HARTA DALAM RUMAH TANGGA (kajian hadits riwayat Muslim dari A’isyah)

HARTA DALAM RUMAH TANGGA

(kajian hadits riwayat Muslim dari A’isyah)

  1. Teks Hadits dan Tarjamahnya

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ دَخَلَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ امْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ لَا يُعْطِينِي مِنْ النَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ

dari ‘A`isyah yang berkata: Hindun binti Utbah istri Abi Sufyan menghadap Rasul SAW, berkata: Wahai Rasul! Sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang laki-laki yang sangat kikir. Dia tidak memberi nafaqah padaku dan pada anakku yang mencukupi, kecuali apa yang kau ambil dari hartanya tanpa sepengetahun dia. Apakah aku memikul dosa atas perbuatanku itu? Rasil SAW bersabda: ambilah dari hartanya secara ma’ruf apa yang mencukupi kebutuanmu dan menuckupi kebutuhan anakmu. Hr. Muslim (206-261H).[1]

 

  1. Syarah Sekilas
  2. عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْdari Aisyah berkata

Kalimat ini menunjukkan bahwa A’syah isteri Rasul SAW yang menjdi rawi shahabi. Beliau adalah shahabat sekaligus Um al-Mu`minin yang banyak meriwayatkan hadits, karena paling lama mendampingi Rasul pada periode Madinah. A’isyah putrid Abu Bakar dan Umm Ruman, dinikah oleh Rasul pada tahun kesebelas kenabian, atau dua tahun sebelum hijrah, dan di Madinah wafat tahun 57H ada pula yang mengatakan tahun 58H.

  1. دَخَلَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ امْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ kata Aisyah; Hindun bin Utbah istri Abi Sufyan menghadap Rasul SAW. Hindun adalah putrid Utbah bin Rabi’ah bin Abd Syams bin Abd Manaf. Ayah Hindun terbunuh di ketika perang Badar bersama pamannya yang bernama Syaibah dan saudarnya yang bernama al-Walid bin Utbah. Sejak saat itu Hindun sangat benci pada kaum Muslimin, hingga mengoyak perut dan menelan ati Hamzah bin Abd al-Muthalib yang gugur di perang Uhud. Pada Futuh Mekah, Hindun masuk Islam dan menjadi pembela kaum muslimin bersama Rasul SAW. Beliau wafat pada bulan Muharram tahun 14H.
  2. فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌkata Hindun; Wahai Rasul! Sesungguhnya Abu Sufyan itu orang yang sangat kikir. Kepribadian Abu Sufyan diceritakan istrinya kepada Rasul, untuk mendapatkan nasihat hukum. Abu Sufyan bernama asli Shakhr bin Harb binm Umayyah bin Abd Syams termasuk pembesar Quraisy, Mu’awiyah putra beliau merupakan pendiri Dinasti Umayah yang berpusat di Damascus. Abu Sufyan masuk Islam pada peristiwa futuh Mekah tahun 8H, sebelum isterinya, setelah dikejar tentara Muslim dan ditolong oleh Abbas yang membawanya menghadap Rasul SAW.[2] Setelah itu beliau menjadi pembela Islam, wafat pada tahun 32H pada jaman pemerintahan klhliafah Utsman bin Affan. Hindun sebagai isteri, mengadu pada Rasul SAW tentang suaminya sebagai رَجُلٌ شَحِيحٌ seorang laki-laki yang amat kikir. Perkataan شَحِيحٌ menurut bahasa berarti بخيل حريص kikir yang disertai rakus berkeinginan keras memiliki segalanya. [3] Kata al-Asqalani أعم من البخل لأن البخل مختص بمنع المال والشح يعم منع كل شيء في جميع الأحوال istilah شَحِيحٌ lebih luas dari bakhil. Bakhil hanya kikir pada harta, sedangkan syahih mencakup kikir dalam segalanya, baik harta, sikap maupun tindakan.[4]
  3. لَا يُعْطِينِي مِنْ النَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ dia tidak memberi nafaqah yang menuckupi keperluan saya dan anak-anak saya. Kalimat ini merupakan penjelkasan tentang sifat suaminya, Abu Sufyan yang kikir itu. Hal ini penting disampaikan kepada Rasul SAW oleh Hindun agar mendapat fatwa hukum sesuai faktanya. Dengan demikian, Abu Sufyan bukan berarti tidak pernah memberi nafaqah sama sekali, melainkan hanya sedikit sehingga tidak bisa mencukupi kebutuhan pokok isteri dan anaknya. Kalimat ini juga mengisyaratkan bahwa Hindun telah mengetahui hukum tentang wajibnya seorang suami memberi nafqah untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Namun dalam riwayat al-Nasa`iy, redaksinya berbunyi وَلَا يُنْفِقُ عَلَيَّ وَوَلَدِي مَا يَكْفِينِي dia tidak memberi nafqah padaku dan anakku yang mencukupi; bolerhkah aku mengambil sebagian hartanya tanpa ia sadari?.[5] Redaksi ini mengisyaratkan bahwa Hindun minta fatwa tentang boleh atau tidaknya mengambil haknya tanpa sepengetahuan suami.
  4. إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ kecuali apa yang saya ambil dari hartanya tanpa sepengatuan dia. Hindun mengungkapkan bukti kekikiran suaminya, hingga tidak mau memberinya, kecuali bila ia mengambilnya tanpa izin. Dalam riwayat Ahmad ada yang menggunakan redaksi وَلَيْسَ لِي إِلَّا مَا يَدْخُلُ بَيْتِي saya tidak mendapatkan nafaqah kecuali bila ia masuk ke rumahku.[6] Karena keterpaksaan untuk memenuhi kebutuhan diri dan anaknya sehari-hari, maka Hindun mengambil sebagian harta suaminya tanpa sepengetahunnya dan tanpa izin darinya. Kisah ini juga mengisyaratkan bahwa Abu Sufyan memegang kendali spenuhnya harta keluarga. Dia tidak mempercayakan pengelolaan hartanya kepada istrinya. Dengan kata lain Abu Sufyan yang mencari nafqah, dan sekaligus mengelola dan mengaturnya dalam rumah tangga.
  5. فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ apakah perbuatan tersebut tidak menjadi dosa atasku? Redaksi ini mengisyaratkan bahwa Hindun suka melakukan pengambilan harta suaminya, tanpa izin. Beliau merasa takut berdosa atas tindakannya, apakah termasuk mencuri. Namun dalam riwayat al-Nasa`iy pertanyaan Hindun itu berbunyi أَفَآخُذُ مِنْ مَالِهِ وَلَا يَشْعُرُ bolehkah aku mengambil sebagian hartanya tanpa ia sadari?.[7]
  6. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ Rasul SAW bersabda: ambilah olehmu sebagian dari hartanya secara ma’ruf apa yang menucukupi kebutuhanmu dan kebeutiuhan anakmu. Rasul SAW ternyata tidak mengomentari kebijaksanaan Abu Sufyan yang memegang kendali penuh harta keluarganya. Beliau mempercayai apa yang diungkapkan Hindun, dan kemudian memberi petunjik padanya. Terdapat beberapa redaksi antara lain (1) خُذِي أَنْتِ وَبَنُوكِ مَا يَكْفِيكِ بِالْمَعْرُوفِ (2) خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ Hr. Ibn Majah. [8] Petunjuk Rasul SAW tersebut mengandung arti antara lain (1) dalam harta suami terdapat bagian isteri dan anak, (2) mengambil hak sendiri tidak menjadi dosa, (3) yang boleh diambil dari harta suami adalah sebatas kebutuhan, bukan mengikuti yang diinginkan, (4) ukuran yang diambil mesti berpedoman pada hukum ma’ruf, atau atas dasar kesepakatan sebelumnya dalam pengelolaan harta, (5) bolehnya istri mengambil harta suami, selama tidak memberi nafqah. Jika ternyata suaminya sudah memberi nafqah, maka istri tidak mempunyai hak mengambil harta suaminya, (6) baik suami maupun istri mempunyai hak milik masing-masing, (7) apa yang belum diberikan pada istrinya, maka statusnya masih menjadi milik suami.

 

  1. Beberapa Ibrah
  2. Bolehnya mengungkapkan keburukan tatkala sangat diperlukan. Dalam hadits ini tersirat adanya menceritakan keburukan seseorang karena situasi tertentu. Hindun menceritakan suaminya kepada Rasul SAW, sehingga kekurangan Abu Sufyan diketahui umat. Namun ternyata Rasul SAW tidak menyalahkan Hindun. Jika tindakan Hindun itu salah, tentu Rasul SAW akan menegurnya. Taqrir (pembiaran) Rasul SAW tersebut memberi isyarat bolehnya menyampaikan keburukan seseorang dalam meminta fatwa hukum atau konsultasi pada halinya. Al-Nawawi (631-676H), mengungkapkan bahwa ghibah iatu ada yang diperbolehkan syari’ah antara lain: (1) Orang yang dianiaya atau dizhalimi, atau tidak dipenuhi haknya, kemudian mengadu pada aparat hukum, supaya mendapatkan keadilan. (2) Minta bantuan dalam mencegah kemunkaran. Umpanya seseorang melihat kawannya berbuat munkar, tapi sulit mencegahnya, maka minta bantuan orang lain yang diperkirakan mampu. (3) Minta fatwa hukum, baik dalam perselisihan, ataupun perbuatan yang diperikarakan buruk, yang memerlukan penjelasan rinci. (4) Memberikan peringatan kepada sesame muslim untuk bersikap waspada terhadap yang suka berbuat buruk, seperti tukang bohong demi menghindari adanya korban penipuan atau pemalsuan. Inilah yang dilakukan oleh para peneliti hadits yang tidak segan-segan mengungkapkan fakta kesalahan atau kelemahan rawi yang dla’if. (5) Mengungkapkan kejelekan orang yang suka berbuat durhaka secara terang-terangan, seperti pemabuk, pezina, pembunuh. Orang yang merasa bangga dengan kedurhakaan atau kema’shiatannya, tidak perlu ditutupi keburukannya. Allah SWT juga mengungkap keburukan Abu Lahab damn istri nabi Luth. (6) Untuk memberikan petunjuk yang jelas terhadap orang tertentu supaya berbeda dengan yang lainnya. Misalkan di satu kampung terdapat beberapa orang yang namanya sama, maka diperlukan menyebut cirri hasnya, seperti yang tubuh pendek, atau tinggi, atau pesek atau pecak. Bila tidak disebut, umpamnya menyulitkan penentuan suatu kasus atau memberi petunjuk pada yang bertanya. [9] Di samping itu, tidak disalahkan mengungkapkan kejahatan pemimpin yang tidak adil, demi membela kemaslahatan umat, sebagaimana al-Qur`an menjelekan Fir’aun. Hal semacam ini sangat penting, utamanya dalam pemilihan pemimpin.
  3. Suami dilarang kikir pada istri dan keluarganya. Rasul SAW sampai mempersilakan Hindun mangambil harta Abi Sufyan yang kikir. Allah SWT mengecam keras orang yang kikir. Firman-Nya: الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. Qs.4:37. Dalam ayat ini ditegaskan bahwa yang kikir itu bakal masuk neraka.
  4. Wajibnya suami mencukupi kebutuhan fisik minimum anak dan isteri. Allah SWT berfirman: وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ Suami berkewajiban memberi nafqah berupa kebutuhan makan dan pakaian untuk istrinya secara patut. Qs.2:233. jika tidak memberi kecukupan, padahal dia memilikinya, maka bisa diminta paksa.
  5. Dalam harta hasil suami terdapat hak anak dan istri. Tindakan Hindun yang mengambil sebagian harta suaminya, oleh Rasul dianggap tidak mencuri. Hal ini mengisyaratkan bahwa dalam harta yng dimiliki suami terdapat hak melekat yang dimiliki istrinya.
  6. Isteri boleh mengambil harta suami yang kikir tanpa sepengetahuannya, secara ma’ruf. Ma’ruf adalah yang dianggap baik oleh aturan manusia dan tidak bertentangan dengan syari’ah. Yang termasuk ma’ruf (1) kepentingan kiswah, nafaqah, suknah istri dan anak, (2) kewajiban seperti zakat, (3) shadaqah yang tidak mengganggu keburuhan pokok. Rasul SAW bersabda: إِذَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ لَا يَنْقُصُ بَعْضُهُمْ أَجْرَ بَعْضٍ شَيْئًا jika seorang wanita berinfaq dari harta rumah tangganya sepanjang tidak menimbulkan kerusakan, maka pahalanya adalah untuknya dan untik suaminya. Dia dapat pahala karena berinfaq, dan suaminya dapat pahala karena telah mencarikan nafqah. Demikian pula seorang bendahara, akan mendapat pahala yang tidak dikurangi.Hr.Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud.[10] Hadits ini memberikan jaminan bagi seorang istri yang berinfaq dari harta rumah tangganya, asalkan tidak menimbulkan masalah, bahwa mereka bakal mendapat pahala. Hal ini memberikan isyarat agar setiap suami memberikan wewenang pada istrinya untuk berinfaq, karena pahalanya akan didapat oleh keduanya.
  7. Seorang ibu ikut tanggung jawab tentang kebutuhan anaknya. Rasul SAW mempersilakan Hindun mengambil sebagian harta suaminya untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Dengan demikian ibu memiliki tanggung jawab tentang kesejahteraan anak.

7.Boleh memvonis in absensia bila sudah diketahui faktanya. Rasul SAW tidak memanggil Abu Sufyan untuk klarifikasi laporan Hindun. Dengan demikian jika dudah jelas faktanya, hakim bisa saja memvonis tanpa kehadiran terdakwa. Namun bila belum diketahui faktanya secara jelas, maka hakim mesti kelarifikasi yang diadukan terlebih dahulu sebelum menjatuhkan vonis salah atau benar. Rasul SAW bersabda: إِذَا تَقَاضَى إِلَيْكَ رَجُلَانِ فَلَا تَقْضِ لِلْأَوَّلِ حَتَّى تَسْمَعَ كَلَامَ الْآخَرِ فَسَوْفَ تَدْرِي كَيْفَ تَقْضِي jika ada dua orang mengadu padamu, maka janganlah kamu memutuskan pada fihak pertama sebelum mendengar pandangan yang lain, yang diadukan, maka kamu akan tahu bagaimana menetapkan putusan. Hr. Ahmad dan al-Tirmidzi.[11]

  1. Pengelola harta dalam rumah tangga, tidak dipersoalkan, siapa yang mengendalikan. Rasul SAW tidak mempermasalahkan tentang tindakan Abu Sufyan memegang kendali harta keluarga. Dengan demikian dalam kehidupan berumah tangga, pengelola harta tidak diatur secara kaku; tergantung pada kesepakatan bersama. Namun seharusnya yang memegang kendali harta rumah tangga itu adalah yang benar-benar bisa mengelolanya secara baiuk dan benar. Allah SWT telah memberikan bimbingan tentang halk ini,. Firman-Nya: وَلَا تُؤْتُوا السُّفَهَاءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. Qs.4:5

Ayat ini berlaku umum, siapa pun yang memiliki tanggung jawab mengurus harta, jangan menyerahkan kepercayaannya kepada yang belum memilki kemampuan pengelolaan secara baik.

  1. Kedudukan harta dalam rumah tangga, baik pengelolaannya, maupun penggunaannya, apakah menjadi milik suami sepenuhnya, atau milik bersama yang seimbang, atau istri yang lebih banyak sangat tergantung pada kesepakatan bersama. Isyarat hokum dalam hadits ini, setiap suami wajib memneuhi kebutuhan anak dan istri. Jika suami tidak memenuhi kebutuhan istri dan anaknya, padahal dia mampu, maka sanga istri boleh memaksanya dan mengadukan ke aparat berwenang.
  2. Dalam kehidupan rumah tangga, baik suami maupun istri mempunyai hak milik. Ketetapan tersebut tersirat pula dalam firman Allah SWT: لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ (kaum lelaki memiliki hak milik sesuai dengan apa yang mereka usahakan, kaum perempuan mempunyai hak milik sesuai dengan apa yang mereka usahakan.Qs.4:32). Harta bawaan atau hasil usaha suami tetap menjadi milik suami, kecuali bila telah diberikan pada istrinya. Demikian pula harta istri tetap menjadi miliknya sendiri, kecuali bila telah diberikan pada suaminya. Prosentase kepemilikan hasil usaha bersama ditentukan oleh kesepakatan bersama. Oleh karena itu bila suami istri bercerai atau salah seorang meninggal dunia, maka kepemilikan harta yang masih campur mesti dipisahkan sesuai hasil ksepekatan dan/ atau ditetapkan oleh pengadilan.

[1] Shahih Muslim, III h.1338, no3233

[2] Awn al-Ma’bud, IX h.325

[3] Nayl al-Awthar, VII h.131

[4] Fath al-Bari, IX h.508

[5] Sunan al-Nasa`iy, hadits n.5325

[6] Musnad Ahmad, hadits no.22988

[7] Sunan al-Nasa`iy, hadits n.5325

[8] Sunan Ibn Majah, hadits no.2284

[9] Abu Zakariya Yahya al-Nawawi, Syarh al-Nawawi ala Shahih Muslim, XVI h.142-143

[10] Shahih al-Bukhari, no.1336, Shahih Muslim, no.1700, Sunan Abi Dawud, no.1435

[11] Musnad Ahmad, no.652, Sunan al-Tirmidzi, no.1252

TIGA ENERGI YANG TIDAK BOLEH DIMONOPOLI (kajian Hadits)

TIGA ENERGI YANG TIDAK BOLEH DITIMBUN DAN DIMONOPOLI

(kajian hadits riwayat Ahmad

A. Teks Hadits dan Tarjamahnya

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا ثَوْرٌ الشَّامِيُّ عَنْ حَرِيزِ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ أَبِي خِرَاشٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ

Waki telah menyampaikan hadots pada kami. Tsaur al-Syami menyampaikan hadits pada kami dari Hariz bin Utsman dari Abi Khirasy dari seorang shahabat yang menyetakan bahwa Rasul SAW bersabda: Kaum muslimin bersyerikan dalam tiga perkara yaitu air, rumput liar dan energi api. Hr. Ahmad.[1]

 

B. Takhrij Hadits

Hadis ini dirilis oleh Imam Ahmad (38/174) dan Imam Abû Dâwud.  Imam Abû Dâwud meriwayatkan di dalam Kitâb «al-Buyû’» Bâb «Fî Man’il Mâi» (3477) dari jalur Harîz ibn ‘Utsmân, dari Abû Khidâsy, dari salah seorang Sahabat Muhajirin, ia berkata: Saya berperang bersama Nabi sebanyak tiga kali. Saya mendengar beliau bersabda:«المسلمون شركاء في ثلاث …» Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dengan redaksi: مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dari salah seorang Sahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

«المسلمون شركاء في ثلاث: في الماء والكلإ والنار»

Mata rantai hadis ini sahih dan para tokohnya terpercaya. Harîz ibn ‘Utsmân adalah ar-Rahbî al-Himshî. Sedangkan Abû Khidâsy adalah Zaid asy-Syar’abî, statusnya terpercaya, merupakan salah seorang guru Harîz ibn ‘Utsmân. Mengenai para Syaikh (Guru) dari Harîz ibn ‘Utsmân, Abû Dâwud mengatakan: Para guru Harîz semuanya terpercaya. Hadis di atas tidak menyebutkan nama Sahabat yang dimaksud. Namun hal itu tidak menggugurkan kesahihan hadis ini, karena semua sahabat berstatus adil (ash-shahâbah kulluhum ‘udûl). Hadis ini memiliki syahid (penguat), antara lain hadis Abû Hurairah radhiyallâhu ‘anhu bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: ثلاث لا يمنعن: الماء والكلأ والنار

Ibn Majah meriwayatkannya dengan redaksi الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ وَثَمَنُهُ حَرَامٌ kaum muslimin bersyerikat dalam tiga perkara yaitu air, rumput liar dan api, maka mengambil keuntungan darinya adalah haram.[2] Namun menurut para muhaddits riwayat ini adalah dla’if karena terdapat seorang rawi bernama Abd Allah bin Hirasy yang dla’if.[3]

Ibn Hajar al-Asqalani mengutip hadits ini dengan redaksi sebagai berikut

عَنْ رَجُلٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ قَالَ: غَزَوْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: «النَّاسُ شُرَكَاءُ فِيْ ثَلاَثَةٍ: فِي اْلكَلَإِ وَاْلمَاءِ وَالنَّارِ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ رِجَالُهُ ثِقَاتٌ

Diriwayatkan dari seorang shahabat mengatakan bahwa saya berperang bersama Rasul SAW maka saya mendengar langsung Rasul SAW bersabda “manusia itu nerserikat dalam tiga perkara dalam rumput liar, dalam urusan air dan api”. Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud yang para tokoh haditsnya kuat dapat dipercaya.[4]

 

C. Syarah Hadits

1. الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ  kaum muslimin bersyerikat dalam tiga perkara.

Pangkal hadits ini mengandung arti perintah untuk memberikan kebebasan bagi setiap muslim menggunakannya sebagai milik bersama tidak boleh seorang pun memonopoli kepemilikan. Karena sebagai milik bersama maka tidak ada hak individu menguasainya untuk kepentingan pribadi. Jika ada orang lain membutuhkannya, maka tidak boleh mencegahnya.[5] Dalam riwayat Abu Hurairah berbunyi ثَلَاثٌ لَا يُمْنَعْنَ الْمَاءُ وَالْكَلَأُ وَالنَّارُ tiga perkara tidak boleh dimonopoli hinga malarang yang lain untuk memanfaatkannya yaitu air, rumput liar dan api.[6]Dengan demikian  setiap individu mesti meyakini bahwa di samping dirinya memiliki hak untuk memanfaatkannya juga terdapat di dalamnya hak orang lain. Karena ada hak orang lain, maka siapa pun mesti memberikan kesempatan pada fihak lainnya untuk ikut meni’mati dan memanfaatkannya. Tegasnya berserikat di sini dalam arti mengambil manfaat.

2. الْمَاءِ ِair.

Kaum muslimin mesti berserikat dalam urusan air. Air merupakan hajat hidup seluruh umat manusia, maka tidak boleh dimonopoli oleh individu. Menurut Abu Sa’id yang dimaksud الْمَاءِ  pada hadits ini adalah الْمَاءَ الْجَارِيَ air mengalir, [7] seperti sungai, danau, air hujan dan laut serta yang bersumber dari mata air.[8] Menurut Imam Ahmad kewajiban berserikat dalam air menunjukkan haramnya komersialisasi aira yang diperoleh tanpa biaya. Oleh karena itu orang yang memiliki mata air tidak dibenarkan menjualnya dan mesti memberikannya secara gratis. Jika pengelolaan sumber air tersebut menggunakan biaya, maka yang bisa dipungt dari konsumen adalah secatas kebutuhan biaya pengelolaan. Air merupakan hajat hidup bersama, maka jika dikuasai individu akan mebhayakan fihak lain. Inilah pentingnya berserikat dalam urusan air.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?Qs.21:30

Kalimat وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ  mengisyaratkan bahwa air itu merupakan kebutuhan hidup segala makhluq. Air juga sebagai awal kehidupan. Karena merupakan hajat itup semua makhluq, maka tidak boleh ada yang monopoli. Fungsi air di jaman dahulu terbagi tiga macam yaitu (1) air minum, untuk dikonsumsi,  (2) air mandi, untuk bersuci baik dari kotoran, najis maupun hadts;  (3) air kotor berfungsi untuk mengalirkan kotoran serta sebagai pupuk tanaman. Jangan menyepelekan air karena ternyata air merupakan zat gizi yang memiliki fungsi penting bagi tubuh manusia. Selain itu, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan air dalam tubuh dapat mencegah timbulnya berbagai penyakit. Hal itu tentu saja akan membuat hidup Anda menjadi lebih sehat dan nyaman.  Di bawah ini adalah beberapa fungsi air yang diperlukan oleh tubuh.[9]

a. Pembentuk sel dan cairan tubuh. Komponen utama sel adalah air, sebesar 70-85%. Sedangkan dalam sel lemak, kurang dari 10%. Air berperan besar dalam darah (mengandung 83% air), cairan lambung, hormon, enzim, otot, dan juga berguna dalam menjaga tonus otot sehingga otot mampu berkontraksi.

b. Pengatur suhu tubuh. Air dapat menghasilkan panas, menyerap dan menghantarkan panas ke seluruh tubuh sehingga tubuh tetap stabil. Selain itu, juga membantu mendinginkan tubuh melalui penguapan dari paru dan permukaan kulit dengan membawa kelebihan panas keluar tubuh.

c. Pelarut zat-zat gizi lain dan pembantu proses pencernaan makanan. Mulai dari membantu produksi air liur saat makanan di mulut, melarutkan makanan dan membantu melumasi makanan agar masuk ke kerongkongan.

d. Pelumas dan bantalan. Air berfungsi sebagai pelumas atau lubrikan dalam bentuk cairan sendi sehingga sendi dapat bergerak dengan baik dan meredam gesekan antar sendi. Selain itu, air menjadi bantalan tahan getar (shock absorbing fluid cushion) pada jaringan tubuh, seperti otak, medulla spinalis, mata dan kantong amnion dalam rahim.

e. Media transportasi. Membantu pertumbuhan dan regenerasi sel secara efektif (carrier) dan menjadi media berbagai zat dengan sifat dan kutub ion yang berbeda. Selain itu, membantu transportasi oksigen dalam tubuh dan sebagai media transportasi bagi gas karbondioksida saat mengeluarkan napas.

f. Media eliminasi sisa metabolisme. Dengan air, sisa-sisa metabolisme dalam tubuh dikeluarkan melalui saluran kemih, saluran cerna, saluran napas dan kulit.

Di jaman modern ini air juga sebagai energi gerak. Energi air dapat digunakan dalam bentuk gerak atau Perbedaan suhu. Air dijadikan sumber energi. Karena ribuan kali lebih berat dari udara, maka aliran udara yang pelan pun dapat menghasilkan sejumlah energi yang besar. Ada banyak bentuk diantaranya: (1) Hydroelectric energi, sebuah istilah yang biasanya disediakan untuk bendungan hidroelektrik. (2) Tidal daya, yang menangkap energi dari pasang-surut dalam arah horisontal. Pasang datang, meningkatkan waterlevels dalam baskom, dan pasang roll out. Air harus melalui sebuahturbin untuk keluar dari baskom. (3) Tidal stream kekuasaan, yang melakukan hal yang sama secara vertikal, menangkap aliran air seperti yang bergerak di seluruh dunia oleh pasang surut. (4) Gelombang daya, yang menggunakan energi dalam gelombang. Ombak besar biasanya akan memindahkan ponton s atas dan ke bawah. (5) Samudera konversi energi termal (OTEC), yang menggunakan perbedaan suhu antara permukaan yang lebih hangat dan laut yang sejuk (atau dingin) ceruk lebih rendah. Untuk tujuan ini, ia mempekerjakan seorang siklus mesin kalor. (6) Deep pendingin air danau, bukan secara teknis metode generasi energi, meskipun dapat menyimpan banyak energi di musim panas. Terendam menggunakan pipa sebagai heat sinkuntuk sistem kontrol iklim. Danau-bottom air sepanjang tahun konstan lokal sekitar 4 ° C.

Listrik tenaga air mungkin bukan pilihan utama untuk masa depan produksi energi di negara maju karena sebagian besar situs utama di negara ini dengan potensi pemanfaatan gravitasi dengan cara ini mungkin telah dieksploitasi atau tidak tersedia karena alasan lain seperti pertimbangan lingkungan. Membangun bendungan banjir sering melibatkan daerah yang luas lahan, perubahan habitat, dan sementara energi pembangkit tenaga listrik pada dasarnya tidak menghasilkan karbon dioksida, laporan baru-baru ini telah dikaitkan PLTA ke metana, yang membentuk membusuk terendam dari tanaman yang tumbuh di bagian-bagian kering dasar pada masa kekeringan. Metana adalah gas rumah kaca yang potensial.

Metode lain generasi energi (dan pendinginan) telah memiliki berbagai tingkat keberhasilan di lapangan. Gelombang dan badai keras untuk membuktikan kekuatan tekan, sementara OTEC belum diuji di lapangan skala besar.[10]

3. وَالْكَلَإِ

Rumput liar, juga termasuk milik bersama, yang kaum muslimin mesti bersyerikat dalam pemanfaatannya. Yang dimaksud rumput liar di sini adalah yang tumbuh dengan senidirinya, bukan ditanam, tidak pula membutuhkan pemeliharaan khusus. Rumput semacam ini biasanya tumbuh di padang rumput yang bebas, atau di hutan, gunung pinggir jalan umum. Abd al-Rahman al-Banna menjelaskan الْمُراد هنا الَّذِي يَنْبُت فِي الأرضِ الْمَوات فَلا يختص به أحد yang dimaksud الْكَلَإِ rumput dalam hadits ini adalah yang tumbuh di tanah yang tidak digarap, maka tidak ada yang berhak mengkhususkan siapapun.[11] Adapun rumput yang sengaja ditanam di tanah milik, tentu saja berbeda hukumnya dengan apa yang dimaksud dalam  hadits ini. Namun rumput yang tidak ditanam, tidak diurus partumbuhannya, walau tumbuh di tanah milik, manurut al-Hadawiyah tetap sama dengan rumput liar, karena hadits ini berlaku umum.[12] Oleh karena itu, siapapun tidak boleh memonopoli rumput liar yang tumbuh dengan sendirinya di tanah yang tidak ada pemiliknya.[13]

4. وَالنَّار

Kaum muslimin juga bersyerikat dalam pemanfaatan api. Sebagian ulama berpendapat yang dimaksud وَالنَّار pada hadits ini mencakup bahan baker yang didapat dari hasil bumi baik berupa kayu bakar dari tumbuhan liar, ataupun api itu sendiri atau dalam pengertian nyala api. Termasuk pula pada kategori api ialah panas bumi, gas, tenaga surya, api menyala, dan pengaturan cahaya. Al-Baydlawi berpendapat bahwa berserikat dalam api mencakup sinarnya, bahan bakar, sumber api, nyalanya dan cahaya matahari. Siapa pun tidak dibenarkan mencegah orang lain untuk mengambil manfaat dari api tersebut.[14]

Dengan kemajuan teknologi, ditemukan pula energi penting yang bersumber dari bumi, yang dikenal dengan energi panasbumi.

Energi panas bumi ini berasal dari aktivitas tektonik di dalam bumi yang terjadi sejak planet ini diciptakan. Panas ini juga berasal dari panas matahari yang diserap oleh permukaan bumi. Selain itu sumber energi panas bumi ini diduga berasal dari beberapa fenomena:

Energi ini telah dipergunakan untuk memanaskan (ruangan ketika musim dingin atau air) sejak peradaban Romawi, namun sekarang lebih populer untuk menghasilkan energi listrik. Sekitar 10 Giga Watt pembangkit listrik tenaga panas bumi telah dipasang di seluruh dunia pada tahun 2007, dan menyumbang sekitar 0.3% total energi listrik dunia.

Energi panas bumi cukup ekonomis dan ramah lingkungan, namun terbatas hanya pada dekat area perbatasan lapisan tektonik.

Pangeran Piero Ginori Conti mencoba generator panas bumi pertama pada 4 July 1904 di area panas bumi Larderello di Italia. Grup area sumber panas bumi terbesar di dunia, disebut The Geyser, berada di Islandia, kutub utara. Pada tahun 2004, lima negara (El Salvador, Kenya, Filipina, Islandia, dan Kostarika) telah menggunakan panas bumi untuk menghasilkan lebih dari 15% kebutuhan listriknya.

Pembangkit listrik tenaga panas bumi hanya dapat dibangun di sekitar lempeng tektonik di mana temperatur tinggi dari sumber panas bumi tersedia di dekat permukaan. Pengembangan dan penyempurnaan dalam teknologi pengeboran dan ekstraksi telah memperluas jangkauan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi dari lempeng tektonik terdekat. Efisiensi termal dari pembangkit listrik tenaga panas umi cenderung rendah karena fluida panas bumi berada pada temperatur yang lebih rendah dibandingkan dengan uap atau air mendidih. Berdasarkan hukum termodinamika, rendahnya temperatur membatasi efisiensi dari mesin kalor dalam mengambil energi selama menghasilkan listrik. Sisa panas terbuang, kecuali jika bisa dimanfaatkan secara lokal dan langsung, misalnya untuk pemanas ruangan. Efisiensi sistem tidak memengaruhi biaya operasional seperti pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil.

Energi panas bumi pun berdasar hadits ini tidak boleh dimonopoli individu, melainkan mesti dikuasai lembaga pemerintahan untuk dimanfaatkan oleh penduduknya secara bersama.

 

D. Beberapa Ibrah

1. Kaum muslimin berserikat dalam air, rumput liar dan energi api. Hadits ini mengisyaratkan bahwa ketiga sumber energi tersebut tidak boleh dimonipoli, tidak pula ditimbun oleh individu.

2. Hadis ini adalah dalil bahwa air, padang rumput, dan api adalah milik kaum muslimin secara umum. Individu tidak boleh memilikinya secara pribadi. Tidak seorang pun boleh mencegah orang lain memperoleh manfaat darinya. Dengan demikian sumber energi air, rumput liar dan energi panas hanya boleh dikuasai oleh lembaga pemerintahan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh mesyarakat.

3. Tiga sumber energi adalah milik umum. Yang dimaksud hak milik umum ialah sesuatu yang digunakan bagi keperluan umum. Pada zaman Rasulullah saw ditentukan ialah air, api dan padang rumput. Mata air dan sumur wajib dimanfaatkan bagi orang umum. Seseorang yang mempunyai sumber air wajib mengizinkan orang lain mengambil airnya, tidak dibenarkan memonopoli untuk diri dan keluarganya saja. Demikian juga orang yang memiliki api atau pembuat api, atau energi panas, karena api merupakan hajat hidup manusia juga.

4. Padang rumput yang hanya sedikit jumlahnya di tengah gurun, yang menjadi tempat penggembalaan ternak bagi seluruh penduduk. Orang tidak dibenarkan memonopoli atau memiliki kegunaan padang rumput itu hanya bagi diri dan keluarganya, tetapi harus terbuka untuk umum.

5. Dewasa ini hak milik umum lebih meluas yaitu mencakup juga jalan, sungai, jembatan, lautan, danau, bukit, tambang dan sebagainya. Yang dimaksud dengan harta atau benda-benda vital ialah sesuatu yang mutlak diperlukan bagi kepentingan negara dan bagi hajat hidup rakyat seperti …. , penggalian tambang seperti minyak bumi serta gas alam dan batubara.”[15]

5. Islam mengenal tiga jenis kepemilikan, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan Negara. (a) Kepemilikan individu adalah hukum syara’ yang berlaku bagi zat ataupun kegunaan (utility) tertentu, yang memungkinkan siapa saja yang mendapatkannya untuk memanfaatkan barang tersebut, serta memperoleh kompensasi – baik karena barangnya diambil kegunaannya oleh orang lain seperti disewa, ataupun karena dikonsumsi untuk dihabiskan zatnya seperti dibeli – dari barang tersebut. (b). Kepemilikan umum adalah izin asy-Syâri’ (Zat Pembuat syariat) kepada suatu komunitas untuk sama-sama memanfaatkan benda. Sedangkan benda-benda yang termasuk dalam kategori kepemilikan umum adalah benda-benda yang dinyatakan oleh asy-Syâri’ bahwa benda-benda tersebut untuk suatu komunitas, di mana mereka masing-masing saling membutuhkan, dan asy-Syâri’ melarang benda tersebut dikuasai oleh hanya seorang saja.

6. Benda-benda ini tampak pada tiga macam, yaitu: 1) Sesuatu yang merupakan fasilitas umum yang jika tidak ada di dalam suatu negeri atau komunitas, maka akan menyebabkan sengketa dalam mencarinya, 2) Bahan tambang yang tidak terbatas, 3) Sumber daya alam yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki hanya oleh individu secara perorangan.

7. Kepemilikan negara adalah harta yang merupakan hak seluruh kaum Muslimin, sementara pengelolaannya menjadi wewenang khalifah, di mana dia bisa mengkhususkan sesuatu kepada sebagian kaum Muslimin, sesuai dengan apa yang menjadi pandangannya.

8. Makin meledaknya populasi manusia, membuat kebutuhan akan energi makin meningkat. Salah satunya adalah energi listrik. Pemerintah kemudian mengupayakan untuk menambah pasokan listrik nasional. Namun upaya yang dilakukan masih menggunakan cara lama, yaitu dengan mengolah bahan bakar fosil. Hal ini tentu dapat menimbulkan masalah. Bahan bakar fosil adalah salah satu bentuk energi yang tidak dapat diperbarui. Sehingga apabila terus dieksploitasi tentu akan membuat semakin terbatasnya cadangan bahan bakar fosil. Untuk itu, perlu dikembangkan suatu sumber energi baru. Upaya penemuan sumber energi terbarukan ini bahkan sudah menjadi “trending topic” di negara-negara lain. Salah satu sumber energi terbarukan yang banyak menjadi wacana adalah sumber energi nuklir dan panas bumi. Kedua sumber energi ini sudah lama menjadi wacana. Namun pada praktek pelaksanaannya pemanfaatan energi nuklir jauh lebih banyak menuai kontroversi. Salah satu bentuk kontra masyarakat dapat dilihat dari reaksi Warga Balong, Jepara, Jawa Tengah. Mereka menolak keras proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di desa mereka. Penolakan ini dengan alasan dampak yang dapat ditimbulkan bila terjadi kesalahan dalam proyek PLTN. Bencana yang baru- baru ini terjadi di Jepang pun turut menambah ketakutan masyarakat akan penggunaan teknologi nuklir. Gempa yang terjadi di Jepang pada tanggal 11 Maret lalu hanya berkekuatan 8,9 skala Richter. Namun mampu membuat kekhawatiran yang begitu besar bagi warga dunia karena mampu mengakibatkan meledaknya reaktor nuklir unit 1 di Fukushima, Jepang. Kekuatan gempa yang menempati urutan ketujuh gempa terbesar di dunia ini berada di bawah kekuatan gempa yang pernah melanda Sumatra pada tanggal 26 Desember 2004. Gempa Sumatra yang berkekuatan 9,1 skala ritcher menempati urutan ketiga gempa terbesar di dunia.  Dibandingkan sumber energi nuklir, pemakaian sumber energi panas bumi sebenarnya jauh lebih berpotensi bila dilaksanakan di Indonesia. Energi panas bumi adalah energi yang diekstrasi dari panas yang tersimpan di dalam bumi. Bila dibandingkan negara lain, Indonesia merupakan negara yang memiliki energi panas bumi terbesar. Sumber energi panas bumi di Indonesia mencapai 40% dari total energi panas bumi dunia. Melihat fakta ini, seharusnya Indonesia mampu menjadi negara produsen panas bumi terbesar di dunia. Namun kenyataannya Indonesia masih belum mampu memanfaatkan potensi yang dimiliki secara maksimal. Banyak Wilayah kerja pertambangan atau WKP energi panas bumi di beberapa daerah terbengkalai dan kurang diminati investor. Seharusnya ini menjadi perhatian pemerintah. Namun kenyataannya pemerintah terlalu sibuk dengan proyek energi nuklirnya yang masih sangat controversial itu. Akibatnya Indonesia baru dapat memanfaatkan potensinya sebesar 4,2%.

Pemakaian energi panas bumi bahkan memiliki nilai lebih bila dibandingkan energi nuklir dan energi lain. Energi panas bumi jauh lebih ramah lingkungan karena emisinya tidak mengandung polutan kimiawi atau limbah, sehingga mampu mendukung upaya untuk mengurangi pemanasan global. Hal ini tentu berbeda sekali dengan energi nuklir. Selain menghasilkan polutan, limbah energi nuklir seperti plutonium hanya bisa meluruh setengah dari daya radioaktif total dalam kurun waktu 24.000 tahun. Artinya dibutuhkan waktu 24.000 tahun untuk dapat mengurangi sifat radioaktif limbahnya sebanyak 50%. Padahal, di Bumi tidak pernah dijumpai bangunan yang tetap mampu berdiri kokoh dalam kurun waktu 24.000 tahun. Lalu akan disimpan dimana limbah radioaktif tersebut?. Kemudian kelebihan lain energi panas bumi adalah dapat terbarukan karena sumber panas yang berada dalam bumi tidak terbatas, tidak seperti bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui. Energi panas bumi atau disebut juga “energi hijau” mampu menghemat anggaran negara. Anggaran negara untuk konsumsi bahan bakar fosil atau upaya pemeliharaan PLTN bisa dipangkas banyak. Energi panas bumi mampu menyediakan pasokan listrik yang lebih andal, stabil dan tidak memakan banyak tempat.



[1] Musnad Ahmad, Juz 47 h.57 no.22004

[2] Sunan Ibn Majah, no.2463

[3] Jami al-Ulum, XXXII h.18

[4] Bulugh al-Maram, Bab Ihya al-Mawat, nomor urut 9

[5] Subul al-Salam, III h.86

[6] Sunan Ibn Majah, no.2464

[7] Sunan Ibn Majah, no.2463

[8] Faidul-Qadir, VI h.353

[9] http://www.readersdigest.co.id/sehat/nutrisi/manfaat.air.bagi.tubuh/005/002/67

[10] http://hijauindonesia-ku.blogspot.com/2012/06/tenaga-air-sebagai-sumber-energi.html

[11] al-Fath al-Rabbani, XV h.132

[12] al-Shan’ani, Subul al-Salam, III h.87

[13] Jami al-Ulum, XXXII h.18

[14] Faidul-Qadir, VI h.353

[15] 12. Putusan Tarjih tentang al-Amwal fil-Islam, hasil Muktamar Tarjih ke-20 di Garut 1976,

YANG MESTI IZIN SUAMI ISTRI (kajian hadits riwayat al-Bukhari)

YANG MESTI IZIN SUAMI ISTRI

(kajian hadits riwayat al-Bukhari)

A. Teks Hadits dan Tarjamahnya

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ

وَرَوَاهُ أَبُو الزِّنَادِ أَيْضًا عَنْ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي الصَّوْمِ

Abu al-Yaman menyampaikankan hadits pada kami. Syu’aib mengabarkan hadits pada kami. Abu al-Zinad meriwayatkan hadits pada kami dari al-A’raj dari Abi hurairah. Sesungguhnya Rasul SAW bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita untuk melaksanakan shaum sedangkan suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Tidak halal bagi seorang wanita untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa persetujan suaminya. Apa yang wanita nafqahkan tanpa perintah  suaminya, maka setengahnya mesti dibayar pada suaminya. Abu al-Zinad juga meriwayatkan hadits yang senada dari Abi Musa, dari ayahnya dari Abi Hurairah. Hr, al-Bukhari[1]

 

B. Takhrij Hadits

1. حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ  Abu al-Yaman mengabarkan hadits pada kami. Syu’aib mengabarkan hadits pada kami. Abu al-Zinad meriwayatkan hadits pada kami dari al-A’raj dari Abi hurairah.

Kalimat ini mengisyaratkan bahwa al-Bukhari (a94-256H) menerima hadits dari أَبُو الْيَمَانِ yang bernama al-Hakam bin Nafi, dia adalah Tabi al-Atba, dijuluki Abu al-Yaman yang wafat tahun 222H.  Beliau menerima hadits dari شُعَيْبٌ yang nama populernya adalah Abu Bisyr bin Abi Hamzah Dinar, sebagai tabi al-Tabi’in, lama hidup di Syam dan wafat tahun 162H. Yang menyampaikan hadits pada beliau adalah أَبُو الزِّنَادِ nama aslinya Abdullah bin Dakwan, sebagai Tabi’in (karena bertemu dengan shahabat dalam keadaan muslim), lama hidup di Madinah dan wafat tahun 130H.  Beliau menerima hadits dari الْأَعْرَجِ seorang tabi’in senior, yang benarma asli Abdurrahman bin Hurmuz dijuluki juga dengan nama Abu daud, lama hidup di Madinah dan wafat tahun 117. Beliau menerima hadits dari Abu Hurairah yaitu seorang shahabat yang bernama asli Abdurrahman bin Shahr, wafat tahun 57H, yang riwayatnya telah diungkap pada pembahasan yang lalu.

وَرَوَاهُ أَبُو الزِّنَادِ أَيْضًا عَنْ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي الصَّوْمِ

Kalimat ini menginformasikan bahwa hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu al-Zinad melalui jalur lainnya yaitu dari Musa, dari ayahnya yang masih dari Abi hurairah. Itulah komentar al-Bukhari. Hadits ini sangat popular di kalangan ahli hadits, bahkan tiga imam dari penyusun al-Kutub al-Sittah meriwayatkannya dengan berbagai jalur atau mata rantai hingga sampai pada mereka. Adapun redaksinya ada yang sama ada pula yang berbeda. Perbandingan redaksinya dapat dilihat pada table berikut.

 

NAMA IMAM DAN NOMOR HADITS

REDAKSI MATAN HADITS DAN TARJAMAHNYA

Al-Bukhari (194-256H); hadits nomor 4796

 

لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ

Tidak halal bagi seorang wanita untuk melaksanakan shaum sedangkan suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Tidak halal bagi seorang wanita untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa iznin suaminya. Apa yang wanita nafqahkan tanpa perintah  suaminya, maka setengahnya mesti dibayar pada suaminya.

Muslim (206-261H); hadis nomor 1704

لَا تَصُمْ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنْ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ كَسْبِهِ مِنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّ نِصْفَ أَجْرِهِ لَهُ

Seorang wanita tidak dibenarkan melaksanakan shaum padahal suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Perempuan juga tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumah suaminya padahal dia masih ada kecuali atas izinnya. Apa yang diinafkkan seorang wanita dari hasil usaha suami tanpa perintahnya, maka setengah pahalanya adalah untuk suaminya

Abu Daud (202-275H); hadits nomor 2102

لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ غَيْرَ رَمَضَانَ وَلَا تَأْذَنُ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Seorang wanita tidak dibenarkan shaum, padahal suaminya ada tanpa izinnya, kecuali ramadlan. Seorang wanita tidak dibenarkan mengizinkan orang lain masuk rumah padahal suaminya masih ada kecuali atas izinnya

 

C. Syarah Hadits

1.. أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ Sesungguhnya Rasul SAW bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita untuk melaksanakan shaum sedangkan suaminya hadir, kecuali atas izinnya.

Kalimat لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ (tidak halal bagi kaum wanita), ditinjau dari sudut fiqih menunjukkan keharaman, karena setiap yang tidak halal adalah haram. Memang ada ulama yang berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh, karena kalimat tidak halal tidak semua mengisyaratkan haram. Namun menurut al-Asqalani, kalimat لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ yang lebih tepat diartikan hukumnya haram bagi kaum wanita, sebagai mana menurut mayoritas ulama. [2] Kalimat أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ (wanita shaum tatkala suaminya hadir, kecuali dengan seizinnya. Menurut riwayat muslim (206-261H) menggunakan redaksi larangan  لَا تَصُمْ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ (janganlah seorang wanita shaum ketika suaminya ada kecuali dengan izinnya).[3] Yang diharamkan di sini adalah shaum tathawwu bukan shaum wajib, sebagaimana terungkap dalam riwayat al-Tirmidzi (209-279H) dan Ibn Majah (207-275H)  dengan redaksi لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ يَوْمًا مِنْ غَيْرِ شَهْرِ رَمَضَانَ إِلَّا بِإِذْنِهِ Seorang perempuan tidak dibenarkan shaum sehari pun padahal suaminya hadir, selain shaum ramadlan kecuali dengan izinnya.[4]

Al-Nawawi (631-676H),[5]  menegaskan bahwa larangan ini mengisyaratkan haramnya wanita shaum sunat ketika suaminya hadir kecuali atas izinnya, karena shaum sunat itu waktunya tidak sempit boleh dilaksanakan di hari lain. Adapun salah satu sebabnya diharamkan adalah seorang suami mempunyai hak untuk bersenang-senang dengan istrinya kapanpun. Memenuhi keinginan suami untuk menenyangkannya adalah menjadi kewajiban seorang istri. Oleh karena itu tidak boleh dikalahkan dengan ibadah yang disunnahkan. Ada yang berpendapat  bahwa shaum sunat tanpa izin suami itu semestinya dibolehkan saja, tapi tatkala suaminya menginginkan sesautu dari istri yang menimbulkan batalnya shaum, maka istrinya mesti membatalkan shaumnya, umpamanya menginginkan makan berasama atau sebangsanya. Al-Nawawi menjawab pendapat tersebut dengan menegaskan bahwa shaumnya sang istri bisa mengganggu kebebasan suami untuk memenuhi keinginanya, maka semestinya minta persetujuan terlebih dahulu.[6]

Adapun perkataan وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ atau dalam redaksi lainnya وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ (sedangkan suaminya menyaksikan atau hadir) mengisyaratkan bahwa istri dilarang shaum sunat tanpa persetujuan suaminya itu ketika suaminya berada di rumah atau sedang berbarengan dengannya. Jika suaminya itu sedang bepergian, sedangkan istrinya tidak ikut dan berada di rumah, maka istrinya boleh saja shaum tanpa minta persetujuan terlebih dahulu. Namun menurut al-Asqalani,[7] jika seorang istri sedang shaum padahal suaminya tidak di rumah, tiba-tiba di siang hari suminya datang dan menghendaki sesuatu yang membatalkan shaum, maka wajiblah istrinya itu membatalkan shaumnya. Larangan ini juga memberi isyarat bahwa di antara kebaikan istri pada suami adalah tidak melakukan ibadah yang hukumnya sunat yang menganggu keharmonisan rumah tangga. Menjaga keharmonisan suami istri hukumnya wajib, maka jangan sampai terganggu oleh ibadah yang hukumnya sunat. Dalam riwayat Ibn Abi Syaibah diterangkan ada seorang waniya yang menghadap Rasul menanyakan tentang hak suami yang mesti dipenuhi istrinya, maka Rasul SAW bersabda: لا تصوم إلا بإذنه إلا الفريضة فإن فعلت أثمت ولم يقبل منها  tidak dibenarkan seorang istri shaum tanpersetujuan suaminya kecuali yang difardlukan. Jika istrinya tetap melakukan shaum maka termasuk dosa dan tidak akan diterima shaumnya.[8] Kalimat إِلَّا بِإِذْنِهِ juga mengandung arti syarat dikabulnya ibadah sunat yang dilakukan seorang istri adalah persetujuan suami. Persetujuan tersebut baik dalam bentuk kalimat langsung ataupun tidak langsung. Namun bukan berarti istri dilarang melakukan semua ibadah sunat tanpa izin suami. Sepanjang ibadah sunat yang dilakukannya itu tidak menganggu keharmonisan suami istri maka dapat dijalankannya.[9]  Larangan ibadah shaum sunat bagi istri tanpa persetujuan suami, juga memberi isyarat adanya kemestian mendahulukan kewajiban di banding yang hukumnya sunat. Tegasnya  larangan ini tidak mencakup shalat sunat yang hanya membutuhkan waktu singkat.[10] Namun jika ibadah yang hukumnya sunat itu dapat mengganggu atau menghalangi kewajiban memelihara kebahagiaan suami istri, maka sepantasnya dihindari. Dalam riwayat Ahmad (164-241H) bahkan ditegaskan seorang istri dilarang shaum sunat tanpa iizin suaminya walau hanya satu hari. Perhatikan redaksinya: لَا تَصُمْ الْمَرْأَةُ يَوْمًا وَاحِدًا وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Janganlah seorang perempuan shaum walau hanya satu hari, padahal suaminya ada kecuali dengan izinnya. Hr. Ahmad.[11]

لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ يَوْمًا وَاحِدًا وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ إِلَّا رَمَضَانَ

Seorang perempuan tidak shaum walau hanya satu hari padahal suaminya ada kecuali dengan izinnya selain ramadlan. Hr. Ahmad.[12]9780

Kalau ibadah tathawwu itu mesti mendapat izin dari suami, maka secara tersirat seorang suami boleh saja membatasi istrinya dalam melakukan ibadah tathawu yang diperkirakan mengganggu hak dan kewajiban. Secara tersurat hadits ini melarang istri beribadah tathawu tanpa izin suaminya. Tegasnya suami memiliki wewenang untuk meberi atau tidak memberi izin istrinya. Namun bukan berarti sang suami boleh bertindak sewenag pada istrinya, karena diperintah untuk memperlakukan istrinya secara ma’ruf sebagaimana ditegaskan dalam Qs.4:19. Dalam hadits ini memang tidak dibahas tentang bagaimana suami melakukan ibadah tathawwu tanpa izin istri, apakah dibolehkan sepanjang tidak mengganggu keharmonisan? Tidak ditemukan hadits yang secara tersurat melarangnya. Namun hal ini tentu berkaitan dengan kewajiban suami menjaga perasaan sang istri. Itulah mungkin salah satu hikmahnya, Rasul minta izin siti Aisyah untuk bertahajjud. Beliau bersabda pada Aisyah:يا عائشة ذريني  أتعبد الليلة لربي »  Wahai Aisyah !  sudikah dikau membiarkan diriku beribadah pada Tuhanku semalam ini? Aisyah menjawab:  والله إني لأحب قربك ، وأحب ما سرك ،   demi Allah seungguhnya diriku sangat mencintai dekat denganmu dan aku sangat mencintai apa yang engkau senangi yang menyenangkanmu. Kemudian Rasul SAW bersuci dan melaksanakan qiam al-Lail.  Hr. Ibn Hibban.[13] Hadits ini mengisyaratkan bertapa Rasul SAW memperlakukan istrinya dengan akhlaq yang mulia. Beliau meminta izin Aisyah terlebih dahulu tatkala akan melakukan ibadah di waktu malam. Budi pekerti beliau merupakan teladan bagi setiap suami. Dengan demikian tidak hanya sang istri minta izin suami untuk melakukan ibadah tathawwu, suami pun diperlukannya untuk menjaga keharmonisan keluarga. Ibadah ritual yang hukumnya tathawwu atau sunat secara fiqhiyah memang tidak boleh mengganggu kewajiban yang sifatnya social. Itulah mungkin salah satu hikmahnya mengapa Rasul SAW membatasi umat yang ingin beribadah melebihi beliau. Shaum tidak boleh setiap hari, shalat malam pun tidak boleh semalam suntuk. Abdullah bin Amr bin Ash menerangkan bahwa tatkala beliau bertekad untuk memperbanyak ibadah, Rasul SAW bersabda:

يَا عَبْدَ اللَّهِ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَلَا تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Wahai Abdallah! Kabarnya engkau selalu shaum di siang hari, dan bangun malam. (kata Ibn Amr) betul wahai Rasul! Beliau bersabda: jangan engkau lakukan seperti itu! Shaumlah dan berbuka lah! Bangunlah malam dan tidurlah sebagiannya. Sesungguhnya jasadmu punya hak untuk kemu penuhi. Matamu juga punya hak untuk kamu penuhi. Istrimu juga punya hak untuk kamu penuhi kebutuhannya. Hr. al-Bukhari (194-256H).[14]

Dalam riwayat Ahmad (164-241) ditegaskan:

لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

Dirimu punya hak yang mesti kamu penuhi, keluargamu juga punya hak yang mesti kemu penuhi. Har. Ahmad.[15]

Demikiian pula dalam membaca al-Qur`an mesti memberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Ketika Abdullah bin Amr bertekad memperbanyak bacaan al-Qur`an, Rasul bersabda:

اقْرَأْ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ قَالَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً قَالَ فَاقْرَأْهُ فِي عِشْرِينَ لَيْلَةً قَالَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً قَالَ فَاقْرَأْهُ فِي سَبْعٍ وَلَا تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ

Bacalah olehmu al-Qur`an di setiap bulan! Saya berkata bahwa masih kuat melebihi itu. Sabda Rasul bacalah menamatkannya dalam dua puluh malam! Saya katakana masih kuat! Rasul bersabda bacalah al-Qur`an dalam tujuh hari dan jangan lebih dari itu. Hr. Muslim.[16]

Rasul membatasi ibadah Ibn Amr bahwa shaum tidak boleh setiap hari, shalat tidak boleh semalam suntuk, membaca al-Qur`an sebaiknya satu bulan saja untuk menamatkannya. Kalau pun masih banyak waktu dan kesempatan bolehlah sampai tujuh hari dan tidak boleh melebihi itu, karena harus ada kesempatan untuk kepentingan memenuhi kebutuhan diri dan keluarga. Dengan demikian sang suami boleh saja membatasi ibadah istrinya, yang sudah dibatasi oleh Rasul SAW tersebut, yang sifatnya ritual yang tidak diwajibkan.

 

2.. وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ Tidak halal bagi seorang wanita untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa iznin suaminya.

Kalimat ini tidak terpisahkan dengan kalimat sebelumnya yang menggunakan kata sambung secara mutlak. Dengan demikian وَلَا تَأْذَنَ  pada hadits ini bermakna تَأْذَنَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ tidak halal bagi seorang perempun memberi izin فِي بَيْتِهِ di rumahnya إِلَّا بِإِذْنِهِ kecuali dengan izin suaminya. Dalam riwayat muslim menggunakan kalimat وَلَا تَأْذَنْ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ Tidak halal bagi seorang wanita padahal suaminya hadir, untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa iznin suaminya. Namun kalimat وَهُوَ شَاهِدٌ bukan berarti membolehkan memberi izin ketika suaminya tidak ada, tapi sebagai penegasan atau menguatkan kalimat sebelumnya. Berfungsi pula sebagai من باب الأولى yang mengandung arti ketika ada suaminya di rumah mesti minta izin terlebih dahulu, untuk mempersilakan orang lain masuk rumah; apalagi tatkala suaminya tidak ada di rumah. Tegaslah seorang istri berkewajiban minta izin suami tatkala hendak mempersilakan orang lain masuk ke rumah, baik suaminya ada di rumah ataukah sedang tiada. Salah satu tanggung jawab istri terhadap suami adalah menjaga kehormatan diri, kehormatan suami dan juga kepemimpinan rumah tangga tatkala suaminya tiada di rumah. Allah SWT berfirman:فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ Wanita shahihat ada yang taat setia dan pandai menjaga tatkala suaminya tiada sebagaimana Allah telah menjaganya. Qs.4:35

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

dari Abi Hurairah, berkata: Rasul SAW ditanya: Wanita yang bagaimanakah yang terbaik? Beliau menjawab yang menyenangkan suami tatkala melihatnya, taat tatkala suami memerintah, tidak menyalahi suaminya dalam mengurus diri dan harta, hingga melakukan yang tidak disenangi. Hr. al-Nasa`iy.[17] Redaksi lainnya berbunyi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا فِي مَالِهِ

dari Abi Hurairah, berkata: Rasul SAW ditanya: Wanita yang bagaimanakah yang terbaik? Beliau menjawab yang menyenangkan suami tatkala melihatnya, taat tatkala suami memerintah, tidak menyalahi suaminya dan tidak melakukan sesuatu yang kurang disenangi suaminya baik dalam mengurus diri maupun urusan harta suaminya. Har. Ahmad.[18]

خير النساء اللاتي إذا نظرت إليها سرتك ، وإذا أمرتها أطاعتك ، وإذا غبت عنها حفظتك في نفسها ومالها

Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkanmu tatkala kamu melihatnya, taat dan setia tatkala kamu memerintahnya, serta senantiasa menjaga diri dan hartanya tatkala kamu tidak dio sampingnya. Hr. Ibn Abi Hatim, Abu Dawud al-Thayalisi.[19]

ألا أخْبِرُك بِخَيْرِ مَا يكنزُ المَرْء المَرْأةُ الصَّالِحَة إذَا نَظَر إليْهَا سَرَّتْه وإذا أمَرَها أطَاعَتْه وإذا غَابَ عَنْهَا  حَفظتْه في نَفْسِهَا وَمَالِه

“Ingatlah aku beritahukan kepada kamu tentang simpanan seseorang yang patut dipelihara, yaitu isteri yang shalih; yang menyenangkan suami tatkala melihatnya, selalu taat tatkala suami memerintahnya, dan selalu menjaga dirinya dan harta suami tatkala jauh darinya”. Hr. Abu Dawud (w.275 H), Ibn Majah (w.275 H),  dan Abû Ya’la (w.307). [20]

Abu Umamah (w. 86 H) menerangkan bahwa Rasul SAW bersabda:

مَا اسْتَفَادَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرًا لَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ وَإِنْ غَابَ عَنْهَا نَصَحَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

Tidak ada yang lebih baik manfaatnya yang diraih mu`min setelah taqwa kepada Allah dibanding isteri yang shalih; jika suaminya memerintah ia setia, jika melihatnya ia menyenangkan, jika memberi bagian ia tetap berbaikan, jika suami sedang tiada, ia tetap menjaga dirinya dan harta suaminya”. Hr. Ibn Mâjah (w.275 H).[21]

Berdasar beberapa hadits di atas, jelaslah bahwa seorang istri bertanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan rumahtangganya terutama tatkala suami tidak ada di tempat. Istri merupakan pemimpin rumah tangga mewakili suami yang sedang tidak di tempat. Di samping itu kalimat وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا فِي مَالِهِ menunjukkan bahwa pada prisipnya seorang istri tidak diperkenankan untuk melakukan hal-hal yang tidak disenangi suaminya, baik dalam urusan sikap diri maupun urusan pengelolaan harta. Dalam riwayat lain ditegaskan وإن لَكُم عَلَيْهِنَّ  أن لا يُوَطِّئْن فَرْشَكُمْ أحَدًا تَكْرَهُوْنَه “Ingatlah di antara yang menjadi hakmu sebagai tanggung jawab isteri; jangan sampai mereka memasukkan seorang pun yang tidak kamu senangi ke rumahmu.” Hr. al-Darimi (w.255 H), dari Jabir bin ‘Abd Allah.[22]

Dikaitkan dengan pangkal hadits yang dibahas yang melarang shaum sunat tanpa izin suami, jelas berkaitan dengan urusan ibadah ritual, maka potongan hadits ini berkaitan dengan ibadah social yang ada hubungannya dengan sesame manusia. Kedua macam ibadah tersebut tentu saja sangat bernilai di sisi Allah maupun sisi manusia. Namun ternyata berdasar hadits yang dikaji di sini, baik ritual maupun social yang dilakukan seorang istri, mesti tetap atas izin suami, jelaslah jangan sampai mengganggu keharmonisan berkeluarga. Istri yang mengutamakan kepentingan keluarga khususnya keharmonisan dengan suaminya mendapat jaminan untuk mendapatkan surg di hari akhirat kelak. Rasul SAW bersabda:

إذَا صَلَّت المَرْأةُ خَمْسَهَا وَصَاَمتْ شَهْرَهَا وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أي أبْوَابِ الجَنَّةِ شَاءَتْ

“Jika perempuan itu menegakkan shalat lima waktu, shaum bulan ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat pada suaminya, maka akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia inginkan.” Hr. Ibn Hibban (w. 354 H) dari Abi Hurairah.[23]

Hadits ini berisi jaminan bagi isteri yang taat pada suami, bila ia menegakkan shalat, shaum, dan menjaga kehormatannya, akan masuk surga. Dengan demikian isteri yang setia pada suaminya, bukan hanya meraih derajat sebagai wanita terbaik di dunia, tapi juga menjadi ahli surga di akhirat kelak. Perintah suami yang mesti ditaati isteri, tentu saja yang tidak bertentangan dengan syari’at  Islam. Jika perintahnya itu bertentangan dengan syari’at, maka yang mesti ditaati adalah Allah SWT dan Rasul-Nya. Siapa pun tidak dibenarkan menaati suatu perintah yang bertentangan dengan perintah Allah SWT. Rasul bersabda:لا طَاعَةَ  لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَة الخَالِق “Tidak ada ketaatan pada makhluq dalam berbuat maksiat terhadap Khaliq.” Hr. Ibn Abî Syaybat (w.235) dari al-Hasan.[24]

Timbul pertanyaan, bagaimana kalau seorang suami mengajak masuk perempuan lain ke rumahnya tanpa izin istri? Tentu saja jawabannya bukan dengan hadits inhi, melainkan dalam ketentuan lainnya. Pada dasarnya baik suami maupun istri mesti berusaha saling menyenangkan dan menghindari hal-hal yang menimbulkan ketidaknyamanan pasangannya. Istri berkewajiban menjaga ketentraman dan kenyamanan suami. Suami pun berkewajiban menjaga ketentraman dan kenyamanan istrinya. Allah SWT berfirman: فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Jika istrimu itu teah setia menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyulitkan mereka, sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha Agung. Qs.4:34

3.. وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ Apa yang wanita nafqahkan tanpa perintah  suaminya, maka setengahnya mesti dibayar pada suaminya.

Dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, penggalan hadits ini mengandung perintah agar seorang istri yang akan berinfaq hendaklah minta persetujuan terlebih dahulu dari saminya. Konsekuensinya bila seorang istri infaq tanpa persetujuan suami, maka mesti mengembalikan atau membayar setengah dari apa yang telah diinfakkannya. Kalimat ini juga memberi isyarat bahwa harta rumah tangga merupakan milik bersama suami istri. Jika salah satu di antara suami istri, berkeinginan menggunakannya di luar kepentingan bersama, maka mesti ada persetujuan kedua belah fihak. Diriwayatkan dari Abi Hurairah

فِي الْمَرْأَةِ تَصَدَّقُ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا قَالَ لَا إِلَّا مِنْ قُوتِهَا وَالْأَجْرُ بَيْنَهُمَا وَلَا يَحِلُّ لَهَا أَنْ تَصَدَّقَ مِنْ مَالِ زَوْجِهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ

Mengenai seorang istri bersedekah dari harta rumah tangga suaminya, dia mengatakan tidak boleh kecuali dari kelebihan makanan [pokok dan pahala untuk keduanya; tidak halal seorang istri bersedekah dari harta suaminya kecuali atas izinnya. Hr. Abu Dawud.[25]

Jika harta yang diinfakkan istri itu mendapat persetujuan suaminya, maka pahala dari infaq tersebut sampai pula kepada suaminya. Rasul SAW bersabda:

إِذَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ كَسْبِ زَوْجِهَا عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِهِ

Jika seorang istri berinfaq dari harta hasil usaha suaminya, tanpa perintah suaminya, maka setengah pahala adalah untuk suaminya. Hr. Al-Bukhari.[26]

Kalimat وَلَا يَحِلُّ لَهَا أَنْ تَصَدَّقَ مِنْ مَالِ زَوْجِهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ tidak halal bagi istri bersedekah tanpa izin suami tersebut tentu saja bila diambil dari harta suami seperti ditegaskan dengan kalimat مِنْ مَالِ زَوْجِهَا bukan dari harta milik sendiri. Menurut mayoritas ulama yang dilarang oleh hadits ini juga infaq yang hukumnya sunat bukan yang wajib sebagaimana shaum, karena hal yang wajib tidak mesti ada persetujuan. Aisyah radliallahu anha menerangkan sebagai berikut:

دَخَلَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ امْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ لَا يُعْطِينِي مِنْ النَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ

Hindun binti Utbah istri Abi Sufyan menghadap Rasul SAW, berkata: Wahai Rasul! Sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang laki-laki yang sangat kikir. Dia tidak memberi nafaqah padaku dan pada anakku yang mencukupi, kecuali apa yang kau ambil dari hartanya tanpa sepengetahun dia. Apakah aku memikul dosa atas perbuatanku itu? Rasil SAW bersabda: ambilah dari hartanya secara ma’ruf apa yang mencukupi kebutuanmu dan menuckupi kebutuhan anakmu. Hr. Muslim (206-261H).[27]

Hadits ini memberi isyarat bahwa seorang istri diperbolehkan mengambil harta suami untuk memenuhi apa yang telah diwajibkan padanya. Hal ini juga termasuk pada kategori memenuhi tanggung jawab tentang kemaslahatan keluarga. Jadi jelas infaq dari harta suami yang diperbolehkan istri mengeluarkannya tanpa persetujuan adalah (1) yang hukumnya wajib (2) yang tathawu tapi tidak menggangu kebutuhan pokok. Rasul SAW bersabda:

إِذَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ لَا يَنْقُصُ بَعْضُهُمْ أَجْرَ بَعْضٍ شَيْئًا jika seorang wanita berinfaq dari harta rumah tangganya sepanjang tidak menimbulkan kerusakan, maka pahalanya adalah untuknya dan untik suaminya. Dia dapat pahala karena berinfaq, dan suaminya dapat pahala karena telah mencarikan nafqah. Demikian pula seorang bendahara, akan mendapat pahala dari yang mereka infakkan. Satu sama yang lain mengurangkan paha yang lain sedikit pun. Hr.Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud.[28]

Hadits ini memberikan jaminan siapa pun yang berjasa dalam berinfaq bakal mendapatkan pahala. Seorang istri yang menginfakkaan harta suaminya dapat pahala karena menyalurkan harta secara tepat. Seorang suami juga mendapat pahala dari harta yang diinfakkan istrinya, karena telah berjasa mencari nafqah. Demikian pula seorang bendara mendapatkan pahala darin infaqnya karena berjasa mengelola harta secara tepat, tidak akan mengurangi pahala sipemilik harta. Apa yang mereka infakkan secara tathawu, tentu saja tidak boleh menimbulkan kesulitan berumah tangga sebagaimana ditegaskan dengan kalimat غَيْرَ مُفْسِدَةٍ  (tidak mendatangkan mafsadat fihak manapun). Hal ini memberikan isyarat agar setiap suami memberikan wewenang pada istrinya untuk berinfaq, karena pahalanya akan didapat oleh keduanya.

 

D. Beberapa Ibrah

1. Ketentraman, keharmonisan dan ketenangan keluarga merupakan tanggung jawab bersama suami dan istri. Suami maupun istri wajib memelihara kemaslahatan keluarga baik secara probadi maupun bersama, maka tidak boleh terganggu oleh tindakan apapun walau yang sifatnya ibadah baik yang bersifat ritual maupun social.

2. Tanggung jawab suami istri ada yang bersifat ritual seperti shaum, ada yang bersifat soasil hubungan dengan fihak yang lain, dan ada pula yang bersifat materi harta keluarga. Beribadah dengan ketiga hal itu mesti dilakukan sesuai proporsinya, tidak boleh mengganngu yang lainnya.

3. Apa yang dilakukan istri yang bersifat berdampak pada fihak suami, mesti dilakukan atas persetujuan suami. Demikian pula yang dilakukan suami bila berdampak pada hak istri, maka mesti dilakukan atas persetujuan istri.

4. Infaq yang dikeluarkan istri pahalanya bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk suaminya. Istri berpahala karena infaqnya; suami dapat pahala karena telah menyediakannya.

5. Harta dalam rumah tangga ada yang bersifat milik pribadi masing-masing suami istri; ada pula yang bersifat milik bersama. Yang menjadi milik pribadi masing-masing tentu saja punya kewenangan tanpa terhalang yang lain. Namun yang milik bersama mesti persetujuan bersama bila digunakan bukan untuk kepentingan bersama.

6. Suami memiliki hak yang mesti dipenuhi oleh istrinya. Istri juga punya hak yang mesti dipenuhi oleh suaminya. Hak dan kewajiban masing-masing mesti dipenuhi sesuai ketentuan syari’ah.

7. Ibadah baik yang sifatnya ritual, social  maupun amwal harta mesti dilakukan sesuai aturan, tidak boleh berlebihan tidak pula berkekurangan dan mesti saling mendukung antara yang satu dengan yang lainnya sehingga terpeliahara kesimbangan.

 



[1] Shahih al-Bukhari, no.4796

[2] Fath al-Bari, XIV h.488

[3] shahih Muslim, hadits nomor 1704

[4] Sunan Al-Tirmidzi, 713; Sunan Ibn Majah, no.1751

[5] nama lengkapnya Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau merupakan ulama yang menulis berbagai karaya tulis antara lain Hadits Arbain, al-Adzkar, riyad al-Shalihin, Syarah Shahih Muslim, Minhaj al-Thalibin. Beliau wafat tahun 676H

[6] Syarah al-Nawawi ala Muslim, III h.474

[7] Beliau adalah al Imam al ‘Allamah al Hafizh Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar, al Kinani, al ‘Asqalani, asy Syafi’i, al Mishri. Kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hajar, dan gelarnya “al Hafizh”. Adapun penyebutan ‘Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah (Jalur Gaza-red). Beliau lahir di Mesir pada bulan Sya’ban 773 H, wafat pada tanggal 28 Dzulhijjah 852 H di Mesir. Karya tulisnya cukup banyak antara lain Bulguhul-Maram, Fath al-Bari, Tahdzib al-Tahdzib, Talkhish

[8] Mushannaf Ibn Abi Syaibah, II h.507

[9]  Fath al-Bari, XIV h.489

[10] Tuhfah al-Ahwadzi, II h.326

[11] Musnad Ahmad, no.9357

[12] Musnad Ahmad, no. 9780

[13] Shahih Ibn Hibban, III h.238

[14] Shahih al-Bukhari, no.4800

[15] Musnad Ahmad, no.6583

[16] shahih Muslim, no.1964

[17] Sunan al-Nasa`iy, III h.271

[18] Musnad, II h.251

[19] Tafsir Ibn Abi Hatim, no.5294, Musnad al-Thayalisi, no.2434

[20] Abû Daud, Sunan Abi dawud., II h.126, Ibn Majah, Sunan Ibn Majah., I h.596, Abû Ya’la, Ahmad bin ‘Alî, Musnad Abû Ya’lâ, jz. IV h.378

[21] Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, I h.596

[22] Abd Allâh bin Abd al-Rahmân  al-Dârimî, Sunan al-Dârimî, , juz II h.69

[23] Abû Hâtim  Muhammad bin Hibban, Shahîh Ibn Hibbân, juz IX h.471

[24] Abû bakr bin Muhammad bin Abi Syaybat,, juz VI h.545

[25] Sunan Abi Dawud, no.1438

[26] Shahih al-Bukhari, no.1924

[27]  Shahih Muslim, III h.1338,  no3233

[28] Shahih al-Bukhari, no.1336, Shahih Muslim, no.1700, Sunan Abi Dawud, no.1435

YANG MESTI IZIN SUAMI (kajian hadits riwayat al-Bukhari) bagian kedua

YANG MESTI IZIN SUAMI

(kajian hadits riwayat al-Bukhari) bagian kedua

A. Teks Hadits dan Tarjamahnya

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ

وَرَوَاهُ أَبُو الزِّنَادِ أَيْضًا عَنْ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي الصَّوْمِ

Abu al-Yaman mengabarkan hadits pada kami. Syu’aib mengabarkan hadits pada kami. Abu al-Zinad meriwayatkan hadits pada kami dari al-A’raj dari Abi hurairah. Sesungguhnya Rasul SAW bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita untuk melaksanakan shaum sedangkan suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Tidak halal bagi seorang wanita untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa persetujan suaminya. Apa yang wanita nafqahkan tanpa perintah  suaminya, maka setengahnya mesti dibayar pada suaminya. Abu al-Zinad juga meriwayatkan hadits yang senada dari Abi Musa, dari ayahnya dari Abi Hurairah. Hr, al-Bukhari[1]

 

Lanjutan syarah hadits

2.. وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ Tidak halal bagi seorang wanita untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa iznin suaminya.

Kalimat ini tidak terpisahkan dengan kalimat sebelumnya yang menggunakan kata sambung secara mutlak. Dengan demikian وَلَا تَأْذَنَ  pada hadits ini bermakna تَأْذَنَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ tidak halal bagi seorang perempun memberi izin فِي بَيْتِهِ di rumahnya إِلَّا بِإِذْنِهِ kecuali dengan izin suaminya. Dalam riwayat muslim menggunakan kalimat وَلَا تَأْذَنْ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ Tidak halal bagi seorang wanita padahal suaminya hadir, untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa iznin suaminya. Namun kalimat وَهُوَ شَاهِدٌ bukan berarti membolehkan memberi izin ketika suaminya tidak ada, tapi sebagai penegasan atau menguatkan kalimat sebelumnya. Berfungsi pula sebagai من باب الأولى yang mengandung arti ketika ada suaminya di rumah mesti minta izin terlebih dahulu, untuk mempersilakan orang lain masuk rumah; apalagi tatkala suaminya tidak ada di rumah. Tegaslah seorang istri berkewajiban minta izin suami tatkala hendak mempersilakan orang lain masuk ke rumah, baik suaminya ada di rumah ataukah sedang tiada. Salah satu tanggung jawab istri terhadap suami adalah menjaga kehormatan diri, kehormatan suami dan juga kepemimpinan rumah tangga tatkala suaminya tiada di rumah. Allah SWT berfirman:فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ Wanita shahihat ada yang taat setia dan pandai menjaga tatkala suaminya tiada sebagaimana Allah telah menjaganya. Qs.4:35

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

dari Abi Hurairah, berkata: Rasul SAW ditanya: Wanita yang bagaimanakah yang terbaik? Beliau menjawab yang menyenangkan suami tatkala melihatnya, taat tatkala suami memerintah, tidak menyalahi suaminya dalam mengurus diri dan harta, hingga melakukan yang tidak disenangi. Hr. al-Nasa`iy.[2] Redaksi lainnya berbunyi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا فِي مَالِهِ

dari Abi Hurairah, berkata: Rasul SAW ditanya: Wanita yang bagaimanakah yang terbaik? Beliau menjawab yang menyenangkan suami tatkala melihatnya, taat tatkala suami memerintah, tidak menyalahi suaminya dan tidak melakukan sesuatu yang kurang disenangi suaminya baik dalam mengurus diri maupun urusan harta suaminya. Har. Ahmad.[3]

خير النساء اللاتي إذا نظرت إليها سرتك ، وإذا أمرتها أطاعتك ، وإذا غبت عنها حفظتك في نفسها ومالها

Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkanmu tatkala kamu melihatnya, taat dan setia tatkala kamu memerintahnya, serta senantiasa menjaga diri dan hartanya tatkala kamu tidak dio sampingnya. Hr. Ibn Abi Hatim, Abu Dawud al-Thayalisi.[4]

ألا أخْبِرُك بِخَيْرِ مَا يكنزُ المَرْء المَرْأةُ الصَّالِحَة إذَا نَظَر إليْهَا سَرَّتْه وإذا أمَرَها أطَاعَتْه وإذا غَابَ عَنْهَا  حَفظتْه في نَفْسِهَا وَمَالِه

“Ingatlah aku beritahukan kepada kamu tentang simpanan seseorang yang patut dipelihara, yaitu isteri yang shalih; yang menyenangkan suami tatkala melihatnya, selalu taat tatkala suami memerintahnya, dan selalu menjaga dirinya dan harta suami tatkala jauh darinya”. Hr. Abu Dawud (w.275 H), Ibn Majah (w.275 H),  dan Abû Ya’la (w.307). [5]

Abu Umamah (w. 86 H) menerangkan bahwa Rasul SAW bersabda:

مَا اسْتَفَادَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرًا لَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ وَإِنْ غَابَ عَنْهَا نَصَحَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

Tidak ada yang lebih baik manfaatnya yang diraih mu`min setelah taqwa kepada Allah dibanding isteri yang shalih; jika suaminya memerintah ia setia, jika melihatnya ia menyenangkan, jika memberi bagian ia tetap berbaikan, jika suami sedang tiada, ia tetap menjaga dirinya dan harta suaminya”. Hr. Ibn Mâjah (w.275 H).[6]

Berdasar beberapa hadits di atas, jelaslah bahwa seorang istri bertanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan rumahtangganya terutama tatkala suami tidak ada di tempat. Istri merupakan pemimpin rumah tangga mewakili suami yang sedang tidak di tempat. Di samping itu kalimat وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا فِي مَالِهِ menunjukkan bahwa pada prisipnya seorang istri tidak diperkenankan untuk melakukan hal-hal yang tidak disenangi suaminya, baik dalam urusan sikap diri maupun urusan pengelolaan harta. Dalam riwayat lain ditegaskan وإن لَكُم عَلَيْهِنَّ  أن لا يُوَطِّئْن فَرْشَكُمْ أحَدًا تَكْرَهُوْنَه “Ingatlah di antara yang menjadi hakmu sebagai tanggung jawab isteri; jangan sampai mereka memasukkan seorang pun yang tidak kamu senangi ke rumahmu.” Hr. al-Darimi (w.255 H), dari Jabir bin ‘Abd Allah.[7]

Dikaitkan dengan pangkal hadits yang dibahas yang melarang shaum sunat tanpa izin suami, jelas berkaitan dengan urusan ibadah ritual, maka potongan hadits ini berkaitan dengan ibadah social yang ada hubungannya dengan sesame manusia. Kedua macam ibadah tersebut tentu saja sangat bernilai di sisi Allah maupun sisi manusia. Namun ternyata berdasar hadits yang dikaji di sini, baik ritual maupun social yang dilakukan seorang istri, mesti tetap atas izin suami, jelaslah jangan sampai mengganggu keharmonisan berkeluarga. Istri yang mengutamakan kepentingan keluarga khususnya keharmonisan dengan suaminya mendapat jaminan untuk mendapatkan surg di hari akhirat kelak. Rasul SAW bersabda:

إذَا صَلَّت المَرْأةُ خَمْسَهَا وَصَاَمتْ شَهْرَهَا وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أي أبْوَابِ الجَنَّةِ شَاءَتْ

“Jika perempuan itu menegakkan shalat lima waktu, shaum bulan ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat pada suaminya, maka akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia inginkan.” Hr. Ibn Hibban (w. 354 H) dari Abi Hurairah.[8]

Hadits ini berisi jaminan bagi isteri yang taat pada suami, bila ia menegakkan shalat, shaum, dan menjaga kehormatannya, akan masuk surga. Dengan demikian isteri yang setia pada suaminya, bukan hanya meraih derajat sebagai wanita terbaik di dunia, tapi juga menjadi ahli surga di akhirat kelak. Perintah suami yang mesti ditaati isteri, tentu saja yang tidak bertentangan dengan syari’at  Islam. Jika perintahnya itu bertentangan dengan syari’at, maka yang mesti ditaati adalah Allah SWT dan Rasul-Nya. Siapa pun tidak dibenarkan menaati suatu perintah yang bertentangan dengan perintah Allah SWT. Rasul bersabda:لا طَاعَةَ  لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَة الخَالِق “Tidak ada ketaatan pada makhluq dalam berbuat maksiat terhadap Khaliq.” Hr. Ibn Abî Syaybat (w.235) dari al-Hasan.[9]

Timbul pertanyaan, bagaimana kalau seorang suami mengajak masuk perempuan lain ke rumahnya tanpa izin istri? Tentu saja jawabannya bukan dengan hadits inhi, melainkan dalam ketentuan lainnya. Pada dasarnya baik suami maupun istri mesti berusaha saling menyenangkan dan menghindari hal-hal yang menimbulkan ketidaknyamanan pasangannya. Istri berkewajiban menjaga ketentraman dan kenyamanan suami. Suami pun berkewajiban menjaga ketentraman dan kenyamanan istrinya. Allah SWT berfirman: فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Jika istrimu itu teah setia menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyulitkan mereka, sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha Agung. Qs.4:34

3.. وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ Apa yang wanita nafqahkan tanpa perintah  suaminya, maka setengahnya mesti dibayar pada suaminya.

Dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, penggalan hadits ini mengandung perintah agar seorang istri yang akan berinfaq hendaklah minta persetujuan terlebih dahulu dari saminya. Konsekuensinya bila seorang istri infaq tanpa persetujuan suami, maka mesti mengembalikan atau membayar setengah dari apa yang telah diinfakkannya. Kalimat ini juga memberi isyarat bahwa harta rumah tangga merupakan milik bersama suami istri. Jika salah satu di antara suami istri, berkeinginan menggunakannya di luar kepentingan bersama, maka mesti ada persetujuan kedua belah fihak. Diriwayatkan dari Abi Hurairah

فِي الْمَرْأَةِ تَصَدَّقُ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا قَالَ لَا إِلَّا مِنْ قُوتِهَا وَالْأَجْرُ بَيْنَهُمَا وَلَا يَحِلُّ لَهَا أَنْ تَصَدَّقَ مِنْ مَالِ زَوْجِهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ

Mengenai seorang istri bersedekah dari harta rumah tangga suaminya, dia mengatakan tidak boleh kecuali dari kelebihan makanan [pokok dan pahala untuk keduanya; tidak halal seorang istri bersedekah dari harta suaminya kecuali atas izinnya. Hr. Abu Dawud.[10]

Jika harta yang diinfakkan istri itu mendapat persetujuan suaminya, maka pahala dari infaq tersebut sampai pula kepada suaminya. Rasul SAW bersabda:

إِذَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ كَسْبِ زَوْجِهَا عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِهِ

Jika seorang istri berinfaq dari harta hasil usaha suaminya, tanpa perintah suaminya, maka setengah pahala adalah untuk suaminya. Hr. Al-Bukhari.[11]

Kalimat وَلَا يَحِلُّ لَهَا أَنْ تَصَدَّقَ مِنْ مَالِ زَوْجِهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ tidak halal bagi istri bersedekah tanpa izin suami tersebut tentu saja bila diambil dari harta suami seperti ditegaskan dengan kalimat مِنْ مَالِ زَوْجِهَا bukan dari harta milik sendiri. Menurut mayoritas ulama yang dilarang oleh hadits ini juga infaq yang hukumnya sunat bukan yang wajib sebagaimana shaum, karena hal yang wajib tidak mesti ada persetujuan. Aisyah radliallahu anha menerangkan sebagai berikut:

دَخَلَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ امْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ لَا يُعْطِينِي مِنْ النَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ

Hindun binti Utbah istri Abi Sufyan menghadap Rasul SAW, berkata: Wahai Rasul! Sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang laki-laki yang sangat kikir. Dia tidak memberi nafaqah padaku dan pada anakku yang mencukupi, kecuali apa yang kau ambil dari hartanya tanpa sepengetahun dia. Apakah aku memikul dosa atas perbuatanku itu? Rasil SAW bersabda: ambilah dari hartanya secara ma’ruf apa yang mencukupi kebutuanmu dan menuckupi kebutuhan anakmu. Hr. Muslim (206-261H).[12]

Hadits ini memberi isyarat bahwa seorang istri diperbolehkan mengambil harta suami untuk memenuhi apa yang telah diwajibkan padanya. Hal ini juga termasuk pada kategori memenuhi tanggung jawab tentang kemaslahatan keluarga. Jadi jelas infaq dari harta suami yang diperbolehkan istri mengeluarkannya tanpa persetujuan adalah (1) yang hukumnya wajib (2) yang tathawu tapi tidak menggangu kebutuhan pokok. Rasul SAW bersabda:

إِذَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ لَا يَنْقُصُ بَعْضُهُمْ أَجْرَ بَعْضٍ شَيْئًا jika seorang wanita berinfaq dari harta rumah tangganya sepanjang tidak menimbulkan kerusakan, maka pahalanya adalah untuknya dan untik suaminya. Dia dapat pahala karena berinfaq, dan suaminya dapat pahala karena telah mencarikan nafqah. Demikian pula seorang bendahara, akan mendapat pahala dari yang mereka infakkan. Satu sama yang lain mengurangkan paha yang lain sedikit pun. Hr.Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud.[13]

Hadits ini memberikan jaminan siapa pun yang berjasa dalam berinfaq bakal mendapatkan pahala. Seorang istri yang menginfakkaan harta suaminya dapat pahala karena menyalurkan harta secara tepat. Seorang suami juga mendapat pahala dari harta yang diinfakkan istrinya, karena telah berjasa mencari nafqah. Demikian pula seorang bendara mendapatkan pahala darin infaqnya karena berjasa mengelola harta secara tepat, tidak akan mengurangi pahala sipemilik harta. Apa yang mereka infakkan secara tathawu, tentu saja tidak boleh menimbulkan kesulitan berumah tangga sebagaimana ditegaskan dengan kalimat غَيْرَ مُفْسِدَةٍ  (tidak mendatangkan mafsadat fihak manapun). Hal ini memberikan isyarat agar setiap suami memberikan wewenang pada istrinya untuk berinfaq, karena pahalanya akan didapat oleh keduanya.

 

D. Beberapa Ibrah

1. Ketentraman, keharmonisan dan ketenangan keluarga merupakan tanggung jawab bersama suami dan istri. Suami maupun istri wajib memelihara kemaslahatan keluarga baik secara probadi maupun bersama, maka tidak boleh terganggu oleh tindakan apapun walau yang sifatnya ibadah baik yang bersifat ritual maupun social.

2. Tanggung jawab suami istri ada yang bersifat ritual seperti shaum, ada yang bersifat soasil hubungan dengan fihak yang lain, dan ada pula yang bersifat materi harta keluarga. Beribadah dengan ketiga hal itu mesti dilakukan sesuai proporsinya, tidak boleh mengganngu yang lainnya.

3. Apa yang dilakukan istri yang bersifat berdampak pada fihak suami, mesti dilakukan atas persetujuan suami. Demikian pula yang dilakukan suami bila berdampak pada hak istri, maka mesti dilakukan atas persetujuan istri.

4. Infaq yang dikeluarkan istri pahalanya bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk suaminya. Istri berpahala karena infaqnya; suami dapat pahala karena telah menyediakannya.

5. Harta dalam rumah tangga ada yang bersifat milik pribadi masing-masing suami istri; ada pula yang bersifat milik bersama. Yang menjadi milik pribadi masing-masing tentu saja punya kewenangan tanpa terhalang yang lain. Namun yang milik bersama mesti persetujuan bersama bila digunakan bukan untuk kepentingan bersama.

6. Suami memiliki hak yang mesti dipenuhi oleh istrinya. Istri juga punya hak yang mesti dipenuhi oleh suaminya. Hak dan kewajiban masing-masing mesti dipenuhi sesuai ketentuan syari’ah.

7. Ibadah baik yang sifatnya ritual, social  maupun amwal harta mesti dilakukan sesuai aturan, tidak boleh berlebihan tidak pula berkekurangan dan mesti saling mendukung antara yang satu dengan yang lainnya sehingga terpeliahara kesimbangan.



[1] Shahih al-Bukhari, no.4796

[2] Sunan al-Nasa`iy, III h.271

[3] Musnad, II h.251

[4] Tafsir Ibn Abi Hatim, no.5294, Musnad al-Thayalisi, no.2434

[5] Abû Daud, Sunan Abi dawud., II h.126, Ibn Majah, Sunan Ibn Majah., I h.596, Abû Ya’la, Ahmad bin ‘Alî, Musnad Abû Ya’lâ, jz. IV h.378

[6] Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, I h.596

[7] Abd Allâh bin Abd al-Rahmân  al-Dârimî, Sunan al-Dârimî, , juz II h.69

[8] Abû Hâtim  Muhammad bin Hibban, Shahîh Ibn Hibbân, juz IX h.471

[9] Abû bakr bin Muhammad bin Abi Syaybat,, juz VI h.545

[10] Sunan Abi Dawud, no.1438

[11] Shahih al-Bukhari, no.1924

[12]  Shahih Muslim, III h.1338,  no3233

[13] Shahih al-Bukhari, no.1336, Shahih Muslim, no.1700, Sunan Abi Dawud, no.1435

YANG MESTI IZIN SUAMI (kajian Hadits al-Bukhari dari Abi Hurairah) bagian pertama

YANG MESTI IZIN SUAMI

(kajian hadits riwayat al-Bukhari) bagian pertama

A. Teks Hadits dan Tarjamahnya

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ

وَرَوَاهُ أَبُو الزِّنَادِ أَيْضًا عَنْ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي الصَّوْمِ

Abu al-Yaman menyampaikankan hadits pada kami. Syu’aib mengabarkan hadits pada kami. Abu al-Zinad meriwayatkan hadits pada kami dari al-A’raj dari Abi hurairah. Sesungguhnya Rasul SAW bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita untuk melaksanakan shaum sedangkan suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Tidak halal bagi seorang wanita untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa persetujan suaminya. Apa yang wanita nafqahkan tanpa perintah  suaminya, maka setengahnya mesti dibayar pada suaminya. Abu al-Zinad juga meriwayatkan hadits yang senada dari Abi Musa, dari ayahnya dari Abi Hurairah. Hr, al-Bukhari[1]

 

B. Takhrij Hadits

1. حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ  Abu al-Yaman mengabarkan hadits pada kami. Syu’aib mengabarkan hadits pada kami. Abu al-Zinad meriwayatkan hadits pada kami dari al-A’raj dari Abi hurairah.

Kalimat ini mengisyaratkan bahwa al-Bukhari (a94-256H) menerima hadits dari أَبُو الْيَمَانِ yang bernama al-Hakam bin Nafi, dia adalah Tabi al-Atba, dijuluki Abu al-Yaman yang wafat tahun 222H.  Beliau menerima hadits dari شُعَيْبٌ yang nama populernya adalah Abu Bisyr bin Abi Hamzah Dinar, sebagai tabi al-Tabi’in, lama hidup di Syam dan wafat tahun 162H. Yang menyampaikan hadits pada beliau adalah أَبُو الزِّنَادِ nama aslinya Abdullah bin Dakwan, sebagai Tabi’in (karena bertemu dengan shahabat dalam keadaan muslim), lama hidup di Madinah dan wafat tahun 130H.  Beliau menerima hadits dari الْأَعْرَجِ seorang tabi’in senior, yang benarma asli Abdurrahman bin Hurmuz dijuluki juga dengan nama Abu daud, lama hidup di Madinah dan wafat tahun 117. Beliau menerima hadits dari Abu Hurairah yaitu seorang shahabat yang bernama asli Abdurrahman bin Shahr, wafat tahun 57H, yang riwayatnya telah diungkap pada pembahasan yang lalu.

وَرَوَاهُ أَبُو الزِّنَادِ أَيْضًا عَنْ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي الصَّوْمِ

Kalimat ini menginformasikan bahwa hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu al-Zinad melalui jalur lainnya yaitu dari Musa, dari ayahnya yang masih dari Abi hurairah. Itulah komentar al-Bukhari. Hadits ini sangat popular di kalangan ahli hadits, bahkan tiga imam dari penyusun al-Kutub al-Sittah meriwayatkannya dengan berbagai jalur atau mata rantai hingga sampai pada mereka. Adapun redaksinya ada yang sama ada pula yang berbeda. Perbandingan redaksinya dapat dilihat pada table berikut.

 

NAMA IMAM DAN NOMOR HADITS

REDAKSI MATAN HADITS DAN TARJAMAHNYA

Al-Bukhari (194-256H); hadits nomor 4796

 

لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ

Tidak halal bagi seorang wanita untuk melaksanakan shaum sedangkan suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Tidak halal bagi seorang wanita untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa iznin suaminya. Apa yang wanita nafqahkan tanpa perintah  suaminya, maka setengahnya mesti dibayar pada suaminya.

Muslim (206-261H); hadis nomor 1704

لَا تَصُمْ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنْ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ كَسْبِهِ مِنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّ نِصْفَ أَجْرِهِ لَهُ

Seorang wanita tidak dibenarkan melaksanakan shaum padahal suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Perempuan juga tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumah suaminya padahal dia masih ada kecuali atas izinnya. Apa yang diinafkkan seorang wanita dari hasil usaha suami tanpa perintahnya, maka setengah pahalanya adalah untuk suaminya

Abu Daud (202-275H); hadits nomor 2102

لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ غَيْرَ رَمَضَانَ وَلَا تَأْذَنُ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Seorang wanita tidak dibenarkan shaum, padahal suaminya ada tanpa izinnya, kecuali ramadlan. Seorang wanita tidak dibenarkan mengizinkan orang lain masuk rumah padahal suaminya masih ada kecuali atas izinnya

 

C. Syarah Hadits

1.. أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ Sesungguhnya Rasul SAW bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita untuk melaksanakan shaum sedangkan suaminya hadir, kecuali atas izinnya.

Kalimat لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ (tidak halal bagi kaum wanita), ditinjau dari sudut fiqih menunjukkan keharaman, karena setiap yang tidak halal adalah haram. Memang ada ulama yang berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh, karena kalimat tidak halal tidak semua mengisyaratkan haram. Namun menurut al-Asqalani, kalimat لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ yang lebih tepat diartikan hukumnya haram bagi kaum wanita, sebagai mana menurut mayoritas ulama. [2]

Kalimat أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ (wanita shaum tatkala suaminya hadir, kecuali dengan seizinnya. Menurut riwayat muslim (206-261H) menggunakan redaksi larangan  لَا تَصُمْ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ (janganlah seorang wanita shaum ketika suaminya ada kecuali dengan izinnya).[3] Yang diharamkan di sini adalah shaum tathawwu bukan shaum wajib, sebagaimana terungkap dalam riwayat al-Tirmidzi (209-279H) dan Ibn Majah (207-275H)  dengan redaksi لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ يَوْمًا مِنْ غَيْرِ شَهْرِ رَمَضَانَ إِلَّا بِإِذْنِهِ Seorang perempuan tidak dibenarkan shaum sehari pun padahal suaminya hadir, selain shaum ramadlan kecuali dengan izinnya.[4]

Al-Nawawi (631-676H),[5]  menegaskan bahwa larangan ini mengisyaratkan haramnya wanita shaum sunat ketika suaminya hadir kecuali atas izinnya, karena shaum sunat itu waktunya tidak sempit boleh dilaksanakan di hari lain. Adapun salah satu sebabnya diharamkan adalah seorang suami mempunyai hak untuk bersenang-senang dengan istrinya kapanpun. Memenuhi keinginan suami untuk menenyangkannya adalah menjadi kewajiban seorang istri. Oleh karena itu tidak boleh dikalahkan dengan ibadah yang disunnahkan. Ada yang berpendapat  bahwa shaum sunat tanpa izin suami itu semestinya dibolehkan saja, tapi tatkala suaminya menginginkan sesautu dari istri yang menimbulkan batalnya shaum, maka istrinya mesti membatalkan shaumnya, umpamanya menginginkan makan berasama atau sebangsanya. Al-Nawawi menjawab pendapat tersebut dengan menegaskan bahwa shaumnya sang istri bisa mengganggu kebebasan suami untuk memenuhi keinginanya, maka semestinya minta persetujuan terlebih dahulu.[6]

Adapun perkataan وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ atau dalam redaksi lainnya وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ (sedangkan suaminya menyaksikan atau hadir) mengisyaratkan bahwa istri dilarang shaum sunat tanpa persetujuan suaminya itu ketika suaminya berada di rumah atau sedang berbarengan dengannya. Jika suaminya itu sedang bepergian, sedangkan istrinya tidak ikut dan berada di rumah, maka istrinya boleh saja shaum tanpa minta persetujuan terlebih dahulu. Namun menurut al-Asqalani,[7] jika seorang istri sedang shaum padahal suaminya tidak di rumah, tiba-tiba di siang hari suminya datang dan menghendaki sesuatu yang membatalkan shaum, maka wajiblah istrinya itu membatalkan shaumnya. Larangan ini juga memberi isyarat bahwa di antara kebaikan istri pada suami adalah tidak melakukan ibadah yang hukumnya sunat yang menganggu keharmonisan rumah tangga. Menjaga keharmonisan suami istri hukumnya wajib, maka jangan sampai terganggu oleh ibadah yang hukumnya sunat. Dalam riwayat Ibn Abi Syaibah diterangkan ada seorang waniya yang menghadap Rasul menanyakan tentang hak suami yang mesti dipenuhi istrinya, maka Rasul SAW bersabda: لا تصوم إلا بإذنه إلا الفريصة فإن فعلت أثمت ولم يقبل منها  tidak dibenarkan seorang istri shaum tanpersetujuan suaminya kecuali yang difardlukan. Jika istrinya tetap melakukan shaum maka termasuk dosa dan tidak akan diterima shaumnya.[8] Kalimat إِلَّا بِإِذْنِهِ juga mengandung arti syarat dikabulnya ibadah sunat yang dilakukan seorang istri adalah persetujuan suami. Persetujuan tersebut baik dalam bentuk kalimat langsung ataupun tidak langsung. Namun bukan berarti istri dilarang melakukan semua ibadah sunat tanpa izin suami. Sepanjang ibadah sunat yang dilakukannya itu tidak menganggu keharmonisan suami istri maka dapat dijalankannya.[9]  Larangan ibadah shaum sunat bagi istri tanpa persetujuan suami, juga memberi isyarat adanya kemestian mendahulukan kewajiban di banding yang hukumnya sunat. Tegasnya  larangan ini tidak mencakup shalat sunat yang hanya membutuhkan waktu singkat.[10] Namun jika ibadah yang hukumnya sunat itu dapat mengganggu atau menghalangi kewajiban memelihara kebahagiaan suami istri, maka sepantasnya dihindari. Dalam riwayat Ahmad (164-241H) bahkan ditegaskan seorang istri dilarang shaum sunat tanpa iizin suaminya walau hanya satu hari. Perhatikan redaksinya:

لَا تَصُمْ الْمَرْأَةُ يَوْمًا وَاحِدًا وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Janganlah seorang perempuan shaum walau hanya satu hari, padahal suaminya ada kecuali dengan izinnya. Hr. Ahmad.[11]

لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ يَوْمًا وَاحِدًا وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ إِلَّا رَمَضَانَ

Seorang perempuan tidak shaum walau hanya satu hari padahal suaminya ada kecuali dengan izinnya selain ramadlan. Hr. Ahmad.[12]9780

Kalau ibadah tathawwu itu mesti mendapat izin dari suami, maka secara tersirat seorang suami boleh saja membatasi istrinya dalam melakukan ibadah tathawu yang diperkirakan mengganggu hak dan kewajiban. Persolannya sebatas mana membatasinya? Tentu seperti apa yang diajarkan rasul pada shahabatnya.

Ibadah ritual yang hukumnya tathawwu atau sunat secara fiqhiyah memang tidak boleh mengganggu kewajiban yang sifatnya social. Itulah mungkin salah satu hikmahnya mengapa Rasul SAW membatasi umat yang ingin beribadah melebihi beliau. Shaum tidak boleh setiap hari, shalat malam pun tidfak boleh semalam suntuk.

Abdullah bin Amr bin Ash menerangkan bahwa tatkala beliau bertekad untuk memperbanyak ibadah, Rasul SAW bersabda:

يَا عَبْدَ اللَّهِ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَلَا تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Wahai Abdallah! Kabarnya engkau selalu shaum di siang hari, dan bangun malam. (kata Ibn Amr) betul wahai Rasul! Beliau bersabda: jangan engkau lakukan seperti itu! Shaumlah dan berbuka lah! Bangunlah malam dan tidurlah sebagiannya. Sesungguhnya jasadmu punya hak untuk kemu penuhi. Matamu juga punya hak untuk kamu penuhi. Istrimu juga punya hak untuk kamu penuhi kebutuhannya. Hr. al-Bukhari (194-256H).[13]

Dalam riwayat Ahmad (164-241) ditegaskan:

لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

Dirimu punya hak yang mesti kamu penuhi, keluargamu juga punya hak yang mesti kemu penuhi. Har. Ahmad.[14]

Demikiian pula dalam membaca al-Qur`an mesti memberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Ketika Abdullah bin Amr bertekad memperbanyak bacaan al-Qur`an, Rasul bersabda:

اقْرَأْ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ قَالَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً قَالَ فَاقْرَأْهُ فِي عِشْرِينَ لَيْلَةً قَالَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً قَالَ فَاقْرَأْهُ فِي سَبْعٍ وَلَا تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ

Bacalah olehmu al-Qur`an di setiap bulan! Saya berkata bahwa masih kuat melebihi itu. Sabda Rasul bacalah menamatkannya dalam dua puluh malam! Saya katakana masih kuat! Rasul bersabda bacalah al-Qur`an dalam tujuh hari dan jangan lebih dari itu. Hr. Muslim.[15]

Rasul membatasi ibadah Ibn Amr bahwa shaum tidak boleh setiap hari, shalat tidak boleh semalam suntuk, membaca al-Qur`an sebaiknya satu bulan saja untuk menamatkannya. Kalau pun masih banyak waktu dan kesempatan bolehlah sampai tujuh hari dan tidak boleh melebihi itu, karena harus ada kesempatan untuk kepentingan memenuhi kebutuhan diri dan keluarga. Dengan demikian sang suami boleh saja membatasi ibadah istrinya, yang sudah dibatasi oleh Rasul SAW tersebut, yang sifatnya ritual yang tidak diwajibkan.

Bersambung ke makalah berikutnya. Insya Allah



[1] Shahih al-Bukhari, no.4796

[2] Fath al-Bari, XIV h.488

[3] shahih Muslim, hadits nomor 1704

[4] Sunan Al-Tirmidzi, 713; Sunan Ibn Majah, no.1751

[5] nama lengkapnya Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau merupakan ulama yang menulis berbagai karaya tulis antara lain Hadits Arbain, al-Adzkar, riyad al-Shalihin, Syarah Shahih Muslim, Minhaj al-Thalibin. Beliau wafat tahun 676H

[6] Syarah al-Nawawi ala Muslim, III h.474

[7] Beliau adalah al Imam al ‘Allamah al Hafizh Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar, al Kinani, al ‘Asqalani, asy Syafi’i, al Mishri. Kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hajar, dan gelarnya “al Hafizh”. Adapun penyebutan ‘Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah (Jalur Gaza-red). Beliau lahir di Mesir pada bulan Sya’ban 773 H, wafat pada tanggal 28 Dzulhijjah 852 H di Mesir. Karya tulisnya cukup banyak antara lain Bulguhul-Maram, Fath al-Bari, Tahdzib al-Tahdzib, Talkhish

[8] Mushannaf Ibn Abi Syaibah, II h.507

[9]  Fath al-Bari, XIV h.489

[10] Tuhfah al-Ahwadzi, II h.326

[11] Musnad Ahmad, no.9357

[12] Musnad Ahmad, no. 9780

[13] Shahih al-Bukhari, no.4800

[14] Musnad Ahmad, no.6583

[15] shahih Muslim, no.1964