابِ اللهِ فَقَالَ الْخَصْمُ الآخَرُ وَهُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ نَعَمْ فَاقْضِ بَيْنَنَا بِكِتَابِ اللهِ وَأْذَنْ لِي فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْ قَالَ إِنَّ ابْنِي كَانَ عَسِيفًا عَلَى هَذَا فَزَنَى بِامْرَأَتِهِ وَإِنِّي أُخْبِرْتُ أَنَّ عَلَى ابْنِي الرَّجْمَ فَافْتَدَيْتُ مِنْهُ بِمِائَةِ شَاةٍ وَوَلِيدَةٍ فَسَأَلْتُ أَهْلَ الْعِلْمِ فَأَخْبَرُونِي أَنَّمَا عَلَى ابْنِي جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ وَأَنَّ عَلَى امْرَأَةِ هَذَا الرَّجْمَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ َلأَقْضِيَنَّ بَيْنَكُمَا بِكِتَابِ اللهِ الْوَلِيدَةُ وَالْغَنَمُ رَدٌّ وَعَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ وَتَغْرِيبُ عَامٍ وَاغْدُ يَا أُنَيْسُ إِلَى امْرَأَةِ هَذَا فَإِنِ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا قَالَ فَغَدَا عَلَيْهَا فَاعْتَرَفَتْ فَأَمَرَ بِهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُجِمَتْ *

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a dan Zaid bin Khalid al-Juhani r.a kedua-duanya berkata: Sesungguhnya seorang lelaki dari kabilah al-A’rab datang kepada Rasulullah saw. dan berkata: Wahai Rasulullah! Aku datang kepadamu supaya engkau memutuskan hukuman ke padaku berdasar kitab Allah. Kemudian berkata pula seorang yang lain (yang menjadi lawannya) dia itu lebih banyak ilmu darinya. Baiklah, hukumlah antara kami berdasarkan Kitab Allah, wahai Rasulullah! Sekarang izinkanlah aku untuk menjelaskannya kepadamu. Rasulullah saw. bersabda: Katakanlah. Dia pun bercerita: Sesungguhnya anakku telah menjadi pelayan orang ini, Suatu hari anakku telah melakukan zina dengan isterinya. Aku mendapat khabar bahwa anakku itu mesti dihukum rajam. Aku akan menebusnya dengan seratus ekor kambing dan seorang hamba perempuan. Ketika hal itu aku pertanyakan kepada salah seorang yang alim, aku diberitahu bahwa anakku itu hanya dikenakan hukuman sebanyak seratus kali dera dan diasingkan selama setahun dan isteri orang inilah yang mesti dihukum rajam. Mendengar penjelasan itu, Rasulullah s.a.w lalu bersabda: Demi Zat yang jiwaku berada dalam kekuasaanNya, sesungguhnya aku akan memutuskan hukuman ke atas kamu berdasar kitab Allah (al-Quran). Seratus ekor kambing dan hamba perempuan tadi harus dikembalikan, dan anakmu mesti dihukum dera  seratus kali serta diasingkan selama setahun. Sekarang pergilah kepada isteri orang ini, wahai Unais! Jika dia mengaku, maka jatuhkanlah hukuman rajam atasnya. Maka Unais pun datang menemui wanita tersebut dan ternyata dia mengakui atas perbuatannya itu. Maka sesuai dengan perintah dari Rasulullah saw. wanita itupun dijatuhi hukuman rajam. H.R. Muttafaq aliah no.1000

Dengan demikian, perzinaan, menurut pandangan  Islam, bukan hanya sebagai perbuatan keji dan kotor, tapi   juga harus menerima hukuman yang sangat berat, yaitu dera dan penjara satu tahun bagi ghair muhshan, dan rajam hingga mati atas pezina muhshan.

Di Indonesia, secara yuridis, sebenarnya perbuatan zina itu dianggap pelanggaran yang  sangat  berat.

Dengan telah dikeluarkannya Undang-undang RI tentang perkawinan no. 1 tahun 1974 dan Undang-Undang no. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama, secara langsung maupun tidak langsung mengandung makna bahwa perzinaan itu harus diberantas di Indonesia. Zina merupakan pelanggaran hukum pernikahan.

Jika dalam Undang-undang RI no. 7/1989 tentang peradilan agama dinyatakan bahwa perkawinan, perwarisan, hibah, dan wasiat itu harus dilaksanakan berdasar Syari’ah Islam, maka pelanggarnya pun harus dihukum berdasar syari’ah Islam.

2. Ityanul-Baha’im

إتيان البهائم      atau Bestiality ialah bersetubuh dengan binatang. Perbuatan semacam ini sangat tercela sebab telah bertentangan  dengan fitrah manusia.

Ulama fiqih seperti Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali bersepakat bahwa orang yang melakukan bestiality harus dihukum ta’zir. Ringan atau beratnya ta’zir tersebut tergantung bobot perbuatannya menurut ijtihad hakim yang muslim. Namun ulama lain ada yang berpendapat harus dihukum berat berdasar pada  hadits yang berbunyi:

مَن أتَى بَهِيْمَةً فَاقْتُلُوْهُ وَاقْتُلُوْا الْبَهِيْمَةَ.

“Barangsiapa yang menyetubuhi binatang maka  bunuhlah dan bunuh pula binatangnya“. Hadits ini  diriwayatkan oleh empat ahli hadits, tapi dianggap dlaif oleh Abu Daud.

Terlepas dari itu, yang jelas hukum  bestiality haram menurut Islam, sebab siapa pun tidak dihalalkan menyalurkan seksualnya kecuali melalui hubungan  suami isteri  (lihat kembali Qs.23: 5 dan 6).

Dengan demikian menggauli binatang, dipandang    Islam sebagai perbuatan yang keji, kotor dan dosa.

3. Homoseksual dan Lesbi

Homoseksual ialah melakukan aktifitas seksual dengan sejenis. Jika wanita sesama wanita dinamakan Lesbian. Hukuman bagi yang melakukan ini adalah sama dengan  zina. Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا جَاءَ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فَهُمَا زَانِيَانِ وَإِذَا أَتَتِ الْمَرْأَةُ الْمَرْأَةَ فَهُمَا زَانِيَتَان.ِ

Jika seorang laki-laki bersetubuh dengan laki-laki  maka hukumnya sama dengan zina. Jika seorang wanita bersetubuh dengan sesama wanita maka sama dengan zina”. Hr. Al-Baiyhaqi. dari Abu Musa Al- Asy’ari.[3]

Menurut Imam Syafi’iy, Maliki dan Hanbali, berdasar hadits ini, hukuman bagi homoseksual adalah sama dengan hukuman bagi yang zina. Namun menurut Abu Hanifah, hukuman bagi homoseks adalah ta’zir, dan tidak sama dengan zina. Yang dimaksud homoseks sama dengan zina, menurut beliau, sebagaimana dikemukakan dalam hadits itu adalah hukumnya sama haram, sedangkan sanksinya tidak sama. Larangan homoseks tidak diragukan lagi, sebab  bukan hanya tertera dalam Hadits, tapi juga dalam al-Qur’an. Al-Qur’an mengecam keras kaum Luth yang melakukan homoseksual sebagai perbuatan keji dan keterlaluan.

 

Mengapa kamu menggauli sejenis jenis lelaki di antara manusia, dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas dan keterlaluan“.Qs.26:165-166

Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa kaum Luth yang melakukan homoseks sudah melanggar batas kemanusiaan.

Rasulullah saw. juga melarang wanita tidur dengan wanita lain dan laki-laki tiduran bersama laki-laki, dalam satu selimut apalagi tanpa busana. Dari Abi Sa’id al-Khudriy diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

لاَيُفْضِي الرَّجُلُ بِالرّجُلِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ وَلاَ تقْضِي المَرْأَةُ إِلِى المَرْأَةِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ.

Seorang laki-laki tidak dibenarkan tiduran bersama laki-laki dalam satu pakaian. Seorang perempuan tidak dibenarkan tiduran bersama perempuan dalam satu pakaian. H.R. Empat Ahli Hadits/[4]

4. Jima’ waktu haidl

Melakukan hubungan seksual dengan isteri yang sedang haidl termasuk pelanggaran yang hukumnya haram menurut Islam. Darah haidl yang keluar dari vagina perempuan adalah kotor dan najis. Sedangkan Islam selalu  mengajarkan kebersihan.

Anas Bin Malik  menerangkan bahwa orang-orang yahudi tidak mau tidur bersama,   makan bersama dengan isterinya yang sedang  haidl.[5] Para   sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. tentang hukum menggauli isterinya yang sedang haidl.

Allah SWT menurunkan wahyu:

 

Mereka bertanya kepadamu tentang haidl. Jawablah bahwa darah haidl itu tidak suci. Maka hindarilah dari menggauli wanita yang sedang haidl. Janganlah kamu mendekati untuk jima’’ dengan mereka  sehingga mereka bersih. Jika mereka telah bersuci  maka gaulilah mereka sesuai dengan apa yang telah Allah perintahkan pada kamu. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang suka taubat dan orang yang bersuci. (Qs.2:222).

Ayat ini dengan tegas melarang menggauli isteri  yang sedang haidl. Larangan tersebut, bahkan sempat menimbulkan tanda tanya bagi para sahabat Nabi, apakah kaum muslimin pun sama seperti orang yahudi?

Tatkala dikonsultasikan kepada Rasulullah saw., ternyata yang dilarang itu hanyalah farji atau vagina.  Rasulullah saw. menandaskan:

إِصْنَعُوْا كُلَّ شَيْءٍ إلاَّ الجِمَاع.

Lakukanlah apa saja dengan isteri yang sedang haidl itu selain jima’’ / senggama” (H.R. Muslim).[6]

Siti Aisyah menerangkan bahwa Rasulullah saw., jika isterinya sedang haidl suka bergaul dengan menutupi apa yang ada di antara pusat dan lutut (Shahih Muslim,I:137).

Pada ayat di atas ditegaskan bahwa bolehnya bergaul setelah isterinya suci. Hal ini menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Imam Syafi’i berpendirian bahwa isteri habis haidl hanya boleh digauli setelah suci dan mandi jinabat.

Sedangkan Imam Hanafi berpendirian bahwa jika telah berhenti haidl boleh saja digauli walau belum mandi asalkan farjinya dibersihkan terlebih dahulu.[7]

Perbedaan pendapat tersebut muncul sebagai akibat dari perbedaan memahami perkataan   يطهرن     yang tercantum pada ayat 222 surat al-Baqarah di atas. Jika akan mengambil yang lebih hati-hati adalah mandi terlebih dahulu, bukan hanya bersih tapi juga lebih mesra dan mawaddah.

Manusia terkadang lupa atau terlanjur berbuat salah. Demikian pula dalam menggauli isteri yang sedang haidl.  Kesalahan itu bisa terjadi apakah diakibatkan tidak  mengetahui apakah dalam vagina itu sedang keluar  darah haidl ataukah tidak. Mungkin juga diperkirakan telah berhenti haidl, tapi ternyata  darah haidl itu keluar sedang berjima’’. Jika kejadian demikian maka kesalahannya bisa diampuni dengan syarat membayar kifarat.

Ibnu Abbas menerangkan bahwa Rasulullah saw.  tatkala ditanya tentang orang yang terlanjur menggauli isteri  yang haidl, menandaskan:

 

يَتَصَدَّقُ بِدِيْنَارٍ اَوْبِنِصْفِ دِيْنَارٍ.

Hendaklah ia bersedekah sebanyak satu dinar atau setengah dinar”. Hadits Riwayat Para penyusun kitab As-Sunan, yang menurut Abu Daud adalah Shahih.[8]

Menurut Ibnu Abbas hadits tersebut bisa ditarik kesmpulan:

Jika terlanjur menggaulinya tatkala awal darah keluar, maka kifaratnya satu dinar, dan jika pada waktu perkiraan berhenti haidl, kifaratnya setengah dinar (Sunan Abi Daud,  hadits nomor 265).

Yang dimaksud dengan awal darah ialah tatkala  perkiraan suami isteri belum waktunya haidl, tapi ternyata ditemukan darah haidl waktu jima’’ atau selesainya.  Sedangkan akhir haidl berarti tatkala perkiraan suami isteri sudah suci, tapi ternyata masih haidl. Kifarat sedekah ialah memberikan santunan kepada faqir dan miskin. Sedangkan jumlah satu atau setengah dinar dapat dihitung kursnya dengan valas. Yang jelas dinar di zaman Rasulullah saw. adalah uang emas. Menurut Yusuf Qardlawi (Fiqhuz-Zakat), satu dinar emas itu bila ditimbang adalah seberat 4.25 (empat koma dua puluh lima) gram. Dengan demikian untuk menetapkan kifarat, tinggal melihat harga emas yang berlaku ketika pelanggaran.

5. Perkosaan

Perkosaan ialah menggauli wanita secara paksa. Jika yang diperkosa itu bukan isteri, tentu saja hukumannya  bukan hanya hadduz- zina (dera bagi ghair muhshan atau rajam bagi pezina muhshan) tapi juga hukuman pemaksaan. Pemerkosa wanita yang bukan isterinya bisa dihukum mati, karena gabungan dari rajam sebagai had zina, dan qishas sebagai hukuman menyiksa.

Bagaimana hukumnya memperkosa isteri sendiri?

Telah dijelaskan di atas, Islam mengajarkan bahwa  jima’’ itu bukan hanya untuk kepentingan dan kesenangan sepihak tapi untuk kepentingan dan kesenangan bersama suami isteri. Rasulullah saw. mengajarkan agar jima’’ itu dilakukan dengan cara lemah lembut, penuh kasih sayang dan kemesraan. Supaya tidak terjadi perkosaan terhadap isteri, maka mereka harus selalu menyiapkan diri untuk saling melayani.

6. Necrophilia

Necrophilia ialah bersenggama dengan mayit. Hukum melakukan yang demikian adalah haram, walau pada mayit isteri sendiri, sebab Islam mengajarkan bahwa mayit itu harus dihormati. Jangankan menggauli mayit, memandikannya pun harus secara lemah lembut. Melihat aurat mayat pun sama dengan melihat aurat orang hidup (lihat kembali hadits yang melarang menyingkapkan paha).

Merusak mayat, hukumnya sama dengan merusak orang hidup.

Hukuman bagi yang menggauli mayit, menurut Malikiyah adalah sama dengan hadd bagi yang zina (Wahbah  Al-Zuhali, Al-Fiqhul-Islamy, VII: 67).

Ulama lain berpendapat bahwa hukum meninggal  adalah sama dengan bercerai, hanya masih boleh memandikannya. Oleh karena itu menggauli mayit, tetap diharamkan.

7. Pornography

Pornography ialah memenuhi kebutuhan seks dengan melihat gambar porno, cabul, atau membaca cerita-cerita porno. Jika tidak dilanjutkan dengan jima’’ bersama isterinya, tentu saja perbuatan semacam ini termasuk pada Zinatun Nafs, zina khayalan dalam hati. Rasul bersabda:

وَزِنَا اللِّسَانِ النُّطْقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي.

Zina lisan adalah ngobrol syahwat dan zina hati ialah melamun dan menghayal. Muttafaq alih

Pornography, bila dilakukan oleh orang yang tidak bersuami-isteri akan menimbulkan khayalan yang tidak tersalurkan dan lamunan yang tidak karuan.

Melihat gambar, memang tidak sama hukumnya dengan melihat langsung. Namun jika menimbulkan yang negatif, maka harus benar-benar dijauhi; terutama oleh yang tidak bersuami isteri.

Saat ini telah terlihat bukti-bukti betapa banyak dampak negatif dari pornografi ini, baik bagi kaum remaja atau pun kaum tua. Pemberantasan pornografi harus dilakukan secara simultan, mulai dari produser, konsumen, sampai pada pengedar. Melihat gambar porno, juga secara tidak langsung menyetujui orang lain yang memperlihatkan auratnya. Menyetujui orang yang berbuat salah, termasuk kesalahan juga.

8. Analseks

Analseks atau seksualanalism ialah memuaskan dan memenuhi kebutuhan seksual melalui lubang dubur, apakah dengan isteri, ataupun  dengan  sejenis.

Jika dilakukan dengan sejenis tidak hanya termasuk   pada analseks tapi juga termasuk pada homoseksual.  Hukum analseks adalah haram, meskipun dilakukan oleh suami isteri. Rasul saw. bersabda:

مَلْعُوْنٌ مَنْ أَتَى إمْرَأَةً فِي دُبُرِهَا.

Terkutuklah orang yang menggauli dubur isterinya. H.R.Para Penyusun Kitab Sunan (At-Taj,II:309).

9. Scoptophilia

Scoptophilia ialah memuaskan nafsu seks melalui cara melihat orang lain yang sedang bersenggama, atau dengan  cara melihat alat kelamin orang lain. Scoptophilia juga bisa berbentuk menonton film cabul atau ngintip lawan jenis sedang mandi.

Perbuatan semacam ini termasuk tercela. Firman  Allah SWT. surat An-Nur ayat 30-31 tidak hanya melarang memperlihatkan aurat, tapi juga melarang  melihat aurat.

Melihat orang yang berjima’’ juga termasuk zina mata. Rasulullah saw. bersabda:

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ النُّطْقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ *متفق عليه

Dari Abi Hurairah, Sesungguhnya Nabi saw.  bersabda: ”Sesungguhnya Allah telah mencatat atas anak cucu Adam kecenderungan berzina yang sulit terelakan. Zina mata adalah memandang. Zina lisan adalah ngobrol. Sedangkan zina hati adalah melamun dan mencita-citakan. Kelamin bisa membenarkan hal itu, bisa juga mendustakannya. Muttafaq alaih.

Orang yang sedang senggama jelas termasuk aurat jika dilihat. Rasul saw. juga memerintah agar setiap jima’’ selalu tertutup dan bersembunyi jangan sampai ada orang yang melihatnya. Melihat aurat sama dosanya dengan memperlihatkan aurat. Orang yang boleh melihat aurat berupa kelamin hanyalah suami isteri.

10.    Voyeurisme

Voyeurisme ialah memenuhi kebutuhan seksual dengan  melihat atau mengintip lawan jenis yang sedang telanjang, atau mencari-cari kesempatan untuk melihat wanita yang tersingkap auratnya. Perbuatan semacam ini jika dilakukan pada bukan isteri atau suami, adalah termasuk zina mata (perhatikan kembali hadits di atas). Surat An-Nur 30-31pun berisi perintah untuk menahan pandangan.

Jangankan melihat auratnya, melihat wajah lawan   jenis pun andaikata disertai dengan syahwat adalah dilarang. Perhatikan nasihat Rasulullah saw. kepada Ali Bin Abi Thalib:

يَا عَلي لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَة النظْرَة فَإنَّ لَكَ اْلاُولىَ وَلَيْسَتْ لَكَ اْلآخِرَة.

Wahai Ali, Janganlah pandangan pertama pada lawan jenismu diikuti dengan pandangan berikutnya. Hakmu  hanyalah pandangan yang pertama, sedangkan yang kedua bukanlah hakmu” (H.R. Abu Daud dan Turmudzi)

Hadits ini melarang untuk memperhatikan aurat orang lain. Namun kalau yang dilihat itu isteri sendiri, tidaklah termasuk pada larangan ini.

11.    Pamer Aurat (كَشْفُ العورة)

Kasyful-’Aurah atau Exhibitionisme ialah memenuhi kebutuhan seksual dengan memperlihatkan auratnya. Penyimpangan semacam ini ada yang sampai ke tarap kronis, yaitu senang memperlihatkan kelamin diri sendiri. Dia merasa puas jika kelaminnya dilihat lawan jenis. Namun ada pula yang baru sampai tarap rendah, yaitu yang senang memperlihatkan kemolekan tubuhnya yang menawan, merasa puas apabila lawan jenis memujinya. Pakaiannya pun dirancang sedemikian rupa supaya dipandang seksi oleh lawan jenisnya. Aliran exhibitionisme, saat ini telah merajalela terutama di kalangan kaum wanita yang merasa senang memperlihatkan dada dan pusarnya. Kedua anggota tubuh tersebut termasuk alat seks wanita.

Menurut Islam perbuatan semacam ini termasuk  memperlihatkan aurat. Al-Qur’an surat An-Nur ayat 31  memerintah kaum wanita untuk menutup aurat. Oleh karena itu memperlihatkan aurat adalah sama dengan  menentang aturan Allah SWT yang hukumnya dosa besar. Rasulullah saw. bersabda:

لاَتَنْكَشِفْ فَحْدَكَ وَلاَتَنْظُرْ إِلَى فَحْدِ حَيٍّ وَلاَمَيِّتٍ.

Janganlah kau singkapkan pahamu, dan jangan pula kau lihat paha orang lain baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati”. H.R. Abu Daud dan Hakim (At-Taj,II:157) dari Ali Bin Abi Thalib.

Hadits ini melarang untuk meperlihatkan aurat atau  melihat aurat. Memperlihatkan aurat, merupakan penyimpangan seks yang cukup berat akibatnya di akhirat. Rasulullah saw. bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَ هُمَا بَعْد : قوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ البَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ وَ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ البُحْتِ المَائِلَةِ لاَيَدْخُلْنَ الجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا

Dua golongan manusia dari ahli neraka yang tidak pernah aku lihat setelahnya (karena berat siksaannya bagi mereka); golongan pembawa cemeti seperti ekor sapi dan memukulkannya kepada manusia dan kaum wanita yang berpakaian tapi telanjang, menyeleweng dan suka menggoda, menggerakan kepala mereka seperti unta yang condong. Mereka tidak akan masuk surga bahkan tidak bisa mencium harumnya, padahal harum surga sangat semerbak terhirup dari kejahuan dari jarak sana-sini. H.R. Ahmad dan Muslim.

Betapa malangnya nasib kaum wanita yang suka mempamerkan auratnya di depan umum. Mereka jangankan masuk surga, menghirup anginya pun tak kesampaian.

12.    Sadisme

Sadisme ialah membangkitkan nafsu syahwat dengan  menyiksa atau mencaci maki isterinya. Penyimpangan semacam ini harus dijauhi dan  bila sudah jadi penyakit, harus segera disembuhkan, sebab membahayakan pasangannya. Rasulullah saw. melarang melakukan kekerasan terhadap isteri lemudian menggaulinya. Beliau bersabda:

لاَيَجْلدُ أَحَدُكُمْ جَلْدَ العَبْد ثُمَّ يُجَامِعُهَا فِيْ آخِرِ اليَوْم

Janganlah sekali-kali seseorang memukul isterinya seperti pada hamba sahaya, kemudian menggaulinya di akhir hari. H.R. Bukhari Muslim.

Dalam satu riwayat redaksinya     فِي آخِر الليل     di akhir malam.

Hadits ini melarang keras melakukan kekerasan terhadap isteri, yang kemudian berhubungan seks. Dengan demikian sadisme dalam kehidupan seks tidak dibenarkan Islam. Rasulullah saw. mengajarkan agar dalam hubungan seks suami isteri itu dilakukan dengan penuh kasih sayang dan kemesraan.

وَلْيُقَدِّم التّلطُّف بِالكَلاَم والتَّقْبِيْل

“Hendaklah jima’’ itu diawali dengan penuh  kelembutan dalam bicara dan berkecupan“. (Ibn Majah).

13.    Onani dan masturbasi

Onani atau masturbasi ialah memuaskan kebutuhan seks dengan usaha diri sendiri tanpa orang lain. Laki-laki biasanya mulai dengan mempermainkan penisnya hingga berdiri tegang dan berakhir dengan mengeluarkan  air mani.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama   tentang hukum melakukan onani. Sebagian ulama  membolehkannya jika dilakukan sebelum menikah, sebagian lagi mengharamkannya.

Alasan yang melarang ialah firman Allah SWT:

Orang mu’min itu selalu menjaga kesucian farjinya kecuali kepada isteri dan hamba sahayanya. Yang demikian  itu tidak tercela“. Qs.23: 5-6.

Ayat ini menunjukkan bahwa orang mu’min itu tidak  pernah memenuhi kebutuhan seksnya, kecuali dalam  kehidupan suami isteri. Suami tidak menyalurkan seks selain kepada isterinya. Isteri pun tidak menyalurkan seksnya selain kepada suami. Walau dalam ayat itu tersurat adanya hamba sahaya, pada dasarnya isteri juga, sebab dengan menggaulinya sama dengan menikahinya.

Ayat ini secara tersirat melarang untuk memenuhi kebutuhan seks selain suami dengan isteri.

Ulama memandang  bahwa onani itu membahayakan ruhani, sebab menimbulkan kebiasaan yang buruk. Orang yang onani mempunyai kecenderungan  ingin agar air mani itu cepat keluar. Hal ini akan menimbulkan kebiasaan. Kebiasaan adalah salah satu manifestsi belajar. Jika ia senang melakukan onani, maka akan tertanam kebiasaan memuaskan dirinya sendiri. Nantinya pun akan sulit mengendalikan emosi dalam hubungan seks dengan isterinya. Akibatnya dia akan selalu orgasmus mendahului isterinya yang membuat kekecewaan. Itulah sebabnya banyak pria yang suka onani, tak mampu membahagiakan isterinya di bidang seksual.

Dari segi lain onani atau masturbasi yang dilakukan wanita, mengakibatkan egois dalam memenuhi kebutuhan seks yang kurang menghiraukan orang lain. Sedangkan Islam mengajarkan agar hubungan suami isteri itu mencapai klimaks  bersama suami isteri.

Onani, juga bisa menimbulkan perasaan puas atas diri sendiri. Akibatnya gairah pada isteri/suami bisa hilang. Itulah sebabnya Rasulullah saw. melarang melakukan onani atau masturbasi, sabdanya:

لَعَنَ اللهُ نَاكِحَ يَدَهُ

Allah memurkai orang yang menikah dengan tangannya” (At-Taj,II: 277).

Hadits ini melarang orang yang nikah dengan tangan. Yang dimaksud dengan “menikah”  pada  hadis  ini  ialah memenuhi kebutuhan seksual.

Adapun ulama yang membolehkannya ialah hanya di kala terpaksa, daripada berbuat zina.

Yang dimaksud terpaksa ialah seperti suami jauh dari isteri, atau isteri jauh dari suami. Tidak ada jalan lain kecuali melakukan hal itu daripada zina, maka dilakukan masturbasi atau onani.

Adapun memenuhi kebutuhan seks tanpa jima’, tapi dilakukan bersama suami isteri, tidaklah termasuk pada onani atau masturbasi yang dilarang. Seperti telah dikemukan di atas, Rasulullah saw. bila ingin bergaul dengan isterinya yang sedang haidl, cukup menutupi apa yang ada di antara pusar dan lutut. Dengan demikian, tidak ada larangan bagi isteri yang sedang haidl, memenuhi kebutuhan seks suaminya dengan tangan atau anggota badan lain, selain farjinya.

14.    Oralseks

Oralseks ialah memuaskan kebutuhan seks dengan  cara merangsang kelamin partnernya melalui oral atau mulut.  Jika dilakukan bukan sesama suami isteri tentu saja sangat dilarang, sebab bukan hanya memperlihatkan aurat tapi juga  tergolong kepada homoseks atau lesbian. Apalagi kalau dilakukan dengan lawan jenis bukan isteri, tentu  saja termasuk zina.

Adapun hukum melakukan oralseks bersama suami  isteri, di kalangan ulama terdapat perbedaan pendapat.  Pendapat pertama melarangnya, dan pendapat lain membolehkannya. Hal yang menimbulkan perbedaan    pendapat tersebut adalah terletak pada pemahaman mereka atas firman Allah SWT. sebagai berikut:

فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللهُ

“Jika isterimu telah suci dari haidl, maka gaulilah mereka itu sebagaimana Allah telah perintahkan padamu”. Qs.2:222.

Ayat ini menunjukkan perintah sesuai dengan apa  yang diajarkan Allah SWT. Inilah yang  dijadikan  alasan   oleh ulama yang melarang oralseks. Menurutnya, yang diperbolehkan itu hanya yang diajarkan Allah SWT., yaitu melalui farji.

Sedangkan yang membolehkannya, mengambil alasan firman Allah SWT:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ

“Isterimu adalah ladangmu, garaplah ladangmu itu sesuai dengan keinginanmu“. Qs. 2: 223.

Ayat ini menunjukkan adanya  kebolehan untuk bergaul suami isteri sesuai dengan  keinginan atau kesenangannya. Tidak perkecualian pada ayat  itu memakai oral. Tidak tampak larangan  yang mantuq, atau tersurat atas oralseks. Menurut mereka, tidak ada ayat atau pun hadits yang melarang langsung untuk melakukan oralseks antara suami isteri. Yang ada larangannya adalah analseks, sebagaimana diungkap di atas. Dalam kitab Al-Jami li-Ahkamil-Qur’an  (XII: 232) karya Imam al-Qurthubi, berkaitan dengan hukum suami oralseks dengan isterinya, ditandaskan :

وَيَجُوز لَهُ أَنْ يلْحِسهُ بِلسَانِه     tak mengapa suami menjilati farji isterinya. Demikian, menurut ulama yang membolehkannya

15.    Transvestisme

Transvestisme ialah memuaskan seks dengan cara  memakai pakaian lawan jenisnya. Laki-laki yang senang  mamakai busana dan berdandan gaya perempuan atau  perempuan senang memakai pakaian atau berdandan gaya laki-laki, itulah transvestisme. Penyimpangan semacam ini tidak dibenarkan  Islam. Rasulullah saw. menandaskan:

لَعَنَ اللهُ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لَبسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لَبْسَةَ الرَّجُلِ.

Allah mengutuk laki-laki yang berpakaian dengan pakaian wanita dan mengutuk wanita yang berpakaian  laki-laki” H.R. Abu Daud dan Hakim dari  Abu  Hurairah  (Al-Jami- Ushshaghir:262).

Hadits ini melarang laki-laki berpakaian wanita dan wanita berpakaian laki-laki. Dalam Hadits lain dikatakan bahwa Allah mengutuk pria yang menyerupai wanita  dan  wanita yang menyerupai pria.

Saat ini penyimpangan seks berupa Transvestisme telah merajalela, terutama pengaruh media masa televisi yang sering menayangkan waria. Sinetron atau acara lawak yang selalu menampilkan pria berpakaian wanita atau sebaliknya harus segera dihentikan.

B. Cara Mencegah Penyimpangan Seks

Memperhatikan uraian di atas, penyimpangan seks itu ada yang dilarang keras, ada pula yang masih ditolelir. Penyimpangan seks yang dilarang Islam, tentu saja harus dicegah dan dijauhi. Banyak langkah yang harus ditempuh dalam mencegah penyimpangan seks antara lain sebagai berikut:

1. Menanamkan iman

Telah dijelaskan pada pembahasan terdahulu bahwa Iman satu-satunya pengendali diri yang ampuh dalam mencegah perbuatan ma’shiat. Jika iman telah kokoh dan kuat, insya Allah akan mampu memfilter mana yang mesti dijauhi dan mana yang bisa dilakukan. Perhatikan kembali peristiwa Yusuf di atas.

Orang yang kuat imannya tidak akan melakukan pelanggaran dalam bentuk apa pun. Rasulullah saw. bersabda:

عن أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلاَ يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلاَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ . متفق عليه

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda: Seseorang tidak akan berzina jika  ia seorang mu’min. Seseorang tidak akan mencuri jika ia mu’min. Begitu juga seseorang tidak akan meminum khamr jika dia seorang mu’min. H.R. Muttafaq aliah hadits no. 36

Hadits ini menjadi jaminan jika seseorang tetap dalam keimanan yang sempurna, tidak akan melakukan pelanggaran atau penyimpangan baik dalam memenuhi kebutuhan seks seperti zina, dalam kebutuhan perut seperti khamr, maupun dalam mencari harta seperti mencuri.

Jika orang mengaku iman, tapi melakukan penyimpangan, berarti imannya belum kuat dan belum sempurna.

Oleh karena itu meningkatkan iman, merupakan solusi menjauhi penyimpangan.

 

2. Menahan pandangan

 

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Qs. An-Nur: 30

Mata cukup besar peranannya dalam menimbulkan godaan dari lawan jenis. Melalui pandangan, hati bisa terpikat. Semakin banyak melihat lawan jenis semakin banyak godaan. Ayat di atas memerintahkan orang mu’min agar pandai menahan pandangan dan menjaga kesucian farji. Asy-Syaukani menandaskan bahwa menjaga kesuci-an farji harus dimulai dengan memelihara penglihatan.  Itulah  maknanya mengapa al-Qur’an surat An-Nur 30-31 memerintah memelihara farji diawali dengan memerintah menahan pandangan (Fat-hul-Qadir, VI:23). Jarir Bin Abdillah mengisahkan bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang melihat kecantikan wanita secara sepintas, beliau bersabda:

إِصرِفْ بَصَرَكَ

Palingkanlah penglihatanmu pada yang lain. H.R. Lima Ahli Hadits selain Bukhari.

Ali Bin Abi Thalib pernah menerima nasihat Rasulullah saw. sebagai berikut:

يَا عَلِيُّ لاَ تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الاُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الآخِرَةُ.

Wahai Ali! Janganlah pandangan pertama itu diikuti oleh pandangan berikutnya. Sesungguhnya bagimu hanya pandangan yang pertama, tidak halal bagimu pandangan yang berikutnya. H.R. Abu Daud.[9]

3. Menghindari hulwat dengan ghair muhrim

Hulwat ialah konsentrasi berdua antara pria dengan  wanita yang bukan suami-isteri. Istilah lain untuk hulwat yang berkembang di masyarakat adalah pacaran.

Rasulullah saw. bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إلاَّ كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ.

“Tidak ada seorang pria yang berhulwat  dengan seorang wanita, kecuali yang ketiganya adalah syetan“.  H.R. Tirmidzi .[10]

Hadits ini menunjukkan bahwa setiap ghair mahram lawan jenis berdua-duaan, akan ada yang ketiga yaitu syetan. Syetan ialah penggoda dan pendorong penyimpangan dalam segala aspek kehidupan. Oleh karena itu untuk mencegah penyimpangan seks, dilarang berduaan atau konsentrasi berdua dengan lawan jenis tanpa ada orang yang ketiga.

عن ابن عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَقُولُ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُو مَحْرَمٍ وَلاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ.

Ibnu Abbas berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda ketika berkhuthbah: “janganlah seorang laki-laki berkhulwat dengan dengan perempuan tanpa beserta mahramnya. Jangan pula seorang perempuan bepergian tanpa disertai mahramnya. H.R. Muttafaq Alaih

Kaum wanita oleh hadits ini dianjurkan agar selalu memiliki pengawalan. Tak sembarangan laki-laki bisa berduaan dengan wanita muslimah. Dengan adanya pengawalan, kaum wanita akan semakin meningkat derajatnya. Sebaliknya jika kaum wanita terlalu berani berpisah dengan mahramnya, akan semakin banyak menghadapi tantangan. Al-Islam menganjurkan adanya pengawalan bagi kaum wanita, bukan untuk membatasi ruang geraknya, tapi justru untuk menjaga kemuliaan dan derajatnya, agar terbebas dari penyimpangan seks.

4. Menutup aurat

 

Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. Qs. al-Ahzab: 59

Ayat ini dengan tegas memerintah agar kaum wanita menutupi auratnya. Aurat wanita ialah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Fungsi menutup aurat menurut ayat tersebut antara lain (1) untuk membedakan antara muslimah dengan non muslim, (2) menangkal gangguan lawan jenis.

Dengan demikian salah satu usaha mencegah penyimpangan seks adalah menutup aurat. Orang yang harus menutupi aurat, bukan hanya kaum wanita, tapi juga kaum pria. Namun aurat pria berbeda dengan aurat wanita.

Aurat pria adalah antara pusat dan lutut, sedangkan aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan.

5. Menertibkan kamar tidur

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah shalat Isya’. (Itulah) tiga `aurat bagi kamu. Qs. An-Nur: 58

Berdasar ayat ini, anak, hamba sahaya atau pun pembantu yang belum baligh, tidak boleh memasuki kamar suami isteri terutama pada waktu zhuhur, dan malam hingga terbit fajar. Sedangkan yang sudah baligh selama-lamanya tidak boleh memasuki kamar suami isteri. Dengan demikian di sebuah rumah itu harus terdapat kamar khusus suami isteri yang tidak boleh dimasuki oleh siapa pun selain mereka berdua. Hal ini untuk mencegah penyimpangan seks yang diakibatkan oleh interaksinya seorang suami atau isteri dengan yang lain.

Ayat tersebut juga mengandung bimbingan antara lain:

1) Anak harus dilatih disiplin sejak dini dalam mentaati etika berumah tangga.

2) Etika rumah tangga ditetapkan: (a) terpisahnya antara kamar orang tua dengan anak, (b) anak kecil dibolehkan masuk kamar orang tua di luar waktu malam dan tengah hari, (c) setiap anggota keluarga harus berusaha saling membantu dan saling melayani keperluan anggotanya sesuai hak dan tanggung jawab masing-masing, tapi tetap mentaati tata kesopanan dan etika rumah tangga.

6. Membedakan penampilan

لَعَنَ الله المُتَشَابِهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرَّجُلِ وَالمُتَشَابِهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ.

Allah SWT mengutuk kaum wanita yang sengaja menyerupai pria dan kaum pria yang sengaja berusaha menyerupai kaum wanita. H.R. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas.

Hadits ini mendidik pria agar benar-benar berpenampilan  laki-laki,   dan   wanita   pun    benar-benar

berpenampilan perempuan.

Tampak sekali bagaimana batasan aurat wanita sangat berbeda dengan batasan aurat pria. Hal ini  akan mencegah dari perbuatan homoseksual  dan lesbian.

Jadi membedakan penampilan bukan hanya berfungsi untuk keindahan, tapi juga mencegah penyakit penyimpangan seksual.

7. Jangan berpakaian lawan jenis

Abu Hurairah meriwayatkan:

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ *

Rasulullah saw. mengutuk laki-laki yang berpakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria. H.R. Abu Daud.[11]

Hadits ini dengan tegas bahwa pakaian wanita harus beda dengan pakaian pria. Pria tidak boleh berpakaian wanita, wanita tidak boleh berpakian pria.

Di antara bentuk peyimpangan seks ialah Transvestisme yaitu senang memakai pakaian lawan jenisnya guna memenuhi syahwatnya. Penyimpangan semacam ini kalau dibiarkan akan berbahaya, sebab menjurus kepada lesbi atau homoseks. Oleh karena itu harus dicegah sejak dini mulai dari cara berpakaian dan berpenampilan. Rasulullah mangajarkan bahwa pria harus berpenampilan pria, wanita pun harus benar-benar berpenampilan wanita sehingga tampak perbedaan di antara mereka. Ibnu Abbas menerangkan:

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ*

Rasulullah saw. mengutuk kaum pria yang meniru kaum wanita  dan mengutuk kaum wanita yang meniru kaum pria” H.R. Ahmad,  Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu  Majah

Dalam Hadits lain dikatakan bahwa Allah mengutuk wanita pura-pura jadi pria, dan pria   yang pura-pura jadi wanita (H.R. Bukhari dan Tirmidzi dari Ibnu  Abbas)

Jika dalam penyimpangan seks ada yang  dinamakan Transeksualist yaitu orang yang merasa dirinya sebagai lawan jenisnya, maka hadits terakhir ini, secara tidak langsung menyuruh agar segera berusaha pencegahan dan penyembuhannya.

8. Kaum Wanita jangan bepergian jauh sendirian

Rasulullah saw. bersabda:

وَلاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إلاَّ مَعَ ذِي مَحْرَمٍ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ امْرَأَتِي خَرَجَتْ حَاجَّةً وَإِنِّي اكْتُتِبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا قَالَ انْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ

Seorang wanita tidak layak bepergian kecuali disertai mahramnya. Seorang laki-laki berkata: Ya Rasulullah isteriku pergi untuk ibadah haji sedangkan aku berkewajiban untuk berperang itu dan ini. Rasul bersabda pergilah kamu untuk beribadah haji bersama isterimu!. H.R. Muttafaq alaih

Berdasar hadits ini, kaum wanita walau untuk menunaikan ibadah haji harus disertai mahramnya, apalagi untuk kepentingan lain yang tidak berkaitan langsung dengan ibadah. Perhatikanlah saat ini betapa berat tantangan yang dihadapi tenaga kerja wanita. Bukankah telah nampak kejadian yang mengerikan yang dialami tenaga kerja wanita? Betapa banyak penyimpangan seks yang diakibatkan oleh terlalu bebasnya kaum wanita bepergian. Al-Islam mengajarkan agar mencegah penyimpangan seks dengan melarang kaum wanita bepergian tanpa mahramnya.

9. Iffah bagi yang tidak memiliki baah

Iffah atau Ta’affuf  ialah menahan diri dari hal-hal yang menimbulkan semangat dan gairah seksual. Hal ini sangat diperlukan bagi yang belum  mampu menikah. Jika mereka tidak menahan diri, maka akan mengakibatkan konflik batin.  Allah berfirman:

Hendaklah orang-orang yang belum mampu untuk menikah itu menahan diri sehingga Allah memberikan kecukupan bagi mereka dari sebagian karunia-Nya”.      Qs. 24: 33

Ayat ini mengajarkan agar orang yang belum mempunyai kemampuan untuk menikah, bisa menahan diri dari berbagai hal yang mendesak kebutuhan  seks.

Yang dimaksud dengan kemampuan pada ayat  tersebut mencakup atas berbagai hal, baik yang bersifat materi ataupun yang immateri, termasuk pula di dalamnya masalah pasangan atau jodoh.

Adapun cara ta’affuf atau menahan diri itu antara lain dengan melaksanakan shaum. Rasul saw. bersabda:

وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّومِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَآءٌ.

“Dan barang siapa  yang belum mampu untuk menikah, maka hendaklah shaum. Sesungguhnya shaum itu merupakan prisai“. H.R.  Jama’ah .[12]

Shaum adalah  salah  satu senjata yang ampuh  untuk menahan diri dari gejolak nafsu. Yang dimaksud shaum di sini sudah barang tentu yang dimanipestasikan dalam kehidupan.

Shaum menurut bahasa adalah Imsak yang berarti menahan. Artinya seorang yang belum mampu untuk menikah harus berusaha menahan diri dari berbagai perbuatan yang mengundang syahwat, seperti pornografi, khulwat, Voyeurisme.

10.    Segera  menikah jika telah mencapai ba-ah

Satu-satunya jalan untuk menyalurkan dan  memenuhi  kebutuhan seks  adalah  menikah.

Oleh karena itu bagi yang sudah mempunyai kemampuan atau Al-Ba’ah (  الباءة  ) hendaklah segera menikah. Al-Islam mengecam keras Tabattul atau membujang dan memerintah untuk menikah. Rasulullah saw. bersabda:

يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَآءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ

أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ.

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara mu telah mempunyai kemampuan, hendaklah segera menikah. Sesungguhnya nikah itu bisa menjaga  kesucian farji dan menahan pandangan“. H.R. Lima Ahli Hadits.[13] (Shahih Muslim Bi Syarh Nawawi, IX : 175).

Redaksi hadits tersebut menunjukkan bahwa orang yang mempunyai al-Ba’ah adalah hukumnya wajib menikah, sebab seruannya berbentuk amar  atau perintah. Apalagi kalau dikaitkan dengan  firman  Allah  SWT sebagai berikut:

“Dan nikahkanlah olehmu orang yang masih sendirian, di antaramu dan orang yang layak untuk nikah dari kalangan hamba sahayamu baik pria atau pun wanita. Jika mereka miskin Allah akan memberikan kecukupan kepada mereka dari sebagain karunia-Nya. Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui” Qs. 24: 32.

Ayat ini mengandung makna antara lain:

1)  Menugaskan kepada para wali untuk segera menikahkan orang yang dibawah tanggung jawabnya,  jika mereka telah cukup dan layak.

2)  Melarang untuk menghalangi keinginan nikah. Pada ayat itu ditegaskan jika mereka miskin Allah akan memberikan rejeki. Hal ini mengandung perintah untuk mendorong dan membantu orang yang belum mampu, sehingga memiliki kemampuan untuk menikah. Dengan demikian siapa pun tidak dibenarkan untuk menghalangi kehendak orang yang sudah siap menikah. Harta dan kekayaan dalam ayat di atas jangan dijadikan penghalang. Satu hal yang sering ditemukan di masyarakat adalah orang tua yang suka menghalangi anaknya untuk menikah disebabkan belum siap untuk pesta pernikahan. Akibatnya, jika putra putrinya itu telah matang biologisnya dan kurang kuat iman, maka muncul hal-hal yang tidak diharapkan. Oleh karena itu ayat ini patut dijadikan pegangan oleh para orang tua. Hal lain yang perlu diperbaiki adalah adanya anggapan masyarakat bahwa seorang adik tidak dibenarkan mendahului kakaknya dalam menikah. Islam tidak  mengajarkan demikian.

Menurut Islam, siapa pun yang sudah mencapai baah diperintah untuk segera  menikah, walau pun kakaknya atau yang lainnya belum menikah.

Demi mencegah terjadinya penyimpangan seksual,  maka mereka patut segera melaksanakan aturan Islam ini.

Problem terbesar di era globalisasi ialah semakin terbukanya informasi tentang seks. Tentu saja dampak negatif semakin memudahkan syetan menggoda manusia. Kemajuan teknologi pangan juga semakin meningkatkan gizi kaum remaja, yang semakin meningkatkan energi. Sedangkan dari sudut lain saat ini ada usaha untuk memperlambat menikah. Kegairahan di kalangan remaja dan pemuda semakin ditingkatkan, sementara pernikahan semakin dipersulit. Dampaknya ialah dorongan pada penyimpangan seksual. Oleh karena itu Al-Islam yang senantiasa mempermudah proses pernikahan harus segera dilaksanakan.

11.    Menyalurkan seksual Hanya pada Isteri/suami

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh jamaah sebagaimana dikutip diatas, mengandung makna bahwa salah satu fungsi nikah adalah menjaga kesucian farji. Ini membuktikan bahwa nikah di samping berlatar belakang ibadah, juga berfungsi  memenuhi kebutuhan seksual. Oleh karena itu apa pun yang tersirat dalam hati yang berkaitan dengan kebutuhan seks, penuhilah bersama suami isteri. Cara inilah yang suci, benar dan  terpuji. Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

“Sesungguhnya perempuan itu baik waktu  berhadapan maupun waktu membelakang tetap menggoda, maka barang siapa  yang melihat wanita yang menggiurkan, segera menemui isterinya dan  salurkan kepada isteri. Hal  yang demikian  itu  bisa  mengatasi apa yang ada  dalam  hatinya”. H.R. Bukhari 2491 dan Muslim.

Hadits tersebut megandung makna antara lain:

1) Godaan dan desakan seksual akan selalu ada, baik dihadapan lawan jenis ataupun di  belakangnya.

2)  Jika seseorang terdorong syahwatnya, maka segera menemui isterinya dan penuhi keinginan tersebut bersama isteri jangan terjerumus pada penyimpangan. Namun satu hal yang harus disadari, bahwa pelaksanaan hadits tersebut tidak akan bisa dicapai tanpa adanya kerjasama suami isteri. Bagaimana mungkin sang suami bisa memenuhi kebutuhan seks hanya kepada isteri, jika isterinya tidak siap melayaninya. Oleh karena itu hadits tersebut mengandung makna perintah untuk selalu kerjasama suami  isteri.

Emansipasi wanita hendaknya jangan sampai menghambat keharmonisan suami isteri. Emansipasi wanita justru harus lebih meningkatkan kebahagian bersama. Kepentingan suami isteri dan kebahagiaannya harus lebih diutamakan, dibanding kepentingan lainnya. Apalah artinya kaum perempuan berhasil berkarier di berbagai bidang, sementara rumah tangganya berantakan. Usaha mencegah penyimpangan seks harus melalui mempererat hubungan antara suami dan isteri. Dengan demikian kebutuhan seks bisa terpenuhi secara puas dan memadai hanya melalui suami isteri.

12.    Menghukum pelaku penyimpangan seks

Merajalelanya penyimpangan seks, tidak terlepas dari akibat lemahnya penerapan hukuman. Manusia memiliki kecenderungan melakukan penyimpangan. Jika para pelanggar ketentuan hukum tidak ditindak, maka yang tidak melanggar akan tergoda untuk mengikutinya. Hak asasi manusia jangan dijadikan alasan untuk memberikan kebebasan manusia berbuat pelanggaran. Allah SWT menurunkan pedoman hidup adalah untuk ditaati dan menghukum orang yang melanggar aturan. Allah SWT berfirman:

 

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, Qs. 4: 105

Ayat ini menegaskan bahwa manusia bertanggung jawab untuk menegakkan hukum berdasar kebenaran dan keadilan. Orang yang melanggar kebenaran dan keadilan harus ditindak. Umat manusia juga diseru agar jangan sampai membiarkan pengkhianatan.

Penegakkan keadilan harus lebih diutamakan dibanding dengan perasaan kasih sayang. Salah satu bukti kasih sayang serhadap sesama manusia adalah memberikan dukungan kepada yang benar dan menindak yang salah. Itulah sebabnya, hakim tidak boleh merasa iba atau kasihan terhadap yang salah. Khusus dalam penegakan hukum zina, Allah SWT berfirman:

 

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. Qs. 24: 2

Pada ayat ini ditandaskan bahwa orang mu’min jangan sekali-kali merasa iba dalam menghukum orang yang berzina. Hukuman zina merupakan langkah taubat bagi pelakunya. Pelaksanaan hukumannya pun harus disaksikan orang banyak supaya jadi pelajaran.

13.    Memberantas fasilitas prostitusi

Salah satu faktor tersebarnya penyimpangan seks adalah adanya fasilitas. Fasilitas yang bermunculan di berbagai tempat disebabkan alasan ekonomi atau devisa negara. Pemerintah harus segera memperbaiki diri, jangan sampai mencari keuntungan dari perbuatan ma’shiat. Mencari dana lewat perzinaan adalah perbuatan tercela dan sangat membahayakan. Krisis ekonomi jangan diatasi dengan tindakan yang menimbulkan krisis moral. Krisis moral lebih berbahaya dibanding krisis ekonomi.

Oleh karena itu germo prostitusi harus segera dihancurkan.

أَنَّ رَسوْل الله صَلَّي اللهَ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  نَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَمَهْرِ البَغِي وَحُلْوَانِ الكَاهِنِ.

Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang keras mencari keuntungan dengan jual beli anjing, fasilitas pelacuran (germo) dan upah perdukunan. Hadits dari Abi Mas’ud al-Anshari

Hadits ini melarang mencari dana melalui budidaya anjing, prostitusi dan pedukunan. Dengan demikian ketiga sumber ekonomi ini mempunyai dampak negatif bila dibiarkan berjalan.

Sulit kiranya memberantas penyimpangan seks, bila fasilitas prostitusi masih dibiarkan ada.

Kita juga cukup prihatin saat ini tempat hiburan bermunculan di berbagai kota. Dari tempat hiburan inilah muncul berbagai perbuatan ma’shiat. Memberantas penyimpangan seks, juga harus dimulai dari pembatasan tempat hiburan dan pengawasan ketat terhadap tempat tersebut. Tempat wisata juga jangan sampai menyediakan fasilitas kema’siatan.

 

 



[1] (Fat-hul-Qadir I: 438)

[2] (Shahih Muslim no 3199 bi syarhin-Nawawi,XI:189) dari Ubadah Bin Shamit.

[3] Sunan al-Bayhaqi al-Kubra, VIII h.233, ,Wahbah Az-Zuhaili,VII:66

[4] At-Taj,II:330/Juhaili, XVIII:223).

[5] (Shahih Muslim, I:138)

[6] shahih Muslim, , I:138

[7] (Al-Iklil halaman: 36)

[8] (Sunan Abi Daud, I: 69)

[9] Sunan Abi Dawud, 1837

[10] suna  al-Tirmidzi, (II : 319 no.1091).

[11] Sunan Abi Dawud, (II : 319 no.1091).

[12] (An- Nasa’iy, VI: 58).

[13] Shahih Muslim Bi Syarh Nawawi, IX : 175

02.PENDIDIKAN SEKS SEJAK DINI

Pendidikan Seks

Sejak Dini

 

Berbicara tentang pendidikan seks, biasanya fikiran kita terfokus pada bagaimana mengajarkan hubungan seks suami isteri atau jima’’. Pendidikan seks sebenarnya tidak terbatas pada masalah jima’ belaka, melainkan sangat luas materi kajiannya, terutama tentang bagaimana menjaga dan memelihara, serta memfungsikan jenis kelamin secara benar, tepat dan sehat. Karena luasnya jangkaun pendidikan seks, maka dalam Islam di ajarkan sejak dini, bahkan mulai dari bayi.

A.  Pelajaran dari Isteri Imran

Dalam al-Qur’an telah diabadikan bagaimana Isteri Imran yang mendambakan punya anak laki-laki, kemudian melahirkan anak perempuan.

Maka tatkala isteri `Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” Qs.3:36

Dalam ayat ini terkandung makna bahwa selayaknya orang memperhatikan jenis kelamin anaknya sejak lahir. Pada ayat tersebut ditegaskan bahwa anak laki-laki tidak sama dengan perempuan. Oleh karena itu pembedaan jenis kelamin harus diterapkan sejak dini.  Pendidikan kepriaan harus dilakukan kepada anak laki-laki. Pendidikan kewanitaan harus dilakukan pada anak perempuan sejak dilahirkan.

Siti Maryam putri Imran telah diangkkat oleh Allah SWT. sebagai figur wanita yang shalihah, yang pandai menjaga kesuciannya. Nampak bahwa pendidikan kewanitaan bagi perempuan sangat penting artinya.

Dalam berbagai ayat juga ditemukan bahwa Allah SWT menyanjung kaum wanita yang mampu menjaga kewanitaannya, seperti isteri Imran, isteri Fir’aun, isteri Nabi Ibrahim, Siti Maryam dan Ummu Hanah ibu Nabi Musa. Sementara yang dikecam al-Qur’an adalah kaum perempuan yang kurang menjaga kewanitaannya seperti isteri Abi Lahab, isteri Nabi Luth, dan isteri Nabi Nuh. Semua itu sebagai ibrah bahwa pendidikan seks terutama difokuskan kepada pembinaan dan pemeliharaan keutuhan anak sesuai dengan kodratnya.

B. Bedanya aqiqah anak laki-laki dengan anak perempuan

Hadits dari Aisyah menerangkan bahwa Rasulullah saw. menganjurkan:

أَنْ يُعَقَّ عَنِ الغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الجَارِيَةِ شَاةٌ.

Hendaklah melakukan aqiqah untuk bayi laki-laki dengan menyembelih dua ekor kambing yang memadai, dan aqiqah bayi perempuan dengan seekor kambing” H.R. Ahmad Abu Daud dan Tirmidzi[1]

Dalam hadits lain ditandaskan bahwa penyembelihan aqiqah itu dilakukan ketika bayi berusia tujuh hari.

Dalam hadits ini jelas berbeda antara aqiqah untuk bayi laki-laki dengan bayi perempuan. Untuk bayi laki-laki dengan dua ekor kambing, sedangkan untuk bayi perempuan cukup satu ekor saja. Hal ini mengandung nilai pendidikan seks, bahwa walau bayi itu baru berusia tujuh hari, perlakukan antara yang laki-laki harus berbeda dengan perempuan. Pendidikan seks di sini lebih terfokus pada gender yang menanamkan tabi’at dan sifatnya berbeda antara pria dengan wanita. Aqiqah laki-laki yang harus dilakukan dua kali lebih banyak dari wanita, memberikan pelajaran bahwa pria memikul tanggung jawab dua kali wanita. Ditinjau dari pendidikan keluarga, laki-laki itu bertanggung jawab intern dan ekstern. Dari dudut seksologi, juga mengandung arti bahwa laki-laki memiliki potensi untuk lebih kuat dari wanita; mungkin juga libidonya.

C.  Kaitan Pendidikan Shalat dengan Pendidikan Seks

Ketika anak berusia tujuh tahun, orang tuanya harus memerintah shalat. Jika umur tujuh tahun itu tinggal intruksi, maka pendidikannya harus dilaksanakan sejak dini. Dalam pendidikan shalat terdapat unsur pendidikan seks, antara lain:

1. Bersuci

Shalat baru dinyatakan sah apabila suci dari hadats dan najis. Hadats ada yang mewajibkan wudlu dan ada pula yang mewajibkan mandi jinabat.

Hadats yang mewajibkan wudlu antara lain (1) keluar kotoran dari anus dan/atau dari kelamin, (2) laki-laki keluar madzi, (3) wanita mengeluarkan wadzi.

Membahas semua itu tidak akan terlepas dari penjelasan masalah kelamin. Anak juga akan diundang untuk minta penjelasan fungsi kelamin. Belum lagi menjelaskan madzi bagi anak lali-laki. Madzi ialah cairan bening yang keluar dari kelamin laki-laki ketika syahwatnya bangkit. Saat itu juga dituntut memberikan penjelasan apa itu syahwat. Wadzi ialah cairan bening pelumas vagina wanita, bisa disebabkan adanya rangsangan atau pun sebab lainnya. Hal ini juga mengandung pendidikan seks.

Hadats yang mewjibkan mandi jinabat antara lain (1) mimpi indah yang mengeluarkan mani, (2) keluar mani dengan sebab apa pun, (3) keluar darah haidl, (4) jima’’ walau tidak keluar mani, (4) nifas atau melahirkan.

Orang tua dalam mendidik shalat bagi anaknya dituntut menjelaskan semua yang mewajibkan wudlu dan mandi itu. Anak pun akan terangsang untuk minta penjelasan apa yang dimaksud mani, haidl, jima’’, dan nifas.

Menjelasakan masalah mani, haidl, jima’’, dan nifas mengandung pendidikan seks yang cukup mendalam. Demikian pula mengajarkan cara mandi yang sempurna menurut ajaran Rasulullah saw. Jika nenek moyang sunda mengadakan siraman menjelang pernikahan anaknya, sebenarnya sudah terlambat. Al-Islam mengajarkan mandi yang baik, kepada anak berusia tujuh tahun. Dengan demikian pendidikan bersuci untuk shalat tidak bisa dilepaskan dengan pendidikan seks.

2. Menutup Aurat

Menutup aurat harus diajarkan kepada anak sejak dini. Aurat ialah anggota badan yang harus ditutupi tatkala shalat dan thawaf serta di kala bertemu dengan ghair mahram. Aurat laki-laki adalah daerah antara pusat dan lutut, berlaku ketika shalat dan di luar shalat.

Aurat wanita adalah seluruh tubuh, dan tidak boleh memperlihatkan lekuk tubuhnya. Kerudung wanita harus menjulur ke dada. Keharusan wanita menutup seluruh tubuh dan menutupi lekuknya mengandung implikasi pedagogis terhadap seks. Alat seks wanita yang mengundang rangsangan bagi lawan jenisnya, bukan hanya terletak pada daerah antara pusat dan lutut saja, melainkan seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Keharusan wanita berkerudung yang menjulur ke dada menunjukkan bahwa organ seks wanita bukan hanya daerah antara pusat dan lutut, tapi juga payudara dan daerah dada. Jadi kalau sekarang kaum wanita sudah berani memperlihatkan daerah dada dan pusarnya, menunjukkan betapa telah bejadnya moral seks saat ini. Inilah salah satu ekses dari keteledoran pendidikan seks yang tidak Islami.

Pendidikan yang terkandung dalam hukum ini antara lain (1) pria tidak boleh sembarangan melihat tubuh wanita selain muka dan telapak tangannya, (2) wanita harus menjaga kemuliaan dan derajat fisiknya, sehingga tidak sembarangan orang dapat melihatnya.

Kemuliaan seks wanita sangat terkait dengan ketertutupannya bagi yang tidak berhak. Semakin tertutup, wanita itu semakin mulia dan semakin mahal nilainya. Semakin terbuka tubuhnya semakin rendah derajatnya dan semakin murah harganya. Bagaimana tidak bisa dianggap murah wanita yang memamerkan auratnya, bukankah mempersilahkan  sembarang laki-laki untuk  meni’matinya secara gratis?

Kemuliaan pria juga sangat terkait dengan kemampuan menahan pandangannya melihat aurat wanita yang tidak halal. Semakin senang pria melihat aurat yang haram, semakin rendah derajatnya. Bukankah pria yang demikian itu tidak memiliki ketahanan oleh godaan?

Sayangnya saat ini antara pria dan wanita bekerjasama dalam menurunkan derajatnya masing-masing. Perempuan banyak yang senang memperlihatkan auratnya secara gratis sehingga menjadi tidak ada harganya. Sedangkan pria banyak yang senang meni’mati yang murah dan tidak berharga. Itulah sebabnya al-Islam mendidik seks dengan cara menutupi aurat.

Dikaitkan dengan pergaulan sehari-hari, macam-macam aurat antara lain sebagai berikut:

a.  Aurat laki-laki dengan sesamanya.

Seorang laki-laki diperbolehkan melihat tubuh sesamanya selain apa yang ada di antara pusar dan lutut. Imam Hanafi berpendapat bahwa lutut termasuk aurat. Sedangkan menurut Imam Maliki, lutut dan dan pusar laki-laki tidak termasuk aurat. Yang termasuk aurat adalah di antara pusar dan lutut itu. Dalil yang digunakan beliau adalah hadits yang diterima dari Muhammad Bin Abdillah Bin Jahsy:

غطّ فَخْدَكَ فَإِنَّ الفَخْدَ عَوْرَةٌ.

Tutupilah pahamu, sesungguhnya paha itu termasuk aurat. H.R. al-Bayhaqi.[2].

Demikian pula menurut riwayat Ibnu Majah, Abu Daud dan Hakim dari Ali-Bin Abi Thalib.

Karena dalam hadits itu disebutkan bahwa yang termasuk aurat itu adalah paha, maka aurat atau tidaknya lutut diperdebatkan.

Sesama jenis juga tidak boleh tidur bersama tanpa menutupi anggota badan di antara pusar dan lutut.

لاَيُفْضِي الرَّجُلُ بِالرّجُلِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ.

Seorang laki-laki tidak dibenarkan tiduran bersama laki-laki dalam satu pakaian. (Hadits Riwayat Empat Ahli Hadits/[3]

Dari pemahaman ini Wahbah Zuhaili berpendapat tidak dibenarkan berangkulan, berdekapan walau sesama jenis, kalau bukan dengan anak kandung.

b. Aurat perempuan dengan sesamanya

Aurat perempuan dengan sesamanya, jika seiman yaitu sesama muslimah, adalah seperti laki-laki dengan laki-laki. Mereka harus menutupi apa yang ada antara pusar dan lutut. Mereka juga tidak boleh tidur bersama dalam satu pakaian, atau satu selimut atau tanpa menutupi aurat yang utama. Rasul bersabda:

وَلاَ تقْضِي المَرْأَةُ إِلِى المَرْأَةِ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ.

Seorang perempuan tidak dibenarkan tiduran bersama perempuan dalam satu pakaian. (Hadits Riwayat Empat Ahli Hadits).[4]

Ketentuan ini tidak terkecuali apakah sesama wanita itu ada hubungan keluarga ataukah tidak.

Adapun wanita muslimah bersama non muslimah, auratnya adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Kalimat            أَوْ نِسَاْءِهِنَّyang tercantum pada surat an-Nur tentang kewajiban menutupi seluruh tubuh wanita kecuali di hadapan sesama wanita menunjukkan hanya sesama muslimah.

c.  Aurat perempuan di hadapan laki-laki

Aurat perempuan di hadapan laki-laki terbagi pada tiga golongan yaitu:

1)  Ghair mahram ialah pria yang boleh menikahinya. Pria ghair mahram tidak diperkenankan melihat anggota tubuh perempuan selain wajah dan telapak tangan.

Allah SWT berfirman:

 

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. Qs.24:31

Ayat ini menggariskan bahwa kaum wanita tidak boleh membuka tubuhnya selain muka dan telapak tangan dan tidak boleh memeprlihatkan kemolekannya selain kepada yang dihalalkan untuk melihatnya.

Dalam ayat tersebut juga terkandung ketentuan penampilan wanita di hadapan ghair mahram. Ternyata menurut ayat itu bukan hanya berkewajiban menutup aurat, tapi juga harus menghindari sikap dan tindakan serta gaya bicara yang mengundang perhatian seks lawan jenisnya. Dalam ayat lain ditegaskan:

فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوفًا

Wahai kaum wanita janganlah melembutkan suara yang mengakibatkan terpesonanya orang berpenyakit hati, tapi berkatalah yang pantas. Qs.33:32

Menurut mufasir ayat ini mengajarkan kaum wanita untuk berbicara seperlunya di hadapan pria dan jangan mengundang syahwat yang berpenyakit hati. Penyakit hati antara lain mudah tergoda oleh lawan jenisnya.

2)  Mahram ialah yang haram menikah, dan halal melihat anggota tubuh wanita. Mereka ialah yang sebut oleh pengecualian dalam ketentuan menutup aurat yang tercantum pada Qs.24:31 di atas. Oleh karena itu kaum wanita tidak diwajibkan menutup seluruh tubuhnya, selain aurat yang utama di hadapan (1) anak serta cucu, (2) ayah serta kakek, (3) saudara kandung, atau seayah atau seibu (4) saudara sepersusuan, (5) mertua, (6) anak tiri, (7)  anak saudara, (8) saudara ayah, (9) saudara ibu.

3) Sumi isteri. Antara suami isteri tidak ada hukum aurat. Mereka diperbolehkan saling melihat seluruh anggota badannya tanpa kecuali.

d. Aurat laki-laki di hadapan perempuan

Aurat laki-laki di hadapan perempuan tidak dibedakan antara adanya hubungan keluarga dan tidak. Dengan kata lain apa yang ada antara pusar dan lutut laki-laki termasuk aurat di hadapan siapa pun selain isterinya. Hanya isterinya yang boleh melihat apa yang ada antara pusar dan lutut laki-laki.

 

 



[1] Musnad Ahmad, Sunan Abi Daud, no.2451, Sunan al-Tirmidzi, no.1433

[2] Aunan al-Bayhaqi al-Kubra, II h.228

[3] Mansur Ali Nashif, At-Taj,II:330/al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami, XVIII:223).

[4] /At-Taj,II:330/Juhaili, XVIII:223

01.KEHIDUPAN SEKSUAL DALAM PERNIKAHAN

Sekitar Kehidupan Seksual

Dalam Pernikahan

 

Islam memandang kehidupan seksual suami isteri sebagai salah satu perwujudan dari fungsi nikah. Hubungan seks suami isteri  secara benar dianggap ibadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu berbicara seks, juga tidak boleh lepas dari keimanan dan ibadah. Timbul pertanyaan; bagaimana kaitan antara seks dengan iman dan ibadah?

Bab ini mengungkap peranan iman dalam mengendali-kan nafsu serta fungsi dan kedudukan hubungan seksual  suami  isteri dalam pernikahan.

A.  Iman Sebagai Pengendali Nafsu

Nafsu seks merupakan naluri semua umat  manusia.  Dengan demikian jika manusia membutuhkan seks dan selalu terdorong untuk melakukan hubungan seksual, itu termasuk anugerah dari Allah SWT. Namun jika nafsu seks itu tidak dikendalikan, akan menimbulkan masalah dalam kehidupan.

Allah menghiasi manusia dengan cinta syahwat  (Qs.3:14). Dorongan seks tidak semuanya  negatif, tapi banyak juga yang positif. Positif atau negatifnya tergantung kepada cara pemanfaatannya. Jika dorongan seks itu dipenuhi secara halal, maka bukan hanya mempesonakan, tapi juga dinilai sebagai iba[Irsyad1] dah. Islam tidak melarang pemenuhan kebutuhan seks, tapi membimbing    umatnya    agar    mampu    mengendalikan

nafsunya supaya jangan sampai diperbudak oleh nafsu.

Pengendali nafsu yang paling utama adalah iman. Dengan iman, manusia tidak akan diperbudak hawa nafsunya. Figur yang sangat bagus dijadikan teladan dalam mengendalikan nafsu seks dengan iman ialah Nabi Yusuf, ketika digoda oleh wanita cantik jelita dan berkedudukan tinggi. Tatkala wanita cantik itu mengunci pintu dan merayunya, berkata kepada Yusuf  هَيْتَ لَكَ        ”mari sayang kita bersenang-senang denganku di  sini,  kita  telah  aman“. (Qs.12:23).  Yusuf  pada  saat itu bukan berarti tidak tertarik oleh wanita   muda, cantik dan berkedudukan   وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا     Wanita cantik itu sangat tergila-gila oleh Yusuf. Yusuf juga tertarik oleh wanita itu. Qs. 12:24.

Yang menyelamatkan Nabi Yusuf dari godaan itu adalah petunjuk Allah dan iman, sehingga bisa mengendalikan diri. Jawaban Yusuf kepada wanita yang sedang  tergila-gila  itu ialah:

“Aku berlindung kepada Allah, sungguh Tuhanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang  yang zhalim itu tidak akan bahagia” (Qs.12:23)

Jawaban ini merupakan bukti kekuatan iman Nabi Yusuf a.s. Figur seorang yang beriman tidak hanya tahan digoda oleh rayuan dan godaan yang lembut dan mempesonakan, tapi juga tidak takut dan tidak tergoyahkan oleh ancaman.

Zulaiha yang menggoda Yusuf itu, tatkala tidak berhasil merayunya, merubah taktik  dengan ancaman masuk penjara (Qs.12:32). Namun karena iman lebih kuat, malah Yusuf memilih penjara daripada melakukan perbuatan  ma’shiat. Dia mengatakan:

 

“Ya Rabbi, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi  ajakan  mereka” Qs. 12: 33.

Kisah di atas menunjukkan bahwa Nabi Yusuf memiliki iman yang membaja, sehingga tidak  tergoyahkan oleh desakan apa pun, baik yang berbentuk rayuan atau pun yang berbentuk ancaman.

Untuk dijadikan figur oleh segenap umat, maka Allah SWT. mengabadikan kisah itu  dalam al-Qur’an.

Oleh karena  itu,  jika ingin terhindar  dari perbuatan ma’siat dan selamat dari mafsadatnya,  harus memperokoh dan mempertebal iman.

Barangsiapa yang merasa takut oleh Allah karena Iman dan menahan hawa nafsu dari gejolaknya, maka baginya surga telah disediakan.

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى(41)

Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). Qs. 79: 40-41.

Surga yang dijanjikan di sini, bukan hanya di akhirat kelak, tapi juga akan dirasakan di dunia kini, termasuk surga dalam keluarga.

B.  Fungsi Dan Kedudukan Seksual Suami Isteri

Seperti dikemukan di atas, bahwa kedudukan dan fungsi seks dalam pernikahan amatlah mulia, asalkan dipenuhi dan disalurkan secara halal dan suci. Dalam berbagai ayat dan hadits ditemukan bahwa fungsi seks antara lain sebagai berikut:

1.  Memenuhi Hubbusyahwat

Firman Allah SWT:

“Manusia dihiasi cinta syahwat kepada wanita” (Qs.3:14).

Dalam ayat ini disebutkan bahwa cinta syahwat itu merupakan hiasan. Oleh karena itu tidak perlu dihancurkan,  tapi harus dipelihara dan  dipenuhi secara benar dan halal.

Jadi melakukan hubungan seksual suami isteri, berfungsi pemenuhan  kebutuhan  biologis  dan psikologis secara halal dan suci.

Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا أَحَدُكُمْ أَعْجَبَتْهُ الْمَرْأَةُ فَوَقَعَتْ فِي قَلْبِهِ فَلْيَعْمِدْ إِلَى امْرَأَتِهِ فَلْيُوَاقِعْهَا فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

“Jika salah seorang di antaramu bertemu dengan seorang wanita yang mempesona sehingga hatinya tertarik, maka hendaklah segera mamalingkan perhatiannya kepada isterinya  dan gaulilah isteri, karena  dengan menggauli isteri bisa menyalurkan dan memenuhi dorongan syahwatnya. (H.R. Muslim).[1]

Dalam riwayat lain diterangkan bahwa  perempuan itu di mata pria selalu menarik, baik waktu membelakangi apalagi menghadap,  maka  jika merasa tertarik hendaklah segera bergaul dengan isterinya.

 

 2. Memelihara Mawaddah

Firman Allah SWT:

Di antara bukti ayat-ayat Allah,  Ia ciptakan   untukmu jodoh dari jenismu agar mencapai sakinah ketentraman. Ia jadikan di antaramu  mawaddah dan rahmah. Sungguh dalam hal ini merupakan bukti ayat bagi orang yang berfikir” (Qs.30:21)

Dalam ayat ini terdapat dua cinta yang dicapai  dengan pernikahan; cinta mawaddah dan cinta rahmah. Mawaddah adalah cinta yang terwujud dari dorongan untuk memenuhi  kebutuhan biologis sebagai fitrah insani.  Sedangkan Rahmah ialah cinta yang dilandasi oleh dorongan fitrah Ilahi yang Rahman dan Rahim .[2]

Nikah merupakan satu-satunya cara memelihara kedua cinta tersebut secara sempurna. Melalui hubungan seks dalam pernikahan, kedua cinta tersebut akan terwujud dan terpelihara oleh suami isteri. Seseorang mungkin saja bisa mencintai pacarnya sebelum menikah, tapi tidak akan meraih cinta rahmah. Seseorang juga bisa saja menyayangi saudaranya karena pertalian nasab, tapi tidak bisa meraih mawaddah. Dengan hubungan seks suami isteri diharapkan dapat meraih dan memelihara kedua cinta sekaligus.

3. Menjaga kesucian Farji dan menahan pandangan

Rasulullah saw. bersabda:

يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَآءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّومِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَآءٌ. رواه الجماعة

“Hai para pemuda barangsiapa di antaramu mempunyai kemampuan, hendaklah segera menikah. Sesungguhnya  nikah  itu bisa menahan pandangan dan  menjaga kesucian farji[3]

Hadits ini menunjukkan bahwa salah satu  fungsi nikah adalah menjaga kesucian farji dan menahan pandangan.  Dengan demikian hubungan seksual suami dengan isterinya, adalah termasuk perbuatan suci dan menyucikan.

Dalam surat Al-Mu’minun dikatakan bahwa menyalurkan kebutuhan biologis kepada isteri adalah   terpuji   dan   tidak tercela (Qs.23:5-6).

4. Menyatukan pandangan

Penyatuan pandangan yang diwujudkan dalam hubungan biologis suami isteri bukan  hanya yang  bersifat badani, tapi juga bersifat ruhani. Dalam peraktek hubungan biologis, sang isteri merasa dirinya bersatu dengan suaminya. Sang suami pun bersatu dengan isterinya. Dengan penyatuan ini diharapkan juga bukan hanya berfungsi dalam manyatukan keinginan  syahwat, tapi   juga dalam pandangan dan pendirian. Dalam kehidupan suami  isteri pun diharapkan adanya rasa kebersamaan  yang erat. Diri isteri beranggapan sebagai diri suami, dan diri suami pun sebagai diri isteri.  Tepatlah apa yang difirmankan Allah SWT:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ.

“Isterimu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah  pakaian  bagi isterimu“. Qs.Al-Baqarah.

Suami isteri dalam ayat ini diumpamakan sebagai pakaian.  Betapa  erat  keterkaitan mereka.

Mereka saling melengkapi, saling menutupi,  saling  membutuhkan, tapi juga saling melindungi, sebagaimana fungsi pakaian bagi seseorang. Pakaian juga berfungsi sebagai gambaran  identitas dan keindahan. Demikian pula antar suami dan isteri.

Keterikatan semacam ini diharapkan membekas pada penyatuan pandangan dalam menegakkan al-Haq dan menelorkan generasi   penerus  yang shalih.

5. Mengharapkan Turunan

Allah Swt berfirman:

 

“Dialah Allah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya, Dia menciptakan isterinya, agar merasa senang kepadanya. Maka setelah suami mencampuri isterinya, isterinya itu mengandung dengan kandungan yang ringan beberapa waktu masih ringan. Kemudian tatkala dia merasa berat, suami isteri berdo’a kepada Allah Tuhannya, seraya berkata: Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang shalih, tentulah kami termasuk orang yang bersyukur“. Qs. 7 -Al-A’raf: 189.

Fungsi hubungan biologis suami isteri, berdasar ayat ini ialah (1) memelihara ketenangan dan kesenangan lahir dan bathin, (2) memperoleh turunan, (3) meningkatkan rasa syukur atas ni’mat yang diberikan Allah SWT.

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang mu’min, dalam memenuhi kebutuhan biologisnya, tidak hanya untuk bersenang-senang, tapi juga mengharapkan anak yang shalih sebagai penerusnya yang akan bersyukur kepada Allah SWT bersama-sama.

6. Menjalin kerjasama

Al-Islam mengajarkan bahwa kepuasan dalam  hubungan biologis tidak hanya untuk sepihak, tapi   untuk kedua belah pihak suami-isteri. Usaha  yang  demikian itu tentu saja harus dilakukan dengan  kerjasama  yang  baik.

Dalam ayat di atas telah digambarkan bahwa isteri adalah pakaian bagi suami dan suami pakaian bagi isteri. Bagaimana mungkin dalam berpakaian dengan saling memakai itu bisa harmonis tanpa kerjasama yang baik.

Dengan demikian hubungan biologis pun berfungsi  melatih kerjasama suami isteri.

Dalam Qs. Ar-Rum:21 ditandaskan      وَجَعَل بَيْنَكُم مَودَّةً Allah menjadikan mawaddah di antara kalian. Dengan demikian mawaddah atau cinta insaniyah itu milik bersama antara suami isteri, dan diwujudkan bersama-sama. Oleh karena itu kerjasama dalam memelihara dan memenuhi mawaddah itu diharapkan dapat meningkatkan kerjasama dalam berbagai bidang kehidupan.

7. Melaksanakan Ibadah

Sebagaimana telah diungkapkan di atas bahwa  hubungan biologis yang berdasar Islam, tidak hanya mendatangkan kebahagiaan, tapi juga memperoleh pahala,  karena  termasuk ibadah.

Abu Dzar r.a. meriwayatkan bahwa sekelompok sahabat menghadap Rasulullah saw. mengatakan: “Ya  Rasullallah! Betapa bahagia orang-orang kaya; kami shalat mereka shalat, kami shaum mereka shaum. Namun mereka melebihi  kami, karena bisa bersedekah dengan kelebihan hartanya”.

Rasulullah saw. mendengar keluhan mereka bersabda: “Bukankah Allah telah  memberikan kesempatan bagi kalian untuk bersedekah (tanpa harta) yang bisa kalian sedekahkan?

Sesungguhnya tasbih adalah sedekah, tiap takbir juga sedekah, tiap membaca laa ilaha illah juga sedekah, tiap tahmid juga sedekah, amar ma’ruf dan nahy munkar  pun sedekah, bahkan hubungan kelamin (dengan isterimu) termasuk sedekah”.

Para shahabat itu bertanya lagi: “Wahai Rasulullah apakah jika salah seorang kami memenuhi kebutuhan syahwatnya dengan bersenang-senang bersama isteri juga mendapat pahala?”. Rasul saw. bersabda:

أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلالِ كَانَ لَهُ أَجْرًا.

“Bagaimana pandanganmu, andai ia salurkan syahwat itu kepada yang haram, bukankah  berdosa?. Maka tentu saja kalau  begitu, jika  ia  salurkan  syahwatnya kepada yang  halal  akan  mendapat pahala”. H.R. Muslim,.[4]

Hadits ini menunjukkan bahwa hubungan seksual suami isteri, termasuk sedekah. Bila dianggap sedekah berarti bernilai ibadah. Oleh karena itu jika dilakukannya secara ikhlash, hubungan suami isteri itu bukan hanya mendatangkan keni’amatan dan memenuhi kebutuhan, tapi juga akan mendatangkan pahala.

 



[1] Shahih Muslim, no. 2492, Sarah Nawawi, IX:178

[2] (Asy-syaukani, Fat-hul-Qadir, IV: 219).

[3] (Hadits ini di riwayatkan  oleh  banyak  ahli hadits, seperti Muslim dan Sunan Ibn Majah, I:592, An-Nasaiy, VI:58).

[4] Shahih Muslim, no.1674