TIGA ENERGI YANG TIDAK BOLEH DIMONOPOLI (kajian Hadits)

TIGA ENERGI YANG TIDAK BOLEH DITIMBUN DAN DIMONOPOLI

(kajian hadits riwayat Ahmad

A. Teks Hadits dan Tarjamahnya

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا ثَوْرٌ الشَّامِيُّ عَنْ حَرِيزِ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ أَبِي خِرَاشٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ

Waki telah menyampaikan hadots pada kami. Tsaur al-Syami menyampaikan hadits pada kami dari Hariz bin Utsman dari Abi Khirasy dari seorang shahabat yang menyetakan bahwa Rasul SAW bersabda: Kaum muslimin bersyerikan dalam tiga perkara yaitu air, rumput liar dan energi api. Hr. Ahmad.[1]

 

B. Takhrij Hadits

Hadis ini dirilis oleh Imam Ahmad (38/174) dan Imam Abû Dâwud.  Imam Abû Dâwud meriwayatkan di dalam Kitâb «al-Buyû’» Bâb «Fî Man’il Mâi» (3477) dari jalur Harîz ibn ‘Utsmân, dari Abû Khidâsy, dari salah seorang Sahabat Muhajirin, ia berkata: Saya berperang bersama Nabi sebanyak tiga kali. Saya mendengar beliau bersabda:«المسلمون شركاء في ثلاث …» Sedangkan Imam Ahmad meriwayatkan dengan redaksi: مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dari salah seorang Sahabat Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

«المسلمون شركاء في ثلاث: في الماء والكلإ والنار»

Mata rantai hadis ini sahih dan para tokohnya terpercaya. Harîz ibn ‘Utsmân adalah ar-Rahbî al-Himshî. Sedangkan Abû Khidâsy adalah Zaid asy-Syar’abî, statusnya terpercaya, merupakan salah seorang guru Harîz ibn ‘Utsmân. Mengenai para Syaikh (Guru) dari Harîz ibn ‘Utsmân, Abû Dâwud mengatakan: Para guru Harîz semuanya terpercaya. Hadis di atas tidak menyebutkan nama Sahabat yang dimaksud. Namun hal itu tidak menggugurkan kesahihan hadis ini, karena semua sahabat berstatus adil (ash-shahâbah kulluhum ‘udûl). Hadis ini memiliki syahid (penguat), antara lain hadis Abû Hurairah radhiyallâhu ‘anhu bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda: ثلاث لا يمنعن: الماء والكلأ والنار

Ibn Majah meriwayatkannya dengan redaksi الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ وَثَمَنُهُ حَرَامٌ kaum muslimin bersyerikat dalam tiga perkara yaitu air, rumput liar dan api, maka mengambil keuntungan darinya adalah haram.[2] Namun menurut para muhaddits riwayat ini adalah dla’if karena terdapat seorang rawi bernama Abd Allah bin Hirasy yang dla’if.[3]

Ibn Hajar al-Asqalani mengutip hadits ini dengan redaksi sebagai berikut

عَنْ رَجُلٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللهُ قَالَ: غَزَوْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: «النَّاسُ شُرَكَاءُ فِيْ ثَلاَثَةٍ: فِي اْلكَلَإِ وَاْلمَاءِ وَالنَّارِ» رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُوْ دَاوُدَ رِجَالُهُ ثِقَاتٌ

Diriwayatkan dari seorang shahabat mengatakan bahwa saya berperang bersama Rasul SAW maka saya mendengar langsung Rasul SAW bersabda “manusia itu nerserikat dalam tiga perkara dalam rumput liar, dalam urusan air dan api”. Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud yang para tokoh haditsnya kuat dapat dipercaya.[4]

 

C. Syarah Hadits

1. الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ  kaum muslimin bersyerikat dalam tiga perkara.

Pangkal hadits ini mengandung arti perintah untuk memberikan kebebasan bagi setiap muslim menggunakannya sebagai milik bersama tidak boleh seorang pun memonopoli kepemilikan. Karena sebagai milik bersama maka tidak ada hak individu menguasainya untuk kepentingan pribadi. Jika ada orang lain membutuhkannya, maka tidak boleh mencegahnya.[5] Dalam riwayat Abu Hurairah berbunyi ثَلَاثٌ لَا يُمْنَعْنَ الْمَاءُ وَالْكَلَأُ وَالنَّارُ tiga perkara tidak boleh dimonopoli hinga malarang yang lain untuk memanfaatkannya yaitu air, rumput liar dan api.[6]Dengan demikian  setiap individu mesti meyakini bahwa di samping dirinya memiliki hak untuk memanfaatkannya juga terdapat di dalamnya hak orang lain. Karena ada hak orang lain, maka siapa pun mesti memberikan kesempatan pada fihak lainnya untuk ikut meni’mati dan memanfaatkannya. Tegasnya berserikat di sini dalam arti mengambil manfaat.

2. الْمَاءِ ِair.

Kaum muslimin mesti berserikat dalam urusan air. Air merupakan hajat hidup seluruh umat manusia, maka tidak boleh dimonopoli oleh individu. Menurut Abu Sa’id yang dimaksud الْمَاءِ  pada hadits ini adalah الْمَاءَ الْجَارِيَ air mengalir, [7] seperti sungai, danau, air hujan dan laut serta yang bersumber dari mata air.[8] Menurut Imam Ahmad kewajiban berserikat dalam air menunjukkan haramnya komersialisasi aira yang diperoleh tanpa biaya. Oleh karena itu orang yang memiliki mata air tidak dibenarkan menjualnya dan mesti memberikannya secara gratis. Jika pengelolaan sumber air tersebut menggunakan biaya, maka yang bisa dipungt dari konsumen adalah secatas kebutuhan biaya pengelolaan. Air merupakan hajat hidup bersama, maka jika dikuasai individu akan mebhayakan fihak lain. Inilah pentingnya berserikat dalam urusan air.

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?Qs.21:30

Kalimat وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ  mengisyaratkan bahwa air itu merupakan kebutuhan hidup segala makhluq. Air juga sebagai awal kehidupan. Karena merupakan hajat itup semua makhluq, maka tidak boleh ada yang monopoli. Fungsi air di jaman dahulu terbagi tiga macam yaitu (1) air minum, untuk dikonsumsi,  (2) air mandi, untuk bersuci baik dari kotoran, najis maupun hadts;  (3) air kotor berfungsi untuk mengalirkan kotoran serta sebagai pupuk tanaman. Jangan menyepelekan air karena ternyata air merupakan zat gizi yang memiliki fungsi penting bagi tubuh manusia. Selain itu, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan air dalam tubuh dapat mencegah timbulnya berbagai penyakit. Hal itu tentu saja akan membuat hidup Anda menjadi lebih sehat dan nyaman.  Di bawah ini adalah beberapa fungsi air yang diperlukan oleh tubuh.[9]

a. Pembentuk sel dan cairan tubuh. Komponen utama sel adalah air, sebesar 70-85%. Sedangkan dalam sel lemak, kurang dari 10%. Air berperan besar dalam darah (mengandung 83% air), cairan lambung, hormon, enzim, otot, dan juga berguna dalam menjaga tonus otot sehingga otot mampu berkontraksi.

b. Pengatur suhu tubuh. Air dapat menghasilkan panas, menyerap dan menghantarkan panas ke seluruh tubuh sehingga tubuh tetap stabil. Selain itu, juga membantu mendinginkan tubuh melalui penguapan dari paru dan permukaan kulit dengan membawa kelebihan panas keluar tubuh.

c. Pelarut zat-zat gizi lain dan pembantu proses pencernaan makanan. Mulai dari membantu produksi air liur saat makanan di mulut, melarutkan makanan dan membantu melumasi makanan agar masuk ke kerongkongan.

d. Pelumas dan bantalan. Air berfungsi sebagai pelumas atau lubrikan dalam bentuk cairan sendi sehingga sendi dapat bergerak dengan baik dan meredam gesekan antar sendi. Selain itu, air menjadi bantalan tahan getar (shock absorbing fluid cushion) pada jaringan tubuh, seperti otak, medulla spinalis, mata dan kantong amnion dalam rahim.

e. Media transportasi. Membantu pertumbuhan dan regenerasi sel secara efektif (carrier) dan menjadi media berbagai zat dengan sifat dan kutub ion yang berbeda. Selain itu, membantu transportasi oksigen dalam tubuh dan sebagai media transportasi bagi gas karbondioksida saat mengeluarkan napas.

f. Media eliminasi sisa metabolisme. Dengan air, sisa-sisa metabolisme dalam tubuh dikeluarkan melalui saluran kemih, saluran cerna, saluran napas dan kulit.

Di jaman modern ini air juga sebagai energi gerak. Energi air dapat digunakan dalam bentuk gerak atau Perbedaan suhu. Air dijadikan sumber energi. Karena ribuan kali lebih berat dari udara, maka aliran udara yang pelan pun dapat menghasilkan sejumlah energi yang besar. Ada banyak bentuk diantaranya: (1) Hydroelectric energi, sebuah istilah yang biasanya disediakan untuk bendungan hidroelektrik. (2) Tidal daya, yang menangkap energi dari pasang-surut dalam arah horisontal. Pasang datang, meningkatkan waterlevels dalam baskom, dan pasang roll out. Air harus melalui sebuahturbin untuk keluar dari baskom. (3) Tidal stream kekuasaan, yang melakukan hal yang sama secara vertikal, menangkap aliran air seperti yang bergerak di seluruh dunia oleh pasang surut. (4) Gelombang daya, yang menggunakan energi dalam gelombang. Ombak besar biasanya akan memindahkan ponton s atas dan ke bawah. (5) Samudera konversi energi termal (OTEC), yang menggunakan perbedaan suhu antara permukaan yang lebih hangat dan laut yang sejuk (atau dingin) ceruk lebih rendah. Untuk tujuan ini, ia mempekerjakan seorang siklus mesin kalor. (6) Deep pendingin air danau, bukan secara teknis metode generasi energi, meskipun dapat menyimpan banyak energi di musim panas. Terendam menggunakan pipa sebagai heat sinkuntuk sistem kontrol iklim. Danau-bottom air sepanjang tahun konstan lokal sekitar 4 ° C.

Listrik tenaga air mungkin bukan pilihan utama untuk masa depan produksi energi di negara maju karena sebagian besar situs utama di negara ini dengan potensi pemanfaatan gravitasi dengan cara ini mungkin telah dieksploitasi atau tidak tersedia karena alasan lain seperti pertimbangan lingkungan. Membangun bendungan banjir sering melibatkan daerah yang luas lahan, perubahan habitat, dan sementara energi pembangkit tenaga listrik pada dasarnya tidak menghasilkan karbon dioksida, laporan baru-baru ini telah dikaitkan PLTA ke metana, yang membentuk membusuk terendam dari tanaman yang tumbuh di bagian-bagian kering dasar pada masa kekeringan. Metana adalah gas rumah kaca yang potensial.

Metode lain generasi energi (dan pendinginan) telah memiliki berbagai tingkat keberhasilan di lapangan. Gelombang dan badai keras untuk membuktikan kekuatan tekan, sementara OTEC belum diuji di lapangan skala besar.[10]

3. وَالْكَلَإِ

Rumput liar, juga termasuk milik bersama, yang kaum muslimin mesti bersyerikat dalam pemanfaatannya. Yang dimaksud rumput liar di sini adalah yang tumbuh dengan senidirinya, bukan ditanam, tidak pula membutuhkan pemeliharaan khusus. Rumput semacam ini biasanya tumbuh di padang rumput yang bebas, atau di hutan, gunung pinggir jalan umum. Abd al-Rahman al-Banna menjelaskan الْمُراد هنا الَّذِي يَنْبُت فِي الأرضِ الْمَوات فَلا يختص به أحد yang dimaksud الْكَلَإِ rumput dalam hadits ini adalah yang tumbuh di tanah yang tidak digarap, maka tidak ada yang berhak mengkhususkan siapapun.[11] Adapun rumput yang sengaja ditanam di tanah milik, tentu saja berbeda hukumnya dengan apa yang dimaksud dalam  hadits ini. Namun rumput yang tidak ditanam, tidak diurus partumbuhannya, walau tumbuh di tanah milik, manurut al-Hadawiyah tetap sama dengan rumput liar, karena hadits ini berlaku umum.[12] Oleh karena itu, siapapun tidak boleh memonopoli rumput liar yang tumbuh dengan sendirinya di tanah yang tidak ada pemiliknya.[13]

4. وَالنَّار

Kaum muslimin juga bersyerikat dalam pemanfaatan api. Sebagian ulama berpendapat yang dimaksud وَالنَّار pada hadits ini mencakup bahan baker yang didapat dari hasil bumi baik berupa kayu bakar dari tumbuhan liar, ataupun api itu sendiri atau dalam pengertian nyala api. Termasuk pula pada kategori api ialah panas bumi, gas, tenaga surya, api menyala, dan pengaturan cahaya. Al-Baydlawi berpendapat bahwa berserikat dalam api mencakup sinarnya, bahan bakar, sumber api, nyalanya dan cahaya matahari. Siapa pun tidak dibenarkan mencegah orang lain untuk mengambil manfaat dari api tersebut.[14]

Dengan kemajuan teknologi, ditemukan pula energi penting yang bersumber dari bumi, yang dikenal dengan energi panasbumi.

Energi panas bumi ini berasal dari aktivitas tektonik di dalam bumi yang terjadi sejak planet ini diciptakan. Panas ini juga berasal dari panas matahari yang diserap oleh permukaan bumi. Selain itu sumber energi panas bumi ini diduga berasal dari beberapa fenomena:

Energi ini telah dipergunakan untuk memanaskan (ruangan ketika musim dingin atau air) sejak peradaban Romawi, namun sekarang lebih populer untuk menghasilkan energi listrik. Sekitar 10 Giga Watt pembangkit listrik tenaga panas bumi telah dipasang di seluruh dunia pada tahun 2007, dan menyumbang sekitar 0.3% total energi listrik dunia.

Energi panas bumi cukup ekonomis dan ramah lingkungan, namun terbatas hanya pada dekat area perbatasan lapisan tektonik.

Pangeran Piero Ginori Conti mencoba generator panas bumi pertama pada 4 July 1904 di area panas bumi Larderello di Italia. Grup area sumber panas bumi terbesar di dunia, disebut The Geyser, berada di Islandia, kutub utara. Pada tahun 2004, lima negara (El Salvador, Kenya, Filipina, Islandia, dan Kostarika) telah menggunakan panas bumi untuk menghasilkan lebih dari 15% kebutuhan listriknya.

Pembangkit listrik tenaga panas bumi hanya dapat dibangun di sekitar lempeng tektonik di mana temperatur tinggi dari sumber panas bumi tersedia di dekat permukaan. Pengembangan dan penyempurnaan dalam teknologi pengeboran dan ekstraksi telah memperluas jangkauan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi dari lempeng tektonik terdekat. Efisiensi termal dari pembangkit listrik tenaga panas umi cenderung rendah karena fluida panas bumi berada pada temperatur yang lebih rendah dibandingkan dengan uap atau air mendidih. Berdasarkan hukum termodinamika, rendahnya temperatur membatasi efisiensi dari mesin kalor dalam mengambil energi selama menghasilkan listrik. Sisa panas terbuang, kecuali jika bisa dimanfaatkan secara lokal dan langsung, misalnya untuk pemanas ruangan. Efisiensi sistem tidak memengaruhi biaya operasional seperti pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil.

Energi panas bumi pun berdasar hadits ini tidak boleh dimonopoli individu, melainkan mesti dikuasai lembaga pemerintahan untuk dimanfaatkan oleh penduduknya secara bersama.

 

D. Beberapa Ibrah

1. Kaum muslimin berserikat dalam air, rumput liar dan energi api. Hadits ini mengisyaratkan bahwa ketiga sumber energi tersebut tidak boleh dimonipoli, tidak pula ditimbun oleh individu.

2. Hadis ini adalah dalil bahwa air, padang rumput, dan api adalah milik kaum muslimin secara umum. Individu tidak boleh memilikinya secara pribadi. Tidak seorang pun boleh mencegah orang lain memperoleh manfaat darinya. Dengan demikian sumber energi air, rumput liar dan energi panas hanya boleh dikuasai oleh lembaga pemerintahan dan dimanfaatkan seoptimal mungkin oleh mesyarakat.

3. Tiga sumber energi adalah milik umum. Yang dimaksud hak milik umum ialah sesuatu yang digunakan bagi keperluan umum. Pada zaman Rasulullah saw ditentukan ialah air, api dan padang rumput. Mata air dan sumur wajib dimanfaatkan bagi orang umum. Seseorang yang mempunyai sumber air wajib mengizinkan orang lain mengambil airnya, tidak dibenarkan memonopoli untuk diri dan keluarganya saja. Demikian juga orang yang memiliki api atau pembuat api, atau energi panas, karena api merupakan hajat hidup manusia juga.

4. Padang rumput yang hanya sedikit jumlahnya di tengah gurun, yang menjadi tempat penggembalaan ternak bagi seluruh penduduk. Orang tidak dibenarkan memonopoli atau memiliki kegunaan padang rumput itu hanya bagi diri dan keluarganya, tetapi harus terbuka untuk umum.

5. Dewasa ini hak milik umum lebih meluas yaitu mencakup juga jalan, sungai, jembatan, lautan, danau, bukit, tambang dan sebagainya. Yang dimaksud dengan harta atau benda-benda vital ialah sesuatu yang mutlak diperlukan bagi kepentingan negara dan bagi hajat hidup rakyat seperti …. , penggalian tambang seperti minyak bumi serta gas alam dan batubara.”[15]

5. Islam mengenal tiga jenis kepemilikan, yaitu kepemilikan individu, kepemilikan umum, dan kepemilikan Negara. (a) Kepemilikan individu adalah hukum syara’ yang berlaku bagi zat ataupun kegunaan (utility) tertentu, yang memungkinkan siapa saja yang mendapatkannya untuk memanfaatkan barang tersebut, serta memperoleh kompensasi – baik karena barangnya diambil kegunaannya oleh orang lain seperti disewa, ataupun karena dikonsumsi untuk dihabiskan zatnya seperti dibeli – dari barang tersebut. (b). Kepemilikan umum adalah izin asy-Syâri’ (Zat Pembuat syariat) kepada suatu komunitas untuk sama-sama memanfaatkan benda. Sedangkan benda-benda yang termasuk dalam kategori kepemilikan umum adalah benda-benda yang dinyatakan oleh asy-Syâri’ bahwa benda-benda tersebut untuk suatu komunitas, di mana mereka masing-masing saling membutuhkan, dan asy-Syâri’ melarang benda tersebut dikuasai oleh hanya seorang saja.

6. Benda-benda ini tampak pada tiga macam, yaitu: 1) Sesuatu yang merupakan fasilitas umum yang jika tidak ada di dalam suatu negeri atau komunitas, maka akan menyebabkan sengketa dalam mencarinya, 2) Bahan tambang yang tidak terbatas, 3) Sumber daya alam yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki hanya oleh individu secara perorangan.

7. Kepemilikan negara adalah harta yang merupakan hak seluruh kaum Muslimin, sementara pengelolaannya menjadi wewenang khalifah, di mana dia bisa mengkhususkan sesuatu kepada sebagian kaum Muslimin, sesuai dengan apa yang menjadi pandangannya.

8. Makin meledaknya populasi manusia, membuat kebutuhan akan energi makin meningkat. Salah satunya adalah energi listrik. Pemerintah kemudian mengupayakan untuk menambah pasokan listrik nasional. Namun upaya yang dilakukan masih menggunakan cara lama, yaitu dengan mengolah bahan bakar fosil. Hal ini tentu dapat menimbulkan masalah. Bahan bakar fosil adalah salah satu bentuk energi yang tidak dapat diperbarui. Sehingga apabila terus dieksploitasi tentu akan membuat semakin terbatasnya cadangan bahan bakar fosil. Untuk itu, perlu dikembangkan suatu sumber energi baru. Upaya penemuan sumber energi terbarukan ini bahkan sudah menjadi “trending topic” di negara-negara lain. Salah satu sumber energi terbarukan yang banyak menjadi wacana adalah sumber energi nuklir dan panas bumi. Kedua sumber energi ini sudah lama menjadi wacana. Namun pada praktek pelaksanaannya pemanfaatan energi nuklir jauh lebih banyak menuai kontroversi. Salah satu bentuk kontra masyarakat dapat dilihat dari reaksi Warga Balong, Jepara, Jawa Tengah. Mereka menolak keras proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di desa mereka. Penolakan ini dengan alasan dampak yang dapat ditimbulkan bila terjadi kesalahan dalam proyek PLTN. Bencana yang baru- baru ini terjadi di Jepang pun turut menambah ketakutan masyarakat akan penggunaan teknologi nuklir. Gempa yang terjadi di Jepang pada tanggal 11 Maret lalu hanya berkekuatan 8,9 skala Richter. Namun mampu membuat kekhawatiran yang begitu besar bagi warga dunia karena mampu mengakibatkan meledaknya reaktor nuklir unit 1 di Fukushima, Jepang. Kekuatan gempa yang menempati urutan ketujuh gempa terbesar di dunia ini berada di bawah kekuatan gempa yang pernah melanda Sumatra pada tanggal 26 Desember 2004. Gempa Sumatra yang berkekuatan 9,1 skala ritcher menempati urutan ketiga gempa terbesar di dunia.  Dibandingkan sumber energi nuklir, pemakaian sumber energi panas bumi sebenarnya jauh lebih berpotensi bila dilaksanakan di Indonesia. Energi panas bumi adalah energi yang diekstrasi dari panas yang tersimpan di dalam bumi. Bila dibandingkan negara lain, Indonesia merupakan negara yang memiliki energi panas bumi terbesar. Sumber energi panas bumi di Indonesia mencapai 40% dari total energi panas bumi dunia. Melihat fakta ini, seharusnya Indonesia mampu menjadi negara produsen panas bumi terbesar di dunia. Namun kenyataannya Indonesia masih belum mampu memanfaatkan potensi yang dimiliki secara maksimal. Banyak Wilayah kerja pertambangan atau WKP energi panas bumi di beberapa daerah terbengkalai dan kurang diminati investor. Seharusnya ini menjadi perhatian pemerintah. Namun kenyataannya pemerintah terlalu sibuk dengan proyek energi nuklirnya yang masih sangat controversial itu. Akibatnya Indonesia baru dapat memanfaatkan potensinya sebesar 4,2%.

Pemakaian energi panas bumi bahkan memiliki nilai lebih bila dibandingkan energi nuklir dan energi lain. Energi panas bumi jauh lebih ramah lingkungan karena emisinya tidak mengandung polutan kimiawi atau limbah, sehingga mampu mendukung upaya untuk mengurangi pemanasan global. Hal ini tentu berbeda sekali dengan energi nuklir. Selain menghasilkan polutan, limbah energi nuklir seperti plutonium hanya bisa meluruh setengah dari daya radioaktif total dalam kurun waktu 24.000 tahun. Artinya dibutuhkan waktu 24.000 tahun untuk dapat mengurangi sifat radioaktif limbahnya sebanyak 50%. Padahal, di Bumi tidak pernah dijumpai bangunan yang tetap mampu berdiri kokoh dalam kurun waktu 24.000 tahun. Lalu akan disimpan dimana limbah radioaktif tersebut?. Kemudian kelebihan lain energi panas bumi adalah dapat terbarukan karena sumber panas yang berada dalam bumi tidak terbatas, tidak seperti bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui. Energi panas bumi atau disebut juga “energi hijau” mampu menghemat anggaran negara. Anggaran negara untuk konsumsi bahan bakar fosil atau upaya pemeliharaan PLTN bisa dipangkas banyak. Energi panas bumi mampu menyediakan pasokan listrik yang lebih andal, stabil dan tidak memakan banyak tempat.



[1] Musnad Ahmad, Juz 47 h.57 no.22004

[2] Sunan Ibn Majah, no.2463

[3] Jami al-Ulum, XXXII h.18

[4] Bulugh al-Maram, Bab Ihya al-Mawat, nomor urut 9

[5] Subul al-Salam, III h.86

[6] Sunan Ibn Majah, no.2464

[7] Sunan Ibn Majah, no.2463

[8] Faidul-Qadir, VI h.353

[9] http://www.readersdigest.co.id/sehat/nutrisi/manfaat.air.bagi.tubuh/005/002/67

[10] http://hijauindonesia-ku.blogspot.com/2012/06/tenaga-air-sebagai-sumber-energi.html

[11] al-Fath al-Rabbani, XV h.132

[12] al-Shan’ani, Subul al-Salam, III h.87

[13] Jami al-Ulum, XXXII h.18

[14] Faidul-Qadir, VI h.353

[15] 12. Putusan Tarjih tentang al-Amwal fil-Islam, hasil Muktamar Tarjih ke-20 di Garut 1976,

YANG MESTI IZIN SUAMI ISTRI (kajian hadits riwayat al-Bukhari)

YANG MESTI IZIN SUAMI ISTRI

(kajian hadits riwayat al-Bukhari)

A. Teks Hadits dan Tarjamahnya

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ

وَرَوَاهُ أَبُو الزِّنَادِ أَيْضًا عَنْ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي الصَّوْمِ

Abu al-Yaman menyampaikankan hadits pada kami. Syu’aib mengabarkan hadits pada kami. Abu al-Zinad meriwayatkan hadits pada kami dari al-A’raj dari Abi hurairah. Sesungguhnya Rasul SAW bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita untuk melaksanakan shaum sedangkan suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Tidak halal bagi seorang wanita untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa persetujan suaminya. Apa yang wanita nafqahkan tanpa perintah  suaminya, maka setengahnya mesti dibayar pada suaminya. Abu al-Zinad juga meriwayatkan hadits yang senada dari Abi Musa, dari ayahnya dari Abi Hurairah. Hr, al-Bukhari[1]

 

B. Takhrij Hadits

1. حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ  Abu al-Yaman mengabarkan hadits pada kami. Syu’aib mengabarkan hadits pada kami. Abu al-Zinad meriwayatkan hadits pada kami dari al-A’raj dari Abi hurairah.

Kalimat ini mengisyaratkan bahwa al-Bukhari (a94-256H) menerima hadits dari أَبُو الْيَمَانِ yang bernama al-Hakam bin Nafi, dia adalah Tabi al-Atba, dijuluki Abu al-Yaman yang wafat tahun 222H.  Beliau menerima hadits dari شُعَيْبٌ yang nama populernya adalah Abu Bisyr bin Abi Hamzah Dinar, sebagai tabi al-Tabi’in, lama hidup di Syam dan wafat tahun 162H. Yang menyampaikan hadits pada beliau adalah أَبُو الزِّنَادِ nama aslinya Abdullah bin Dakwan, sebagai Tabi’in (karena bertemu dengan shahabat dalam keadaan muslim), lama hidup di Madinah dan wafat tahun 130H.  Beliau menerima hadits dari الْأَعْرَجِ seorang tabi’in senior, yang benarma asli Abdurrahman bin Hurmuz dijuluki juga dengan nama Abu daud, lama hidup di Madinah dan wafat tahun 117. Beliau menerima hadits dari Abu Hurairah yaitu seorang shahabat yang bernama asli Abdurrahman bin Shahr, wafat tahun 57H, yang riwayatnya telah diungkap pada pembahasan yang lalu.

وَرَوَاهُ أَبُو الزِّنَادِ أَيْضًا عَنْ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي الصَّوْمِ

Kalimat ini menginformasikan bahwa hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu al-Zinad melalui jalur lainnya yaitu dari Musa, dari ayahnya yang masih dari Abi hurairah. Itulah komentar al-Bukhari. Hadits ini sangat popular di kalangan ahli hadits, bahkan tiga imam dari penyusun al-Kutub al-Sittah meriwayatkannya dengan berbagai jalur atau mata rantai hingga sampai pada mereka. Adapun redaksinya ada yang sama ada pula yang berbeda. Perbandingan redaksinya dapat dilihat pada table berikut.

 

NAMA IMAM DAN NOMOR HADITS

REDAKSI MATAN HADITS DAN TARJAMAHNYA

Al-Bukhari (194-256H); hadits nomor 4796

 

لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ

Tidak halal bagi seorang wanita untuk melaksanakan shaum sedangkan suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Tidak halal bagi seorang wanita untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa iznin suaminya. Apa yang wanita nafqahkan tanpa perintah  suaminya, maka setengahnya mesti dibayar pada suaminya.

Muslim (206-261H); hadis nomor 1704

لَا تَصُمْ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنْ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ كَسْبِهِ مِنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّ نِصْفَ أَجْرِهِ لَهُ

Seorang wanita tidak dibenarkan melaksanakan shaum padahal suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Perempuan juga tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumah suaminya padahal dia masih ada kecuali atas izinnya. Apa yang diinafkkan seorang wanita dari hasil usaha suami tanpa perintahnya, maka setengah pahalanya adalah untuk suaminya

Abu Daud (202-275H); hadits nomor 2102

لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ غَيْرَ رَمَضَانَ وَلَا تَأْذَنُ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Seorang wanita tidak dibenarkan shaum, padahal suaminya ada tanpa izinnya, kecuali ramadlan. Seorang wanita tidak dibenarkan mengizinkan orang lain masuk rumah padahal suaminya masih ada kecuali atas izinnya

 

C. Syarah Hadits

1.. أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ Sesungguhnya Rasul SAW bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita untuk melaksanakan shaum sedangkan suaminya hadir, kecuali atas izinnya.

Kalimat لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ (tidak halal bagi kaum wanita), ditinjau dari sudut fiqih menunjukkan keharaman, karena setiap yang tidak halal adalah haram. Memang ada ulama yang berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh, karena kalimat tidak halal tidak semua mengisyaratkan haram. Namun menurut al-Asqalani, kalimat لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ yang lebih tepat diartikan hukumnya haram bagi kaum wanita, sebagai mana menurut mayoritas ulama. [2] Kalimat أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ (wanita shaum tatkala suaminya hadir, kecuali dengan seizinnya. Menurut riwayat muslim (206-261H) menggunakan redaksi larangan  لَا تَصُمْ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ (janganlah seorang wanita shaum ketika suaminya ada kecuali dengan izinnya).[3] Yang diharamkan di sini adalah shaum tathawwu bukan shaum wajib, sebagaimana terungkap dalam riwayat al-Tirmidzi (209-279H) dan Ibn Majah (207-275H)  dengan redaksi لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ يَوْمًا مِنْ غَيْرِ شَهْرِ رَمَضَانَ إِلَّا بِإِذْنِهِ Seorang perempuan tidak dibenarkan shaum sehari pun padahal suaminya hadir, selain shaum ramadlan kecuali dengan izinnya.[4]

Al-Nawawi (631-676H),[5]  menegaskan bahwa larangan ini mengisyaratkan haramnya wanita shaum sunat ketika suaminya hadir kecuali atas izinnya, karena shaum sunat itu waktunya tidak sempit boleh dilaksanakan di hari lain. Adapun salah satu sebabnya diharamkan adalah seorang suami mempunyai hak untuk bersenang-senang dengan istrinya kapanpun. Memenuhi keinginan suami untuk menenyangkannya adalah menjadi kewajiban seorang istri. Oleh karena itu tidak boleh dikalahkan dengan ibadah yang disunnahkan. Ada yang berpendapat  bahwa shaum sunat tanpa izin suami itu semestinya dibolehkan saja, tapi tatkala suaminya menginginkan sesautu dari istri yang menimbulkan batalnya shaum, maka istrinya mesti membatalkan shaumnya, umpamanya menginginkan makan berasama atau sebangsanya. Al-Nawawi menjawab pendapat tersebut dengan menegaskan bahwa shaumnya sang istri bisa mengganggu kebebasan suami untuk memenuhi keinginanya, maka semestinya minta persetujuan terlebih dahulu.[6]

Adapun perkataan وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ atau dalam redaksi lainnya وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ (sedangkan suaminya menyaksikan atau hadir) mengisyaratkan bahwa istri dilarang shaum sunat tanpa persetujuan suaminya itu ketika suaminya berada di rumah atau sedang berbarengan dengannya. Jika suaminya itu sedang bepergian, sedangkan istrinya tidak ikut dan berada di rumah, maka istrinya boleh saja shaum tanpa minta persetujuan terlebih dahulu. Namun menurut al-Asqalani,[7] jika seorang istri sedang shaum padahal suaminya tidak di rumah, tiba-tiba di siang hari suminya datang dan menghendaki sesuatu yang membatalkan shaum, maka wajiblah istrinya itu membatalkan shaumnya. Larangan ini juga memberi isyarat bahwa di antara kebaikan istri pada suami adalah tidak melakukan ibadah yang hukumnya sunat yang menganggu keharmonisan rumah tangga. Menjaga keharmonisan suami istri hukumnya wajib, maka jangan sampai terganggu oleh ibadah yang hukumnya sunat. Dalam riwayat Ibn Abi Syaibah diterangkan ada seorang waniya yang menghadap Rasul menanyakan tentang hak suami yang mesti dipenuhi istrinya, maka Rasul SAW bersabda: لا تصوم إلا بإذنه إلا الفريضة فإن فعلت أثمت ولم يقبل منها  tidak dibenarkan seorang istri shaum tanpersetujuan suaminya kecuali yang difardlukan. Jika istrinya tetap melakukan shaum maka termasuk dosa dan tidak akan diterima shaumnya.[8] Kalimat إِلَّا بِإِذْنِهِ juga mengandung arti syarat dikabulnya ibadah sunat yang dilakukan seorang istri adalah persetujuan suami. Persetujuan tersebut baik dalam bentuk kalimat langsung ataupun tidak langsung. Namun bukan berarti istri dilarang melakukan semua ibadah sunat tanpa izin suami. Sepanjang ibadah sunat yang dilakukannya itu tidak menganggu keharmonisan suami istri maka dapat dijalankannya.[9]  Larangan ibadah shaum sunat bagi istri tanpa persetujuan suami, juga memberi isyarat adanya kemestian mendahulukan kewajiban di banding yang hukumnya sunat. Tegasnya  larangan ini tidak mencakup shalat sunat yang hanya membutuhkan waktu singkat.[10] Namun jika ibadah yang hukumnya sunat itu dapat mengganggu atau menghalangi kewajiban memelihara kebahagiaan suami istri, maka sepantasnya dihindari. Dalam riwayat Ahmad (164-241H) bahkan ditegaskan seorang istri dilarang shaum sunat tanpa iizin suaminya walau hanya satu hari. Perhatikan redaksinya: لَا تَصُمْ الْمَرْأَةُ يَوْمًا وَاحِدًا وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Janganlah seorang perempuan shaum walau hanya satu hari, padahal suaminya ada kecuali dengan izinnya. Hr. Ahmad.[11]

لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ يَوْمًا وَاحِدًا وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ إِلَّا رَمَضَانَ

Seorang perempuan tidak shaum walau hanya satu hari padahal suaminya ada kecuali dengan izinnya selain ramadlan. Hr. Ahmad.[12]9780

Kalau ibadah tathawwu itu mesti mendapat izin dari suami, maka secara tersirat seorang suami boleh saja membatasi istrinya dalam melakukan ibadah tathawu yang diperkirakan mengganggu hak dan kewajiban. Secara tersurat hadits ini melarang istri beribadah tathawu tanpa izin suaminya. Tegasnya suami memiliki wewenang untuk meberi atau tidak memberi izin istrinya. Namun bukan berarti sang suami boleh bertindak sewenag pada istrinya, karena diperintah untuk memperlakukan istrinya secara ma’ruf sebagaimana ditegaskan dalam Qs.4:19. Dalam hadits ini memang tidak dibahas tentang bagaimana suami melakukan ibadah tathawwu tanpa izin istri, apakah dibolehkan sepanjang tidak mengganggu keharmonisan? Tidak ditemukan hadits yang secara tersurat melarangnya. Namun hal ini tentu berkaitan dengan kewajiban suami menjaga perasaan sang istri. Itulah mungkin salah satu hikmahnya, Rasul minta izin siti Aisyah untuk bertahajjud. Beliau bersabda pada Aisyah:يا عائشة ذريني  أتعبد الليلة لربي »  Wahai Aisyah !  sudikah dikau membiarkan diriku beribadah pada Tuhanku semalam ini? Aisyah menjawab:  والله إني لأحب قربك ، وأحب ما سرك ،   demi Allah seungguhnya diriku sangat mencintai dekat denganmu dan aku sangat mencintai apa yang engkau senangi yang menyenangkanmu. Kemudian Rasul SAW bersuci dan melaksanakan qiam al-Lail.  Hr. Ibn Hibban.[13] Hadits ini mengisyaratkan bertapa Rasul SAW memperlakukan istrinya dengan akhlaq yang mulia. Beliau meminta izin Aisyah terlebih dahulu tatkala akan melakukan ibadah di waktu malam. Budi pekerti beliau merupakan teladan bagi setiap suami. Dengan demikian tidak hanya sang istri minta izin suami untuk melakukan ibadah tathawwu, suami pun diperlukannya untuk menjaga keharmonisan keluarga. Ibadah ritual yang hukumnya tathawwu atau sunat secara fiqhiyah memang tidak boleh mengganggu kewajiban yang sifatnya social. Itulah mungkin salah satu hikmahnya mengapa Rasul SAW membatasi umat yang ingin beribadah melebihi beliau. Shaum tidak boleh setiap hari, shalat malam pun tidak boleh semalam suntuk. Abdullah bin Amr bin Ash menerangkan bahwa tatkala beliau bertekad untuk memperbanyak ibadah, Rasul SAW bersabda:

يَا عَبْدَ اللَّهِ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَلَا تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Wahai Abdallah! Kabarnya engkau selalu shaum di siang hari, dan bangun malam. (kata Ibn Amr) betul wahai Rasul! Beliau bersabda: jangan engkau lakukan seperti itu! Shaumlah dan berbuka lah! Bangunlah malam dan tidurlah sebagiannya. Sesungguhnya jasadmu punya hak untuk kemu penuhi. Matamu juga punya hak untuk kamu penuhi. Istrimu juga punya hak untuk kamu penuhi kebutuhannya. Hr. al-Bukhari (194-256H).[14]

Dalam riwayat Ahmad (164-241) ditegaskan:

لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

Dirimu punya hak yang mesti kamu penuhi, keluargamu juga punya hak yang mesti kemu penuhi. Har. Ahmad.[15]

Demikiian pula dalam membaca al-Qur`an mesti memberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Ketika Abdullah bin Amr bertekad memperbanyak bacaan al-Qur`an, Rasul bersabda:

اقْرَأْ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ قَالَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً قَالَ فَاقْرَأْهُ فِي عِشْرِينَ لَيْلَةً قَالَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً قَالَ فَاقْرَأْهُ فِي سَبْعٍ وَلَا تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ

Bacalah olehmu al-Qur`an di setiap bulan! Saya berkata bahwa masih kuat melebihi itu. Sabda Rasul bacalah menamatkannya dalam dua puluh malam! Saya katakana masih kuat! Rasul bersabda bacalah al-Qur`an dalam tujuh hari dan jangan lebih dari itu. Hr. Muslim.[16]

Rasul membatasi ibadah Ibn Amr bahwa shaum tidak boleh setiap hari, shalat tidak boleh semalam suntuk, membaca al-Qur`an sebaiknya satu bulan saja untuk menamatkannya. Kalau pun masih banyak waktu dan kesempatan bolehlah sampai tujuh hari dan tidak boleh melebihi itu, karena harus ada kesempatan untuk kepentingan memenuhi kebutuhan diri dan keluarga. Dengan demikian sang suami boleh saja membatasi ibadah istrinya, yang sudah dibatasi oleh Rasul SAW tersebut, yang sifatnya ritual yang tidak diwajibkan.

 

2.. وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ Tidak halal bagi seorang wanita untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa iznin suaminya.

Kalimat ini tidak terpisahkan dengan kalimat sebelumnya yang menggunakan kata sambung secara mutlak. Dengan demikian وَلَا تَأْذَنَ  pada hadits ini bermakna تَأْذَنَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ tidak halal bagi seorang perempun memberi izin فِي بَيْتِهِ di rumahnya إِلَّا بِإِذْنِهِ kecuali dengan izin suaminya. Dalam riwayat muslim menggunakan kalimat وَلَا تَأْذَنْ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ Tidak halal bagi seorang wanita padahal suaminya hadir, untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa iznin suaminya. Namun kalimat وَهُوَ شَاهِدٌ bukan berarti membolehkan memberi izin ketika suaminya tidak ada, tapi sebagai penegasan atau menguatkan kalimat sebelumnya. Berfungsi pula sebagai من باب الأولى yang mengandung arti ketika ada suaminya di rumah mesti minta izin terlebih dahulu, untuk mempersilakan orang lain masuk rumah; apalagi tatkala suaminya tidak ada di rumah. Tegaslah seorang istri berkewajiban minta izin suami tatkala hendak mempersilakan orang lain masuk ke rumah, baik suaminya ada di rumah ataukah sedang tiada. Salah satu tanggung jawab istri terhadap suami adalah menjaga kehormatan diri, kehormatan suami dan juga kepemimpinan rumah tangga tatkala suaminya tiada di rumah. Allah SWT berfirman:فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ Wanita shahihat ada yang taat setia dan pandai menjaga tatkala suaminya tiada sebagaimana Allah telah menjaganya. Qs.4:35

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

dari Abi Hurairah, berkata: Rasul SAW ditanya: Wanita yang bagaimanakah yang terbaik? Beliau menjawab yang menyenangkan suami tatkala melihatnya, taat tatkala suami memerintah, tidak menyalahi suaminya dalam mengurus diri dan harta, hingga melakukan yang tidak disenangi. Hr. al-Nasa`iy.[17] Redaksi lainnya berbunyi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا فِي مَالِهِ

dari Abi Hurairah, berkata: Rasul SAW ditanya: Wanita yang bagaimanakah yang terbaik? Beliau menjawab yang menyenangkan suami tatkala melihatnya, taat tatkala suami memerintah, tidak menyalahi suaminya dan tidak melakukan sesuatu yang kurang disenangi suaminya baik dalam mengurus diri maupun urusan harta suaminya. Har. Ahmad.[18]

خير النساء اللاتي إذا نظرت إليها سرتك ، وإذا أمرتها أطاعتك ، وإذا غبت عنها حفظتك في نفسها ومالها

Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkanmu tatkala kamu melihatnya, taat dan setia tatkala kamu memerintahnya, serta senantiasa menjaga diri dan hartanya tatkala kamu tidak dio sampingnya. Hr. Ibn Abi Hatim, Abu Dawud al-Thayalisi.[19]

ألا أخْبِرُك بِخَيْرِ مَا يكنزُ المَرْء المَرْأةُ الصَّالِحَة إذَا نَظَر إليْهَا سَرَّتْه وإذا أمَرَها أطَاعَتْه وإذا غَابَ عَنْهَا  حَفظتْه في نَفْسِهَا وَمَالِه

“Ingatlah aku beritahukan kepada kamu tentang simpanan seseorang yang patut dipelihara, yaitu isteri yang shalih; yang menyenangkan suami tatkala melihatnya, selalu taat tatkala suami memerintahnya, dan selalu menjaga dirinya dan harta suami tatkala jauh darinya”. Hr. Abu Dawud (w.275 H), Ibn Majah (w.275 H),  dan Abû Ya’la (w.307). [20]

Abu Umamah (w. 86 H) menerangkan bahwa Rasul SAW bersabda:

مَا اسْتَفَادَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرًا لَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ وَإِنْ غَابَ عَنْهَا نَصَحَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

Tidak ada yang lebih baik manfaatnya yang diraih mu`min setelah taqwa kepada Allah dibanding isteri yang shalih; jika suaminya memerintah ia setia, jika melihatnya ia menyenangkan, jika memberi bagian ia tetap berbaikan, jika suami sedang tiada, ia tetap menjaga dirinya dan harta suaminya”. Hr. Ibn Mâjah (w.275 H).[21]

Berdasar beberapa hadits di atas, jelaslah bahwa seorang istri bertanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan rumahtangganya terutama tatkala suami tidak ada di tempat. Istri merupakan pemimpin rumah tangga mewakili suami yang sedang tidak di tempat. Di samping itu kalimat وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا فِي مَالِهِ menunjukkan bahwa pada prisipnya seorang istri tidak diperkenankan untuk melakukan hal-hal yang tidak disenangi suaminya, baik dalam urusan sikap diri maupun urusan pengelolaan harta. Dalam riwayat lain ditegaskan وإن لَكُم عَلَيْهِنَّ  أن لا يُوَطِّئْن فَرْشَكُمْ أحَدًا تَكْرَهُوْنَه “Ingatlah di antara yang menjadi hakmu sebagai tanggung jawab isteri; jangan sampai mereka memasukkan seorang pun yang tidak kamu senangi ke rumahmu.” Hr. al-Darimi (w.255 H), dari Jabir bin ‘Abd Allah.[22]

Dikaitkan dengan pangkal hadits yang dibahas yang melarang shaum sunat tanpa izin suami, jelas berkaitan dengan urusan ibadah ritual, maka potongan hadits ini berkaitan dengan ibadah social yang ada hubungannya dengan sesame manusia. Kedua macam ibadah tersebut tentu saja sangat bernilai di sisi Allah maupun sisi manusia. Namun ternyata berdasar hadits yang dikaji di sini, baik ritual maupun social yang dilakukan seorang istri, mesti tetap atas izin suami, jelaslah jangan sampai mengganggu keharmonisan berkeluarga. Istri yang mengutamakan kepentingan keluarga khususnya keharmonisan dengan suaminya mendapat jaminan untuk mendapatkan surg di hari akhirat kelak. Rasul SAW bersabda:

إذَا صَلَّت المَرْأةُ خَمْسَهَا وَصَاَمتْ شَهْرَهَا وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أي أبْوَابِ الجَنَّةِ شَاءَتْ

“Jika perempuan itu menegakkan shalat lima waktu, shaum bulan ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat pada suaminya, maka akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia inginkan.” Hr. Ibn Hibban (w. 354 H) dari Abi Hurairah.[23]

Hadits ini berisi jaminan bagi isteri yang taat pada suami, bila ia menegakkan shalat, shaum, dan menjaga kehormatannya, akan masuk surga. Dengan demikian isteri yang setia pada suaminya, bukan hanya meraih derajat sebagai wanita terbaik di dunia, tapi juga menjadi ahli surga di akhirat kelak. Perintah suami yang mesti ditaati isteri, tentu saja yang tidak bertentangan dengan syari’at  Islam. Jika perintahnya itu bertentangan dengan syari’at, maka yang mesti ditaati adalah Allah SWT dan Rasul-Nya. Siapa pun tidak dibenarkan menaati suatu perintah yang bertentangan dengan perintah Allah SWT. Rasul bersabda:لا طَاعَةَ  لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَة الخَالِق “Tidak ada ketaatan pada makhluq dalam berbuat maksiat terhadap Khaliq.” Hr. Ibn Abî Syaybat (w.235) dari al-Hasan.[24]

Timbul pertanyaan, bagaimana kalau seorang suami mengajak masuk perempuan lain ke rumahnya tanpa izin istri? Tentu saja jawabannya bukan dengan hadits inhi, melainkan dalam ketentuan lainnya. Pada dasarnya baik suami maupun istri mesti berusaha saling menyenangkan dan menghindari hal-hal yang menimbulkan ketidaknyamanan pasangannya. Istri berkewajiban menjaga ketentraman dan kenyamanan suami. Suami pun berkewajiban menjaga ketentraman dan kenyamanan istrinya. Allah SWT berfirman: فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Jika istrimu itu teah setia menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyulitkan mereka, sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha Agung. Qs.4:34

3.. وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ Apa yang wanita nafqahkan tanpa perintah  suaminya, maka setengahnya mesti dibayar pada suaminya.

Dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, penggalan hadits ini mengandung perintah agar seorang istri yang akan berinfaq hendaklah minta persetujuan terlebih dahulu dari saminya. Konsekuensinya bila seorang istri infaq tanpa persetujuan suami, maka mesti mengembalikan atau membayar setengah dari apa yang telah diinfakkannya. Kalimat ini juga memberi isyarat bahwa harta rumah tangga merupakan milik bersama suami istri. Jika salah satu di antara suami istri, berkeinginan menggunakannya di luar kepentingan bersama, maka mesti ada persetujuan kedua belah fihak. Diriwayatkan dari Abi Hurairah

فِي الْمَرْأَةِ تَصَدَّقُ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا قَالَ لَا إِلَّا مِنْ قُوتِهَا وَالْأَجْرُ بَيْنَهُمَا وَلَا يَحِلُّ لَهَا أَنْ تَصَدَّقَ مِنْ مَالِ زَوْجِهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ

Mengenai seorang istri bersedekah dari harta rumah tangga suaminya, dia mengatakan tidak boleh kecuali dari kelebihan makanan [pokok dan pahala untuk keduanya; tidak halal seorang istri bersedekah dari harta suaminya kecuali atas izinnya. Hr. Abu Dawud.[25]

Jika harta yang diinfakkan istri itu mendapat persetujuan suaminya, maka pahala dari infaq tersebut sampai pula kepada suaminya. Rasul SAW bersabda:

إِذَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ كَسْبِ زَوْجِهَا عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِهِ

Jika seorang istri berinfaq dari harta hasil usaha suaminya, tanpa perintah suaminya, maka setengah pahala adalah untuk suaminya. Hr. Al-Bukhari.[26]

Kalimat وَلَا يَحِلُّ لَهَا أَنْ تَصَدَّقَ مِنْ مَالِ زَوْجِهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ tidak halal bagi istri bersedekah tanpa izin suami tersebut tentu saja bila diambil dari harta suami seperti ditegaskan dengan kalimat مِنْ مَالِ زَوْجِهَا bukan dari harta milik sendiri. Menurut mayoritas ulama yang dilarang oleh hadits ini juga infaq yang hukumnya sunat bukan yang wajib sebagaimana shaum, karena hal yang wajib tidak mesti ada persetujuan. Aisyah radliallahu anha menerangkan sebagai berikut:

دَخَلَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ امْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ لَا يُعْطِينِي مِنْ النَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ

Hindun binti Utbah istri Abi Sufyan menghadap Rasul SAW, berkata: Wahai Rasul! Sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang laki-laki yang sangat kikir. Dia tidak memberi nafaqah padaku dan pada anakku yang mencukupi, kecuali apa yang kau ambil dari hartanya tanpa sepengetahun dia. Apakah aku memikul dosa atas perbuatanku itu? Rasil SAW bersabda: ambilah dari hartanya secara ma’ruf apa yang mencukupi kebutuanmu dan menuckupi kebutuhan anakmu. Hr. Muslim (206-261H).[27]

Hadits ini memberi isyarat bahwa seorang istri diperbolehkan mengambil harta suami untuk memenuhi apa yang telah diwajibkan padanya. Hal ini juga termasuk pada kategori memenuhi tanggung jawab tentang kemaslahatan keluarga. Jadi jelas infaq dari harta suami yang diperbolehkan istri mengeluarkannya tanpa persetujuan adalah (1) yang hukumnya wajib (2) yang tathawu tapi tidak menggangu kebutuhan pokok. Rasul SAW bersabda:

إِذَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ لَا يَنْقُصُ بَعْضُهُمْ أَجْرَ بَعْضٍ شَيْئًا jika seorang wanita berinfaq dari harta rumah tangganya sepanjang tidak menimbulkan kerusakan, maka pahalanya adalah untuknya dan untik suaminya. Dia dapat pahala karena berinfaq, dan suaminya dapat pahala karena telah mencarikan nafqah. Demikian pula seorang bendahara, akan mendapat pahala dari yang mereka infakkan. Satu sama yang lain mengurangkan paha yang lain sedikit pun. Hr.Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud.[28]

Hadits ini memberikan jaminan siapa pun yang berjasa dalam berinfaq bakal mendapatkan pahala. Seorang istri yang menginfakkaan harta suaminya dapat pahala karena menyalurkan harta secara tepat. Seorang suami juga mendapat pahala dari harta yang diinfakkan istrinya, karena telah berjasa mencari nafqah. Demikian pula seorang bendara mendapatkan pahala darin infaqnya karena berjasa mengelola harta secara tepat, tidak akan mengurangi pahala sipemilik harta. Apa yang mereka infakkan secara tathawu, tentu saja tidak boleh menimbulkan kesulitan berumah tangga sebagaimana ditegaskan dengan kalimat غَيْرَ مُفْسِدَةٍ  (tidak mendatangkan mafsadat fihak manapun). Hal ini memberikan isyarat agar setiap suami memberikan wewenang pada istrinya untuk berinfaq, karena pahalanya akan didapat oleh keduanya.

 

D. Beberapa Ibrah

1. Ketentraman, keharmonisan dan ketenangan keluarga merupakan tanggung jawab bersama suami dan istri. Suami maupun istri wajib memelihara kemaslahatan keluarga baik secara probadi maupun bersama, maka tidak boleh terganggu oleh tindakan apapun walau yang sifatnya ibadah baik yang bersifat ritual maupun social.

2. Tanggung jawab suami istri ada yang bersifat ritual seperti shaum, ada yang bersifat soasil hubungan dengan fihak yang lain, dan ada pula yang bersifat materi harta keluarga. Beribadah dengan ketiga hal itu mesti dilakukan sesuai proporsinya, tidak boleh mengganngu yang lainnya.

3. Apa yang dilakukan istri yang bersifat berdampak pada fihak suami, mesti dilakukan atas persetujuan suami. Demikian pula yang dilakukan suami bila berdampak pada hak istri, maka mesti dilakukan atas persetujuan istri.

4. Infaq yang dikeluarkan istri pahalanya bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk suaminya. Istri berpahala karena infaqnya; suami dapat pahala karena telah menyediakannya.

5. Harta dalam rumah tangga ada yang bersifat milik pribadi masing-masing suami istri; ada pula yang bersifat milik bersama. Yang menjadi milik pribadi masing-masing tentu saja punya kewenangan tanpa terhalang yang lain. Namun yang milik bersama mesti persetujuan bersama bila digunakan bukan untuk kepentingan bersama.

6. Suami memiliki hak yang mesti dipenuhi oleh istrinya. Istri juga punya hak yang mesti dipenuhi oleh suaminya. Hak dan kewajiban masing-masing mesti dipenuhi sesuai ketentuan syari’ah.

7. Ibadah baik yang sifatnya ritual, social  maupun amwal harta mesti dilakukan sesuai aturan, tidak boleh berlebihan tidak pula berkekurangan dan mesti saling mendukung antara yang satu dengan yang lainnya sehingga terpeliahara kesimbangan.

 



[1] Shahih al-Bukhari, no.4796

[2] Fath al-Bari, XIV h.488

[3] shahih Muslim, hadits nomor 1704

[4] Sunan Al-Tirmidzi, 713; Sunan Ibn Majah, no.1751

[5] nama lengkapnya Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau merupakan ulama yang menulis berbagai karaya tulis antara lain Hadits Arbain, al-Adzkar, riyad al-Shalihin, Syarah Shahih Muslim, Minhaj al-Thalibin. Beliau wafat tahun 676H

[6] Syarah al-Nawawi ala Muslim, III h.474

[7] Beliau adalah al Imam al ‘Allamah al Hafizh Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar, al Kinani, al ‘Asqalani, asy Syafi’i, al Mishri. Kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hajar, dan gelarnya “al Hafizh”. Adapun penyebutan ‘Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah (Jalur Gaza-red). Beliau lahir di Mesir pada bulan Sya’ban 773 H, wafat pada tanggal 28 Dzulhijjah 852 H di Mesir. Karya tulisnya cukup banyak antara lain Bulguhul-Maram, Fath al-Bari, Tahdzib al-Tahdzib, Talkhish

[8] Mushannaf Ibn Abi Syaibah, II h.507

[9]  Fath al-Bari, XIV h.489

[10] Tuhfah al-Ahwadzi, II h.326

[11] Musnad Ahmad, no.9357

[12] Musnad Ahmad, no. 9780

[13] Shahih Ibn Hibban, III h.238

[14] Shahih al-Bukhari, no.4800

[15] Musnad Ahmad, no.6583

[16] shahih Muslim, no.1964

[17] Sunan al-Nasa`iy, III h.271

[18] Musnad, II h.251

[19] Tafsir Ibn Abi Hatim, no.5294, Musnad al-Thayalisi, no.2434

[20] Abû Daud, Sunan Abi dawud., II h.126, Ibn Majah, Sunan Ibn Majah., I h.596, Abû Ya’la, Ahmad bin ‘Alî, Musnad Abû Ya’lâ, jz. IV h.378

[21] Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, I h.596

[22] Abd Allâh bin Abd al-Rahmân  al-Dârimî, Sunan al-Dârimî, , juz II h.69

[23] Abû Hâtim  Muhammad bin Hibban, Shahîh Ibn Hibbân, juz IX h.471

[24] Abû bakr bin Muhammad bin Abi Syaybat,, juz VI h.545

[25] Sunan Abi Dawud, no.1438

[26] Shahih al-Bukhari, no.1924

[27]  Shahih Muslim, III h.1338,  no3233

[28] Shahih al-Bukhari, no.1336, Shahih Muslim, no.1700, Sunan Abi Dawud, no.1435

YANG MESTI IZIN SUAMI (kajian hadits riwayat al-Bukhari) bagian kedua

YANG MESTI IZIN SUAMI

(kajian hadits riwayat al-Bukhari) bagian kedua

A. Teks Hadits dan Tarjamahnya

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ

وَرَوَاهُ أَبُو الزِّنَادِ أَيْضًا عَنْ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي الصَّوْمِ

Abu al-Yaman mengabarkan hadits pada kami. Syu’aib mengabarkan hadits pada kami. Abu al-Zinad meriwayatkan hadits pada kami dari al-A’raj dari Abi hurairah. Sesungguhnya Rasul SAW bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita untuk melaksanakan shaum sedangkan suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Tidak halal bagi seorang wanita untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa persetujan suaminya. Apa yang wanita nafqahkan tanpa perintah  suaminya, maka setengahnya mesti dibayar pada suaminya. Abu al-Zinad juga meriwayatkan hadits yang senada dari Abi Musa, dari ayahnya dari Abi Hurairah. Hr, al-Bukhari[1]

 

Lanjutan syarah hadits

2.. وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ Tidak halal bagi seorang wanita untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa iznin suaminya.

Kalimat ini tidak terpisahkan dengan kalimat sebelumnya yang menggunakan kata sambung secara mutlak. Dengan demikian وَلَا تَأْذَنَ  pada hadits ini bermakna تَأْذَنَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ tidak halal bagi seorang perempun memberi izin فِي بَيْتِهِ di rumahnya إِلَّا بِإِذْنِهِ kecuali dengan izin suaminya. Dalam riwayat muslim menggunakan kalimat وَلَا تَأْذَنْ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ Tidak halal bagi seorang wanita padahal suaminya hadir, untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa iznin suaminya. Namun kalimat وَهُوَ شَاهِدٌ bukan berarti membolehkan memberi izin ketika suaminya tidak ada, tapi sebagai penegasan atau menguatkan kalimat sebelumnya. Berfungsi pula sebagai من باب الأولى yang mengandung arti ketika ada suaminya di rumah mesti minta izin terlebih dahulu, untuk mempersilakan orang lain masuk rumah; apalagi tatkala suaminya tidak ada di rumah. Tegaslah seorang istri berkewajiban minta izin suami tatkala hendak mempersilakan orang lain masuk ke rumah, baik suaminya ada di rumah ataukah sedang tiada. Salah satu tanggung jawab istri terhadap suami adalah menjaga kehormatan diri, kehormatan suami dan juga kepemimpinan rumah tangga tatkala suaminya tiada di rumah. Allah SWT berfirman:فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ Wanita shahihat ada yang taat setia dan pandai menjaga tatkala suaminya tiada sebagaimana Allah telah menjaganya. Qs.4:35

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

dari Abi Hurairah, berkata: Rasul SAW ditanya: Wanita yang bagaimanakah yang terbaik? Beliau menjawab yang menyenangkan suami tatkala melihatnya, taat tatkala suami memerintah, tidak menyalahi suaminya dalam mengurus diri dan harta, hingga melakukan yang tidak disenangi. Hr. al-Nasa`iy.[2] Redaksi lainnya berbunyi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا فِي مَالِهِ

dari Abi Hurairah, berkata: Rasul SAW ditanya: Wanita yang bagaimanakah yang terbaik? Beliau menjawab yang menyenangkan suami tatkala melihatnya, taat tatkala suami memerintah, tidak menyalahi suaminya dan tidak melakukan sesuatu yang kurang disenangi suaminya baik dalam mengurus diri maupun urusan harta suaminya. Har. Ahmad.[3]

خير النساء اللاتي إذا نظرت إليها سرتك ، وإذا أمرتها أطاعتك ، وإذا غبت عنها حفظتك في نفسها ومالها

Sebaik-baik wanita adalah yang menyenangkanmu tatkala kamu melihatnya, taat dan setia tatkala kamu memerintahnya, serta senantiasa menjaga diri dan hartanya tatkala kamu tidak dio sampingnya. Hr. Ibn Abi Hatim, Abu Dawud al-Thayalisi.[4]

ألا أخْبِرُك بِخَيْرِ مَا يكنزُ المَرْء المَرْأةُ الصَّالِحَة إذَا نَظَر إليْهَا سَرَّتْه وإذا أمَرَها أطَاعَتْه وإذا غَابَ عَنْهَا  حَفظتْه في نَفْسِهَا وَمَالِه

“Ingatlah aku beritahukan kepada kamu tentang simpanan seseorang yang patut dipelihara, yaitu isteri yang shalih; yang menyenangkan suami tatkala melihatnya, selalu taat tatkala suami memerintahnya, dan selalu menjaga dirinya dan harta suami tatkala jauh darinya”. Hr. Abu Dawud (w.275 H), Ibn Majah (w.275 H),  dan Abû Ya’la (w.307). [5]

Abu Umamah (w. 86 H) menerangkan bahwa Rasul SAW bersabda:

مَا اسْتَفَادَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرًا لَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ وَإِنْ غَابَ عَنْهَا نَصَحَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

Tidak ada yang lebih baik manfaatnya yang diraih mu`min setelah taqwa kepada Allah dibanding isteri yang shalih; jika suaminya memerintah ia setia, jika melihatnya ia menyenangkan, jika memberi bagian ia tetap berbaikan, jika suami sedang tiada, ia tetap menjaga dirinya dan harta suaminya”. Hr. Ibn Mâjah (w.275 H).[6]

Berdasar beberapa hadits di atas, jelaslah bahwa seorang istri bertanggung jawab untuk menjaga kemaslahatan rumahtangganya terutama tatkala suami tidak ada di tempat. Istri merupakan pemimpin rumah tangga mewakili suami yang sedang tidak di tempat. Di samping itu kalimat وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا فِي مَالِهِ menunjukkan bahwa pada prisipnya seorang istri tidak diperkenankan untuk melakukan hal-hal yang tidak disenangi suaminya, baik dalam urusan sikap diri maupun urusan pengelolaan harta. Dalam riwayat lain ditegaskan وإن لَكُم عَلَيْهِنَّ  أن لا يُوَطِّئْن فَرْشَكُمْ أحَدًا تَكْرَهُوْنَه “Ingatlah di antara yang menjadi hakmu sebagai tanggung jawab isteri; jangan sampai mereka memasukkan seorang pun yang tidak kamu senangi ke rumahmu.” Hr. al-Darimi (w.255 H), dari Jabir bin ‘Abd Allah.[7]

Dikaitkan dengan pangkal hadits yang dibahas yang melarang shaum sunat tanpa izin suami, jelas berkaitan dengan urusan ibadah ritual, maka potongan hadits ini berkaitan dengan ibadah social yang ada hubungannya dengan sesame manusia. Kedua macam ibadah tersebut tentu saja sangat bernilai di sisi Allah maupun sisi manusia. Namun ternyata berdasar hadits yang dikaji di sini, baik ritual maupun social yang dilakukan seorang istri, mesti tetap atas izin suami, jelaslah jangan sampai mengganggu keharmonisan berkeluarga. Istri yang mengutamakan kepentingan keluarga khususnya keharmonisan dengan suaminya mendapat jaminan untuk mendapatkan surg di hari akhirat kelak. Rasul SAW bersabda:

إذَا صَلَّت المَرْأةُ خَمْسَهَا وَصَاَمتْ شَهْرَهَا وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا وَأطَاعَتْ بَعْلَهَا دَخَلَتْ مِنْ أي أبْوَابِ الجَنَّةِ شَاءَتْ

“Jika perempuan itu menegakkan shalat lima waktu, shaum bulan ramadhan, menjaga kehormatannya, dan taat pada suaminya, maka akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia inginkan.” Hr. Ibn Hibban (w. 354 H) dari Abi Hurairah.[8]

Hadits ini berisi jaminan bagi isteri yang taat pada suami, bila ia menegakkan shalat, shaum, dan menjaga kehormatannya, akan masuk surga. Dengan demikian isteri yang setia pada suaminya, bukan hanya meraih derajat sebagai wanita terbaik di dunia, tapi juga menjadi ahli surga di akhirat kelak. Perintah suami yang mesti ditaati isteri, tentu saja yang tidak bertentangan dengan syari’at  Islam. Jika perintahnya itu bertentangan dengan syari’at, maka yang mesti ditaati adalah Allah SWT dan Rasul-Nya. Siapa pun tidak dibenarkan menaati suatu perintah yang bertentangan dengan perintah Allah SWT. Rasul bersabda:لا طَاعَةَ  لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَة الخَالِق “Tidak ada ketaatan pada makhluq dalam berbuat maksiat terhadap Khaliq.” Hr. Ibn Abî Syaybat (w.235) dari al-Hasan.[9]

Timbul pertanyaan, bagaimana kalau seorang suami mengajak masuk perempuan lain ke rumahnya tanpa izin istri? Tentu saja jawabannya bukan dengan hadits inhi, melainkan dalam ketentuan lainnya. Pada dasarnya baik suami maupun istri mesti berusaha saling menyenangkan dan menghindari hal-hal yang menimbulkan ketidaknyamanan pasangannya. Istri berkewajiban menjaga ketentraman dan kenyamanan suami. Suami pun berkewajiban menjaga ketentraman dan kenyamanan istrinya. Allah SWT berfirman: فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Jika istrimu itu teah setia menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyulitkan mereka, sesungguhnya Allah Maha tinggi lagi Maha Agung. Qs.4:34

3.. وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ Apa yang wanita nafqahkan tanpa perintah  suaminya, maka setengahnya mesti dibayar pada suaminya.

Dikaitkan dengan kalimat sebelumnya, penggalan hadits ini mengandung perintah agar seorang istri yang akan berinfaq hendaklah minta persetujuan terlebih dahulu dari saminya. Konsekuensinya bila seorang istri infaq tanpa persetujuan suami, maka mesti mengembalikan atau membayar setengah dari apa yang telah diinfakkannya. Kalimat ini juga memberi isyarat bahwa harta rumah tangga merupakan milik bersama suami istri. Jika salah satu di antara suami istri, berkeinginan menggunakannya di luar kepentingan bersama, maka mesti ada persetujuan kedua belah fihak. Diriwayatkan dari Abi Hurairah

فِي الْمَرْأَةِ تَصَدَّقُ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا قَالَ لَا إِلَّا مِنْ قُوتِهَا وَالْأَجْرُ بَيْنَهُمَا وَلَا يَحِلُّ لَهَا أَنْ تَصَدَّقَ مِنْ مَالِ زَوْجِهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ

Mengenai seorang istri bersedekah dari harta rumah tangga suaminya, dia mengatakan tidak boleh kecuali dari kelebihan makanan [pokok dan pahala untuk keduanya; tidak halal seorang istri bersedekah dari harta suaminya kecuali atas izinnya. Hr. Abu Dawud.[10]

Jika harta yang diinfakkan istri itu mendapat persetujuan suaminya, maka pahala dari infaq tersebut sampai pula kepada suaminya. Rasul SAW bersabda:

إِذَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ كَسْبِ زَوْجِهَا عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِهِ

Jika seorang istri berinfaq dari harta hasil usaha suaminya, tanpa perintah suaminya, maka setengah pahala adalah untuk suaminya. Hr. Al-Bukhari.[11]

Kalimat وَلَا يَحِلُّ لَهَا أَنْ تَصَدَّقَ مِنْ مَالِ زَوْجِهَا إِلَّا بِإِذْنِهِ tidak halal bagi istri bersedekah tanpa izin suami tersebut tentu saja bila diambil dari harta suami seperti ditegaskan dengan kalimat مِنْ مَالِ زَوْجِهَا bukan dari harta milik sendiri. Menurut mayoritas ulama yang dilarang oleh hadits ini juga infaq yang hukumnya sunat bukan yang wajib sebagaimana shaum, karena hal yang wajib tidak mesti ada persetujuan. Aisyah radliallahu anha menerangkan sebagai berikut:

دَخَلَتْ هِنْدٌ بِنْتُ عُتْبَةَ امْرَأَةُ أَبِي سُفْيَانَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ لَا يُعْطِينِي مِنْ النَّفَقَةِ مَا يَكْفِينِي وَيَكْفِي بَنِيَّ إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْ مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمِهِ فَهَلْ عَلَيَّ فِي ذَلِكَ مِنْ جُنَاحٍ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُذِي مِنْ مَالِهِ بِالْمَعْرُوفِ مَا يَكْفِيكِ وَيَكْفِي بَنِيكِ

Hindun binti Utbah istri Abi Sufyan menghadap Rasul SAW, berkata: Wahai Rasul! Sesungguhnya Abu Sufyan itu seorang laki-laki yang sangat kikir. Dia tidak memberi nafaqah padaku dan pada anakku yang mencukupi, kecuali apa yang kau ambil dari hartanya tanpa sepengetahun dia. Apakah aku memikul dosa atas perbuatanku itu? Rasil SAW bersabda: ambilah dari hartanya secara ma’ruf apa yang mencukupi kebutuanmu dan menuckupi kebutuhan anakmu. Hr. Muslim (206-261H).[12]

Hadits ini memberi isyarat bahwa seorang istri diperbolehkan mengambil harta suami untuk memenuhi apa yang telah diwajibkan padanya. Hal ini juga termasuk pada kategori memenuhi tanggung jawab tentang kemaslahatan keluarga. Jadi jelas infaq dari harta suami yang diperbolehkan istri mengeluarkannya tanpa persetujuan adalah (1) yang hukumnya wajib (2) yang tathawu tapi tidak menggangu kebutuhan pokok. Rasul SAW bersabda:

إِذَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ طَعَامِ بَيْتِهَا غَيْرَ مُفْسِدَةٍ كَانَ لَهَا أَجْرُهَا بِمَا أَنْفَقَتْ وَلِزَوْجِهَا أَجْرُهُ بِمَا كَسَبَ وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ لَا يَنْقُصُ بَعْضُهُمْ أَجْرَ بَعْضٍ شَيْئًا jika seorang wanita berinfaq dari harta rumah tangganya sepanjang tidak menimbulkan kerusakan, maka pahalanya adalah untuknya dan untik suaminya. Dia dapat pahala karena berinfaq, dan suaminya dapat pahala karena telah mencarikan nafqah. Demikian pula seorang bendahara, akan mendapat pahala dari yang mereka infakkan. Satu sama yang lain mengurangkan paha yang lain sedikit pun. Hr.Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud.[13]

Hadits ini memberikan jaminan siapa pun yang berjasa dalam berinfaq bakal mendapatkan pahala. Seorang istri yang menginfakkaan harta suaminya dapat pahala karena menyalurkan harta secara tepat. Seorang suami juga mendapat pahala dari harta yang diinfakkan istrinya, karena telah berjasa mencari nafqah. Demikian pula seorang bendara mendapatkan pahala darin infaqnya karena berjasa mengelola harta secara tepat, tidak akan mengurangi pahala sipemilik harta. Apa yang mereka infakkan secara tathawu, tentu saja tidak boleh menimbulkan kesulitan berumah tangga sebagaimana ditegaskan dengan kalimat غَيْرَ مُفْسِدَةٍ  (tidak mendatangkan mafsadat fihak manapun). Hal ini memberikan isyarat agar setiap suami memberikan wewenang pada istrinya untuk berinfaq, karena pahalanya akan didapat oleh keduanya.

 

D. Beberapa Ibrah

1. Ketentraman, keharmonisan dan ketenangan keluarga merupakan tanggung jawab bersama suami dan istri. Suami maupun istri wajib memelihara kemaslahatan keluarga baik secara probadi maupun bersama, maka tidak boleh terganggu oleh tindakan apapun walau yang sifatnya ibadah baik yang bersifat ritual maupun social.

2. Tanggung jawab suami istri ada yang bersifat ritual seperti shaum, ada yang bersifat soasil hubungan dengan fihak yang lain, dan ada pula yang bersifat materi harta keluarga. Beribadah dengan ketiga hal itu mesti dilakukan sesuai proporsinya, tidak boleh mengganngu yang lainnya.

3. Apa yang dilakukan istri yang bersifat berdampak pada fihak suami, mesti dilakukan atas persetujuan suami. Demikian pula yang dilakukan suami bila berdampak pada hak istri, maka mesti dilakukan atas persetujuan istri.

4. Infaq yang dikeluarkan istri pahalanya bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk suaminya. Istri berpahala karena infaqnya; suami dapat pahala karena telah menyediakannya.

5. Harta dalam rumah tangga ada yang bersifat milik pribadi masing-masing suami istri; ada pula yang bersifat milik bersama. Yang menjadi milik pribadi masing-masing tentu saja punya kewenangan tanpa terhalang yang lain. Namun yang milik bersama mesti persetujuan bersama bila digunakan bukan untuk kepentingan bersama.

6. Suami memiliki hak yang mesti dipenuhi oleh istrinya. Istri juga punya hak yang mesti dipenuhi oleh suaminya. Hak dan kewajiban masing-masing mesti dipenuhi sesuai ketentuan syari’ah.

7. Ibadah baik yang sifatnya ritual, social  maupun amwal harta mesti dilakukan sesuai aturan, tidak boleh berlebihan tidak pula berkekurangan dan mesti saling mendukung antara yang satu dengan yang lainnya sehingga terpeliahara kesimbangan.



[1] Shahih al-Bukhari, no.4796

[2] Sunan al-Nasa`iy, III h.271

[3] Musnad, II h.251

[4] Tafsir Ibn Abi Hatim, no.5294, Musnad al-Thayalisi, no.2434

[5] Abû Daud, Sunan Abi dawud., II h.126, Ibn Majah, Sunan Ibn Majah., I h.596, Abû Ya’la, Ahmad bin ‘Alî, Musnad Abû Ya’lâ, jz. IV h.378

[6] Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, I h.596

[7] Abd Allâh bin Abd al-Rahmân  al-Dârimî, Sunan al-Dârimî, , juz II h.69

[8] Abû Hâtim  Muhammad bin Hibban, Shahîh Ibn Hibbân, juz IX h.471

[9] Abû bakr bin Muhammad bin Abi Syaybat,, juz VI h.545

[10] Sunan Abi Dawud, no.1438

[11] Shahih al-Bukhari, no.1924

[12]  Shahih Muslim, III h.1338,  no3233

[13] Shahih al-Bukhari, no.1336, Shahih Muslim, no.1700, Sunan Abi Dawud, no.1435

YANG MESTI IZIN SUAMI (kajian Hadits al-Bukhari dari Abi Hurairah) bagian pertama

YANG MESTI IZIN SUAMI

(kajian hadits riwayat al-Bukhari) bagian pertama

A. Teks Hadits dan Tarjamahnya

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ

وَرَوَاهُ أَبُو الزِّنَادِ أَيْضًا عَنْ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي الصَّوْمِ

Abu al-Yaman menyampaikankan hadits pada kami. Syu’aib mengabarkan hadits pada kami. Abu al-Zinad meriwayatkan hadits pada kami dari al-A’raj dari Abi hurairah. Sesungguhnya Rasul SAW bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita untuk melaksanakan shaum sedangkan suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Tidak halal bagi seorang wanita untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa persetujan suaminya. Apa yang wanita nafqahkan tanpa perintah  suaminya, maka setengahnya mesti dibayar pada suaminya. Abu al-Zinad juga meriwayatkan hadits yang senada dari Abi Musa, dari ayahnya dari Abi Hurairah. Hr, al-Bukhari[1]

 

B. Takhrij Hadits

1. حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ  Abu al-Yaman mengabarkan hadits pada kami. Syu’aib mengabarkan hadits pada kami. Abu al-Zinad meriwayatkan hadits pada kami dari al-A’raj dari Abi hurairah.

Kalimat ini mengisyaratkan bahwa al-Bukhari (a94-256H) menerima hadits dari أَبُو الْيَمَانِ yang bernama al-Hakam bin Nafi, dia adalah Tabi al-Atba, dijuluki Abu al-Yaman yang wafat tahun 222H.  Beliau menerima hadits dari شُعَيْبٌ yang nama populernya adalah Abu Bisyr bin Abi Hamzah Dinar, sebagai tabi al-Tabi’in, lama hidup di Syam dan wafat tahun 162H. Yang menyampaikan hadits pada beliau adalah أَبُو الزِّنَادِ nama aslinya Abdullah bin Dakwan, sebagai Tabi’in (karena bertemu dengan shahabat dalam keadaan muslim), lama hidup di Madinah dan wafat tahun 130H.  Beliau menerima hadits dari الْأَعْرَجِ seorang tabi’in senior, yang benarma asli Abdurrahman bin Hurmuz dijuluki juga dengan nama Abu daud, lama hidup di Madinah dan wafat tahun 117. Beliau menerima hadits dari Abu Hurairah yaitu seorang shahabat yang bernama asli Abdurrahman bin Shahr, wafat tahun 57H, yang riwayatnya telah diungkap pada pembahasan yang lalu.

وَرَوَاهُ أَبُو الزِّنَادِ أَيْضًا عَنْ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ فِي الصَّوْمِ

Kalimat ini menginformasikan bahwa hadits ini diriwayatkan pula oleh Abu al-Zinad melalui jalur lainnya yaitu dari Musa, dari ayahnya yang masih dari Abi hurairah. Itulah komentar al-Bukhari. Hadits ini sangat popular di kalangan ahli hadits, bahkan tiga imam dari penyusun al-Kutub al-Sittah meriwayatkannya dengan berbagai jalur atau mata rantai hingga sampai pada mereka. Adapun redaksinya ada yang sama ada pula yang berbeda. Perbandingan redaksinya dapat dilihat pada table berikut.

 

NAMA IMAM DAN NOMOR HADITS

REDAKSI MATAN HADITS DAN TARJAMAHNYA

Al-Bukhari (194-256H); hadits nomor 4796

 

لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ نَفَقَةٍ عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّهُ يُؤَدَّى إِلَيْهِ شَطْرُهُ

Tidak halal bagi seorang wanita untuk melaksanakan shaum sedangkan suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Tidak halal bagi seorang wanita untuk mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya, tanpa iznin suaminya. Apa yang wanita nafqahkan tanpa perintah  suaminya, maka setengahnya mesti dibayar pada suaminya.

Muslim (206-261H); hadis nomor 1704

لَا تَصُمْ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنْ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ كَسْبِهِ مِنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّ نِصْفَ أَجْرِهِ لَهُ

Seorang wanita tidak dibenarkan melaksanakan shaum padahal suaminya hadir, kecuali atas izinnya. Perempuan juga tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumah suaminya padahal dia masih ada kecuali atas izinnya. Apa yang diinafkkan seorang wanita dari hasil usaha suami tanpa perintahnya, maka setengah pahalanya adalah untuk suaminya

Abu Daud (202-275H); hadits nomor 2102

لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ غَيْرَ رَمَضَانَ وَلَا تَأْذَنُ فِي بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Seorang wanita tidak dibenarkan shaum, padahal suaminya ada tanpa izinnya, kecuali ramadlan. Seorang wanita tidak dibenarkan mengizinkan orang lain masuk rumah padahal suaminya masih ada kecuali atas izinnya

 

C. Syarah Hadits

1.. أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ Sesungguhnya Rasul SAW bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita untuk melaksanakan shaum sedangkan suaminya hadir, kecuali atas izinnya.

Kalimat لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ (tidak halal bagi kaum wanita), ditinjau dari sudut fiqih menunjukkan keharaman, karena setiap yang tidak halal adalah haram. Memang ada ulama yang berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh, karena kalimat tidak halal tidak semua mengisyaratkan haram. Namun menurut al-Asqalani, kalimat لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ yang lebih tepat diartikan hukumnya haram bagi kaum wanita, sebagai mana menurut mayoritas ulama. [2]

Kalimat أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ (wanita shaum tatkala suaminya hadir, kecuali dengan seizinnya. Menurut riwayat muslim (206-261H) menggunakan redaksi larangan  لَا تَصُمْ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ (janganlah seorang wanita shaum ketika suaminya ada kecuali dengan izinnya).[3] Yang diharamkan di sini adalah shaum tathawwu bukan shaum wajib, sebagaimana terungkap dalam riwayat al-Tirmidzi (209-279H) dan Ibn Majah (207-275H)  dengan redaksi لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ يَوْمًا مِنْ غَيْرِ شَهْرِ رَمَضَانَ إِلَّا بِإِذْنِهِ Seorang perempuan tidak dibenarkan shaum sehari pun padahal suaminya hadir, selain shaum ramadlan kecuali dengan izinnya.[4]

Al-Nawawi (631-676H),[5]  menegaskan bahwa larangan ini mengisyaratkan haramnya wanita shaum sunat ketika suaminya hadir kecuali atas izinnya, karena shaum sunat itu waktunya tidak sempit boleh dilaksanakan di hari lain. Adapun salah satu sebabnya diharamkan adalah seorang suami mempunyai hak untuk bersenang-senang dengan istrinya kapanpun. Memenuhi keinginan suami untuk menenyangkannya adalah menjadi kewajiban seorang istri. Oleh karena itu tidak boleh dikalahkan dengan ibadah yang disunnahkan. Ada yang berpendapat  bahwa shaum sunat tanpa izin suami itu semestinya dibolehkan saja, tapi tatkala suaminya menginginkan sesautu dari istri yang menimbulkan batalnya shaum, maka istrinya mesti membatalkan shaumnya, umpamanya menginginkan makan berasama atau sebangsanya. Al-Nawawi menjawab pendapat tersebut dengan menegaskan bahwa shaumnya sang istri bisa mengganggu kebebasan suami untuk memenuhi keinginanya, maka semestinya minta persetujuan terlebih dahulu.[6]

Adapun perkataan وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ atau dalam redaksi lainnya وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ (sedangkan suaminya menyaksikan atau hadir) mengisyaratkan bahwa istri dilarang shaum sunat tanpa persetujuan suaminya itu ketika suaminya berada di rumah atau sedang berbarengan dengannya. Jika suaminya itu sedang bepergian, sedangkan istrinya tidak ikut dan berada di rumah, maka istrinya boleh saja shaum tanpa minta persetujuan terlebih dahulu. Namun menurut al-Asqalani,[7] jika seorang istri sedang shaum padahal suaminya tidak di rumah, tiba-tiba di siang hari suminya datang dan menghendaki sesuatu yang membatalkan shaum, maka wajiblah istrinya itu membatalkan shaumnya. Larangan ini juga memberi isyarat bahwa di antara kebaikan istri pada suami adalah tidak melakukan ibadah yang hukumnya sunat yang menganggu keharmonisan rumah tangga. Menjaga keharmonisan suami istri hukumnya wajib, maka jangan sampai terganggu oleh ibadah yang hukumnya sunat. Dalam riwayat Ibn Abi Syaibah diterangkan ada seorang waniya yang menghadap Rasul menanyakan tentang hak suami yang mesti dipenuhi istrinya, maka Rasul SAW bersabda: لا تصوم إلا بإذنه إلا الفريصة فإن فعلت أثمت ولم يقبل منها  tidak dibenarkan seorang istri shaum tanpersetujuan suaminya kecuali yang difardlukan. Jika istrinya tetap melakukan shaum maka termasuk dosa dan tidak akan diterima shaumnya.[8] Kalimat إِلَّا بِإِذْنِهِ juga mengandung arti syarat dikabulnya ibadah sunat yang dilakukan seorang istri adalah persetujuan suami. Persetujuan tersebut baik dalam bentuk kalimat langsung ataupun tidak langsung. Namun bukan berarti istri dilarang melakukan semua ibadah sunat tanpa izin suami. Sepanjang ibadah sunat yang dilakukannya itu tidak menganggu keharmonisan suami istri maka dapat dijalankannya.[9]  Larangan ibadah shaum sunat bagi istri tanpa persetujuan suami, juga memberi isyarat adanya kemestian mendahulukan kewajiban di banding yang hukumnya sunat. Tegasnya  larangan ini tidak mencakup shalat sunat yang hanya membutuhkan waktu singkat.[10] Namun jika ibadah yang hukumnya sunat itu dapat mengganggu atau menghalangi kewajiban memelihara kebahagiaan suami istri, maka sepantasnya dihindari. Dalam riwayat Ahmad (164-241H) bahkan ditegaskan seorang istri dilarang shaum sunat tanpa iizin suaminya walau hanya satu hari. Perhatikan redaksinya:

لَا تَصُمْ الْمَرْأَةُ يَوْمًا وَاحِدًا وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ

Janganlah seorang perempuan shaum walau hanya satu hari, padahal suaminya ada kecuali dengan izinnya. Hr. Ahmad.[11]

لَا تَصُومُ الْمَرْأَةُ يَوْمًا وَاحِدًا وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ إِلَّا رَمَضَانَ

Seorang perempuan tidak shaum walau hanya satu hari padahal suaminya ada kecuali dengan izinnya selain ramadlan. Hr. Ahmad.[12]9780

Kalau ibadah tathawwu itu mesti mendapat izin dari suami, maka secara tersirat seorang suami boleh saja membatasi istrinya dalam melakukan ibadah tathawu yang diperkirakan mengganggu hak dan kewajiban. Persolannya sebatas mana membatasinya? Tentu seperti apa yang diajarkan rasul pada shahabatnya.

Ibadah ritual yang hukumnya tathawwu atau sunat secara fiqhiyah memang tidak boleh mengganggu kewajiban yang sifatnya social. Itulah mungkin salah satu hikmahnya mengapa Rasul SAW membatasi umat yang ingin beribadah melebihi beliau. Shaum tidak boleh setiap hari, shalat malam pun tidfak boleh semalam suntuk.

Abdullah bin Amr bin Ash menerangkan bahwa tatkala beliau bertekad untuk memperbanyak ibadah, Rasul SAW bersabda:

يَا عَبْدَ اللَّهِ أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ النَّهَارَ وَتَقُومُ اللَّيْلَ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَلَا تَفْعَلْ صُمْ وَأَفْطِرْ وَقُمْ وَنَمْ فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Wahai Abdallah! Kabarnya engkau selalu shaum di siang hari, dan bangun malam. (kata Ibn Amr) betul wahai Rasul! Beliau bersabda: jangan engkau lakukan seperti itu! Shaumlah dan berbuka lah! Bangunlah malam dan tidurlah sebagiannya. Sesungguhnya jasadmu punya hak untuk kemu penuhi. Matamu juga punya hak untuk kamu penuhi. Istrimu juga punya hak untuk kamu penuhi kebutuhannya. Hr. al-Bukhari (194-256H).[13]

Dalam riwayat Ahmad (164-241) ditegaskan:

لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقٌّ

Dirimu punya hak yang mesti kamu penuhi, keluargamu juga punya hak yang mesti kemu penuhi. Har. Ahmad.[14]

Demikiian pula dalam membaca al-Qur`an mesti memberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Ketika Abdullah bin Amr bertekad memperbanyak bacaan al-Qur`an, Rasul bersabda:

اقْرَأْ الْقُرْآنَ فِي كُلِّ شَهْرٍ قَالَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً قَالَ فَاقْرَأْهُ فِي عِشْرِينَ لَيْلَةً قَالَ قُلْتُ إِنِّي أَجِدُ قُوَّةً قَالَ فَاقْرَأْهُ فِي سَبْعٍ وَلَا تَزِدْ عَلَى ذَلِكَ

Bacalah olehmu al-Qur`an di setiap bulan! Saya berkata bahwa masih kuat melebihi itu. Sabda Rasul bacalah menamatkannya dalam dua puluh malam! Saya katakana masih kuat! Rasul bersabda bacalah al-Qur`an dalam tujuh hari dan jangan lebih dari itu. Hr. Muslim.[15]

Rasul membatasi ibadah Ibn Amr bahwa shaum tidak boleh setiap hari, shalat tidak boleh semalam suntuk, membaca al-Qur`an sebaiknya satu bulan saja untuk menamatkannya. Kalau pun masih banyak waktu dan kesempatan bolehlah sampai tujuh hari dan tidak boleh melebihi itu, karena harus ada kesempatan untuk kepentingan memenuhi kebutuhan diri dan keluarga. Dengan demikian sang suami boleh saja membatasi ibadah istrinya, yang sudah dibatasi oleh Rasul SAW tersebut, yang sifatnya ritual yang tidak diwajibkan.

Bersambung ke makalah berikutnya. Insya Allah



[1] Shahih al-Bukhari, no.4796

[2] Fath al-Bari, XIV h.488

[3] shahih Muslim, hadits nomor 1704

[4] Sunan Al-Tirmidzi, 713; Sunan Ibn Majah, no.1751

[5] nama lengkapnya Abu Zakariya, Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus) yang sekarang merupakan ibukota Suriah. Beliau merupakan ulama yang menulis berbagai karaya tulis antara lain Hadits Arbain, al-Adzkar, riyad al-Shalihin, Syarah Shahih Muslim, Minhaj al-Thalibin. Beliau wafat tahun 676H

[6] Syarah al-Nawawi ala Muslim, III h.474

[7] Beliau adalah al Imam al ‘Allamah al Hafizh Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar, al Kinani, al ‘Asqalani, asy Syafi’i, al Mishri. Kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hajar, dan gelarnya “al Hafizh”. Adapun penyebutan ‘Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah (Jalur Gaza-red). Beliau lahir di Mesir pada bulan Sya’ban 773 H, wafat pada tanggal 28 Dzulhijjah 852 H di Mesir. Karya tulisnya cukup banyak antara lain Bulguhul-Maram, Fath al-Bari, Tahdzib al-Tahdzib, Talkhish

[8] Mushannaf Ibn Abi Syaibah, II h.507

[9]  Fath al-Bari, XIV h.489

[10] Tuhfah al-Ahwadzi, II h.326

[11] Musnad Ahmad, no.9357

[12] Musnad Ahmad, no. 9780

[13] Shahih al-Bukhari, no.4800

[14] Musnad Ahmad, no.6583

[15] shahih Muslim, no.1964

SEPULUH FITRAH KECANTIKAN DAN KEBERSIHAN (kajian hadits riwayat Muslim dari Aisyah)

SEPULUH FITRAH KECANTIKAN DAN KEBERSIHAN

(kajian hadits riwayat Muslim dari Aisyah)

A. Teks Hadits dan Tarjamahnya

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ قَالَ زَكَرِيَّاءُ قَالَ مُصْعَبٌ وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ

Diriwayatkan dari Aisyah, Rasul SAW bersabda sepuluh perkara yang termasuk fithrah (1) memotong kumis, (2) memanjangkan jenggot, (3) menggosok gigi, (4) istinsyaq yaitu menghirup air ke hidung dan mengeluarkannya melalui mulut, (5) memotong kuku: (6) membasuh sela-sela jari, (7) merontokkan bulu ketiak, (8) menggunduli bulu kelamin, (9) bersuci dengan air. Kemudian Mush’ab mengatakan lupa yang kesepuluh tapi yang jelas adalah (10) rajin berkumur. Hr. Muslim, al-Nasaiy.[1]

 

B. Syarah al-Hadits

1. عَنْ عَائِشَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Diriwayatkan dari Aisyah, Rasul SAW bersabda

Hadits ini diriwayatkan oleh ulama hadits melalui berbagai jalur, tapi yang dikutip di sini melalui jalru Aisyah RA. ‘A`isyah putri Abu bakr, lahir tahun 9 sebelum hijrah, dinikah oleh Rasul ketika berusia 6 tahun, membangun rumah tangga dengannya ketika berusia 9 tahun. Ibunya bernama Umm Ruman. Banyak meriwayatkan (berjumah 2210) hadits, karena mendapat kesempatan bergaul dengan Rasul lebih banyak dibanding istrinya yang lain, mendapat hadiah giliran dari Saudah, dan hidup setelah wafat cukup lama. Beliau wafat tahun 58H (678M). Aisyah termasuk istri shalihah yang memiliki derajat mulia. Rasul SAW bersabda:

فَضْلُ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ كَمَلَ مِنْ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنْ النِّسَاءِ إِلَّا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَآسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ

Keutamaan `Aisyah atas wanita lain, seperti perbandingan antara al-Tsarid (roti yang sudah dibumbui / makanan pokok yang amat baik) dengan makanan lainnya. Laki-laki yang mempunyai kesempurnaan cukup banyak. Tidak sama halnya dengan kaum wanita, kecuali Maryam binti Imran dan Asiah istri Fir’aun. Hr. al-Bukhari.[2]

2. عَشْرَةٌ مِنْ الْفِطْرَةِsepuluh perkara yang termasuk fithrah

Perkataan عَشْرَةٌ مِنْ sepuluh dari, mengisyaratkan sebagiannya dari ajaran fithrah. Tegasnya sepuluh dari fithrah yang jumlahnya banyak. Bukan menunjukkan batasan jumlah, karena yang termasuk fithrah itu cukup banyak jumlahnya, yang telah disyaria’hkan pada para nabi terdahulu bahkan sejak Nabi Ibrahim.[3] Sedangkan pengertian الْفِطْرَة fithrah dalam hadits ini menurut al-Muntaqa, مِنْ سُنَّةِ الدِّينِ الَّذِي يُوصَفُ بِأَنَّهُ الْفِطْرَةُ bagian dari sunnah keagamaan, karena agama memiliki sifat fithrah sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ agama Islam merupakan Fithrah Allah, yang manusia diciptakan atas fithrah agama itu. Tidak ada perubahan dalam fithrah Allah, karena itulah agama yang lurus. (Qs.30:30).[4] Namun menurut riwayat Ibn al-Musayyab dari Abi Hurairah yang dimaksud fithrah pada hadits ini adalah sunnah yang telah lama disyari’ahkan pada para nabi terdahulu.[5] Al-Khatahbi juga berpendapat bahwa fithrah pada hadits ini mengandung arti ajaran yang telah disyari’ahkan pada para nabi yang semestinya diikuti.[6]

3. قَصُّ الشَّارِبِ memotong kumis

Perkataan قَصُّ sering mengandung arti seimbang, atau setimpal sehingga hokuman yang setimpal disebut qishash, atau kabar sesuai dengan aslinya disebut qishshah. Sedangkan pada kalimat ini mengandung arti قَطْع شَيْء مِنْ شَيْء بِآلَةٍ مَخْصُوصَة memotong sesuatu dari sesutau dengan alat khusus. Maka sering diterjemahkan menggunting atau meratakan tanpa membiarkan panjang. Sedangkan الشَّارِبِ adalah الشَّعْر النَّابِت عَلَى الشَّفَة الْعُلْيَا bulu atau rambut yang tumbuh di bibir atas. [7] Dalam bahasa Indonesia atau sunda sering disebut kumis. Dengan demikian kumis itu mesti dipotong rapi jangan dibiarkan memanjang tanpa batas. Dalam hadits ini tidak ditegaskan batasan panjang atau pendeknya, maka diberi kebebasan apakah memotongnya hingga gundul ataupun sesuai dengan keserasiannya. Namun ditinjau dari sudut bahasa, perkataan قَصُّ itu mengandung arti memotong atau mengguntingnya tidak sampai gundul, dan bukan pula merontokkannya. Istilah menggundul atau merontokan bulu dalam bahasa hadits itu adalah حَلق atau تحْليق jadi berdasar hadits ini kumis bukan dirontokkan atau dicukur habis, melainkan dipotong hingga pendek, tapi tidak sampai habis. Memotong kumis, merupakan satu kesatuan dengan memanjangkan jenggot. Menurut berbagai riwayat, para pembesar Parsi mempunyai kebiasaan memanjangkan kumis dan mencukur jenggota, maka Rasul dalam berbagai haditsnya memerintah umatnya agar memendekkan kumis dan memanjangkan jenggot. [8]

Dalam berbagai hadits perintah memotong kumis tidak terpisahkan dengan perintah memelihara jenggot. Rasul SAW bersabda:

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى

Berbedalah kalian dengan orang musyrik; pendekkan kumis peliharalah jenggot. Hr.al-Bukhari dan Muslim.[9]

Menurut riwayat Ahmad dari Abu Hurairah, Rasul SAW bersabda:

قُصُّوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

Potong kumismu, peliharalah jenggotmu. Hr. Ahmad.[10]

Oleh karena itu kajian ilmiyah tentang hikmah memendekkan kumis disatukan dengan bahasan kalimat berikutnya.

4. وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ memanjangkan jenggot,

Perkataan إِعْفَاءُ berasal dari kata عفو yang berarti bertambah banyak, atau kelebihan. Oleh karena itu dapat diartikan membiarkan lebat atau panjang hingga tumbuh banyak. Dalam redaksi hadits al-Bukhari juga berbunyi وَفِّرُوا اللِّحَى dalam riwayat Muslim أَوْفُوا اللِّحَى   yang maknanya memerintah untuk membiarkan jenggot tumbuh lebat dan panjang. [11] Jenggot memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan asalkan dirawat dengan baik.  Sebuah studi terbaru dari University of Southern Queensland menemukan, bahwa lelaki yang memiliki kumis dan jenggot mendapat perlindungan sebesar 90-95 persen dari kerusakan kulit akibat paparan radiasi ultraviolet dari sinar matahari. Selain itu, mereka juga berisiko rendah terkena kanker kulit. Karena sudah memiliki perlindungan alami tersebut, Dr Nick Lowe, dokter spesialis kulit terkemuka di London, Inggris, menyarankan, agar para lelaki yang berjenggot itu sedikit saja menggunakan krim tabir surya (sunblock).  Selain untuk menjaga kesehatan kulit, jenggot ternyata juga memungkinkan untuk mencegah dari serangan asma.  Carol Walker, ahli kesehatan rambut dan pemilik Birmingham Trichology Centre mengatakan, bahwa jenggot dapat menahan debu dan serbuk sari yang menjadi pemicu asma. Sehingga alergen (pemicu alergi) itu tidak dapat masuk ke hidung dan paru-paru.  Mengatasi Asma dan Flu. Hal senada dikemukakan pula oleh Dr Felix Chua, seorang dokter konsultan pernapasan di Klinik London, Harley Street. Ia mengatakan: “Secara teori, jenggot bisa menghentikan hal-hal yang memicu asma memasuki saluran udara, tetapi jenggotnya harus besar.” Lantas, masih adakah lagi manfaat jenggot bagi kesehatan? Tentu saja ada, yaitu bisa memperlambat penuaan dan membantu mengatasi batuk.  Dr Lowe mengatakan, seiring berjalannya waktu, rambut di wajah (kumis dan jenggot-red) dapat membantu menjaga kelembaban kulit agar tetap muda dan dalam kondisi baik. Selain itu, tambah Walker, jenggot tebal yang telah tumbuh dibawah dagu dan leher juga menaikkan suhu di leher sehingga dapat membantu melawan batuk dan pilek saat Anda menderita flu.  ”Rambut adalah isolator yang membuat tubuh Anda hangat. Jenggot panjang dan lebat dapat menghangatkan wajah dan leher Anda ketika cuaca dingin sehingga tubuh mampu membangun temperatur untuk membunuh virus,” imbuhnya. Meski demikian pengobatan lebih lanjut tetap dibutuhkan agar flu bisa disembuhkan secara tuntas. Meski jenggot memiliki beberapa manfaat kesehatan, Anda tetap harus merawatnya dengan baik, untuk menghindari efek negatif dari rambut di wajah yang tak terawat. Dr Ron Cutler, ahli mikrobiologi di Queen Mary, University of London, mengatakan, bukti ilmiah menunjukkan bahwa jenggot yang tak terawat dapat menyebarkan infeksi. Itulah mengapa pentingnya mencuci jenggot secara teratur dan memastikan area di dagu  tidak mengalami keluhan akibat rambut yang tumbuh ke dalam. Pria yang memelihara jenggot serta cambang terkesan garang namun macho. Sayangnya, kini banyak pria yang memilih untuk mencukur habis jenggot dan cambang mereka dengan alasan kerapian, dan tak punya banyak waktu untuk merawatnya. Padahal, hasil penelitian menemukan bahwa jenggot dapat melindungi wajah pria dari bahaya sinar UV dan mencegah penuaan dini. Seperti diterbitkan oleh Dailymail, berikut ini adalah beberapa manfaat memelihara jenggot dan cambang: (a) Lindungi dari sinar UV. University of Southern Queensland melakukan studi mengenai manfaat jenggot dan cambang, menemukan bahwa kulit yang berada di bawah jenggot ternyata 3 kali lebih sedikit terkena sinar matahari dan radiasi sinar UV sehingga resiko kanker kulit lebih sedikit. Hal tersebut terjadi sebab rambut-rambut yang menutupi sebagian wajah pria itu membuat sinar matahari terpecah dan tak menjangkau kulit. Namun tentu saja semakin tipis jenggot dan cambang, pengaruhnya sebagai pelindung semakin sedikit. (b)Mencegah asma kambuh. Jika ada seorang pria penderita alergi serbuk bunga, debu, atau bulu kucing, maka memelihara jenggot, kumis serta cambang mungkin bisa mengurangi munculnya serangan asmanya. Ini sebab rambut pada bagian wajah tersebut menghambat masuknya berbagai pemicu alergi tersebut ke saluran pernafasan dan paru-paru. Hal itu ditegaskan oleh Carol Walker, pakar rambut medis dari Birmingham Trichology Center. (c)Memperlambat penuaan dini. Semakin kulit Anda terhindar dari radiasi sinar UV, seperti jika Anda menggunakan SPV, maka kulit akan awet muda dan terhindar dari penuaan dini. Selain itu, kulit wajah yang bercambang dan berjenggot akan terjaga kelembabannya. (d)Melawan batuk. Pria yang memelihara jenggot dan cambang akan lebih terjaga suhu tubuhnya, dan merasa lebih hangat. Ini membantu mereka terhindar dari penyakit batuk, serta flu.[12]

5. وَقَصُّ الْأَظْفَارِ memotong kuku:

Perkataanالْأَظْفَار merupakan bentuk jama dari  ظُفر  yang berarti kuku. Kalilat ini memerintah agar sesantiasa memotong atau memendekkan kuku.

Memiliki kuku panjang dan indah menjadi trend yang kini sangat diminati banyak wanita. Begitu juga dengan pria, terkadang dengan alasan-alasan tertentu mereka sengaja tidak memotong kukunya hingga kuku-kukunya terus memanjang. Bagi orang islam, memotong kuku memang salah satu sunah yang telah diperintahkan oleh nabi Muhamad SAW sejak zaman dulu. Dan tentu saja, selain untuk menjaga kebersihan anggota badan, memotong kuku juga ternyata memiliki banyak banyak manfaat. Berikut ini beberapa alasan kenapa perlu memotong kuku: (a) Memotong kuku dapat menghindari penyakit pencernaan dan penyakit mata. Mikroba Patogen merupakan perantara penyebaran penyakit, terutama penyakit pencernaan dan penyakit mata. Yang mengerikan, mikroba jenis ini sering bersarang pada kuku, terutama kuku yg panjang, bersamaan dengan kotoran lainnya. dan pastinya, kuku yg panjang menjadi sarana yg secara tidak langsung akan “mempertemukan” berbagai jenis penyakit. (b) Memotong kuku dapat mencegah berbagai macam infeksi. Dengan memotong kuku yg melebihi jari, maka bagian kulit di bawah kuku dapat mudah dibersihkan, tidak cacat, dan jari-jari kita dapat mudah bekerja secara maksimal. Dengan kuku yg panjang, aktivitas kita dapat terganggu dan mungkin juga interaksi kita dengan orang lain menjadi kurang leluasa. (c)  Dengan memotong kuku berarti mencegah penularan penyakit kepada orang lain. Jadi sebagai seorang muslim, selain menjalankan sunah rosul, memotong kukupun berarti menjaga kesehatan dan kebersihan badan.[13]

6. وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ membersihkan sela-sela jari,

Perkataan الْبَرَاجِمِ merupakan bentuk jama dari بُرْجُمة yaitu sela-sela jari, baik pangkalnya maupun ujungnya secara keseluruhan. Membersihkan atau mencuci sela dan ujung jari ini diperintahkan tidak hanya ketika wudlu, tapi juga secara khusus dalam berbagai kesempatan.[14] Mencuci tangan hingga ujung jari, sela-sela jari kuku telah diakui pentingnya terutama oleh para ahli kesehatan. Menjaga kesehatan yang paling mudah dengan mencuci tangan, karena aktivitas ini merupakan aktvitas yang tergolong mudah. Walaupun terlihat mudah ternyata masih banyak juga orang yang malas mencuci tangan dengan benar. Seperti dilansir oleh geniusbeauty.com, bahwa penelitian dari Michigan State University yang melakukan percobaan pada 3.749 pengguna toilet umum. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa 15 persen pria dan 7 persen wanita tidak mencuci tangan setelah menggunakan toilet. Sebanyak 78 persen wanita menggunakan sabun saat mencuci tangan, sedangkan kurang dari 50 persen pria yang menggunakan sabun. Kebanyakan orang hanya mencuci tangan selama 6 detik, padahal waktu yang disarankan ahli kesehatan untuk mengusap sabun adalah 15 hingga 20 detik. Jika kurang dari waktu tersebut, bakteri dan kuman berbahaya yang ada di tangan masih tertinggal. Akan lebih bagus jika seseorang mencuci tangan di bawah air mengalir. Mengapa harus mencuci tangan? Mencucui tangan dapat menghindarkan seseorang dari serangan penyakit, bakteri, bahan kimia dan lainnya. Biasakanlah untuk mencuci tangan setelah melakukan aktivitas apapun.[15] Manfaat laian membersihkan sela-sela jari terutama ujungnya atau sela-sela kuku ialah: (a)   Menghindari penyakit pencernaan dan penyakit mata. Mikroba pathogen merupakan   perantara penyebaran penyakit, terutama penyakit pencernaan dan penyakit mata ini. Yang mengerikan mikroba jenis ini sering bersarang pada kuku, terutama kuku yang panjang, yang mempertemukan kita dengan berbagai jenis penyakit. (b)  Kuku yang kotor menyimpan banyak kuman dan bakteri yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang dikonsumsi. Jika tangan dan kuku kita kotor lalu berjabat tangan dengan orang lain, bukan tidak mungkin jika orang tersebut terkena penyakit karena bakteri yang berasal dari kuku. Jumhur ulama berpandangan bahwa mencuci sela-sela jari, seperti jari tangan, jari kaki, baik pangkalnya maupun ujung jari sela-sela kuku mesti sering dilakukan. Utamanya ujung jari tangan, karena terkait dengan sela-sela yang lain yang sering kotor seperti telinga, hidung yang sering dibersihkan oleh ujung jari. Jika ujung jari tidak sering dibersihkan, maka akan menularkan kotoran ke berbagai tempat. Demikian pula sela-sela kuku mesti sering dibersihkan, karena boleh jadi ketika sadar atau tidak sadar menggaruk anggota badan lain. Jika ujung jari kotor, maka akan menebarkan kotoroan ke berbagai lekung tubuh. Inilah pentingnya membersihkan jari jemari secara rutin.

7. وَالسِّوَاكُ menggosok gigi,

Perkataan السِّوَاكُ menurut bahasa الدلك yang berarti mengosokkan sesauatu pada gigi. Menuruit al-Zuhayli siwak ialah menggosokkan suatu alat penggosok baik dari kayu atau lainnya pada gigi dan gusi untuk membersihkan gigi dan sekitarnya.[16] Siwak adalah nama untuk dahan atau akar pohon yang digunakan untuk bersiwak. Oleh karena itu semua dahan atau akar pohon apa saja boleh digunakan untuk bersiwak jika memenuhi persyaratannya, yaitu lembut, sehingga batang atau akar kayu yang keras tidak boleh digunakan untuk bersiwak karena bisa merusak gusi dan email gigi; bisa membersihkan dan berserat serta bersifat basah, sehingga akar atau batang yang tidak ada seratnya tidak bisa digunakan untuk bersiwak; seratnya tersebut tidak berjatuhan ketika digunakan untuk bersiwak sehingga bisa mengotori mulut (Alsirhan, 2002). Siwak atau Miswak, merupakan bagian dari batang, akar atau ranting tumbuhan Salvadora persica yang kebanyakan tumbuh di daerah Timur Tengah, Asia dan Afrika. Siwak berbentuk batang yang diambil dari akar dan ranting tanaman arok (Salvadora persica) yang berdiameter mulai dari 0,1 cm sampai 5 cm. Pohon arok adalah pohon yang kecil seperti belukar dengan batang yang bercabang-cabang, berdiameter lebih dari 1 kaki. Jika kulitnya dikelupas berwarna agak keputihan dan memiliki banyak juntaian serat. Akarnya berwarna cokelat dan bagian dalamnya berwarna putih. Aromanya seperti seledri dan rasanya agak pedas (Alsirhan, 2002). Dengan demikian siwak itu sebenarnya tidak terikat oleh alatnya, melainkan penggosokannya. Bersiwak itu mengandung arti menggosok gigi hingga bersih. Namun telah diakui bahwa kayu arok yang digunakan Rasul SAW sebagai alat menggosok gigi memiliki keistimewaan yang luar biasa manfaatnya.

Hasil penelitian oleh Al-Lafi dan Ababneh (1995) terhadap kayu siwak menunjukkan bahwa siwak mengandung mineral-mineral alami yang dapat membunuh bakteri, menghilangkan plaque, mencegah gigi berlubang serta memelihara gusi. Siwak memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, seperti : Antibacterial acids, seperti astringents, abrasive dan detergents yang berfungsi untuk membunuh bakteri, mencegah infeksi dan menghentikan pendarahan pada gusi. Pada penggunaan siwak pertama kali, mungkin terasa pedas dan sedikit membakar, karena terdapat kandungan serupa mustard di dalamnya yang merupakan substansi antibacterial acids tersebut.

Kandungan kimia, seperti Klorida, Pottasium, Sodium Bicarbonate, Fluoride, Silika, Sulfur, Vitamin C, Trimethyl amine, Salvadorine, Tannins dan beberapa mineral lainnya yang berfungsi untuk membersihkan gigi, memutihkan dan menyehatkan gigi dan gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi. Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar, menjadikan mulut menjadi harum dan menghilangkan bau tak sedap.

Enzim yang mencegah pembentukan plaque yang menyebabkan radang gusi. Plaque juga merupakan penyebab utama tanggalnya gigi secara premature.

Anti decay agent (Zat anti pembusukan), yang menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah proses pembusukan. Selain itu siwak juga turut merangsang produksi saliva (air liur) lebih, dimana saliva merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.

Menurut laporan Lewis (1982), penelitian kimiawi terhadap tanaman ini telah dilakukan semenjak abad ke-19, dan ditemukan sejumlah besar klorida, fluor, trimetilamin dan resin. Kemudian dari hasil penelitian Farooqi dan Srivastava (1990) ditemukan silika, sulfur dan vitamin C. Kandungan kimia tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut dimana trimetilamin dan vitamin C membantu penyembuhan dan perbaikan jaringan gusi. Klorida bermanfaat untuk menghilangkan noda pada gigi, sedangkan silika dapat bereaksi sebagai penggosok. Kemudian keberadaan sulfur dikenal dengan rasa hangat dan baunya yang khas, adapun fluorida berguna bagi kesehatan gigi sebagai pencegah terjadinya karies dengan memperkuat lapisan email dan mengurangi larutnya terhadap asam yang dihasilkan oleh bakteri. Penelitian lain dengan menjadikan bubuk siwak sebagai bahan tambahan pada pasta gigi dibandingkan dengan penggunaan pasta gigi tanpa campuran bubuk siwak menunjukkan bahwa prosentase hasil terbaik bagi kebersihan gigi secara sempurna adalah pasta gigi dengan butiran-butiran bubuk siwak, karena butiran-butioran tersebut mampu menjangkau sela-sela gigi secara sempurna dan mengeluarkan sisa-sisa makanan yang masih bersarang pada sela-sela gigi. Sehingga banyak perusahaan-perusahaan di dunia menyertakan bubuk siwak ke dalam produk pasta gigi mereka. WHO pun turut menjadikan siwak termasuk komoditas kesehatan yang perlu dipelihara dan dibudidayakan. [17] Rasul SAW sangat menganjurkan menggsosk gigi sesering mungkin. Dari Abu Hurairah diriwayatkan bahwa Rasul SAW bersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ

Andaikan tidak memberatkan umatku, maka aku akan perintah mereka bersiwak setiap wudlu. Hr. al-Bukhari.[18]

Sedangkan dalam riwayat Zaid bin Khalid al-Juhni, Rasul bersabda:

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ

Andaikan tidak memberatkan umatku, maka aku perintahkan mereka agar bersiwak (gosok gigi) setiap akan shalat. Hr. Abu Dawud.[19]

Memperhatikan hadits di atas, jelaslah Rasul SAW itu menghendaki merintahkan umatnya untuk mengosok gigi setiap akan shalat. Setiap muslim minmal lima kali shalat dalam sehari semalam. Jadi jelas Hadits tersebut memberi isyarat, bahwa menggosok gigi sekurang-kurangnya lima kali sehari.

8. وَالِاسْتِنْشَاقُ istinsyaq yaitu menghirup air ke hidung dan mengeluarkannya melalui mulut,

Perintah istinsyaq utamanya di kala berwudlu. Rasul SAW bersabda:

أَسْبِغْ الْوُضُوءَ وَخَلِّلْ بَيْنَ الْأَصَابِعِ وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

Sempurnakanlah berwudlu, bersihkan sela-sela jari, dan sempurnakanlah menghirup air ke hidung dan mengeluarkannya, kecuali jika kamu sedang shaum. Hr. Abu Dawud.[20]

Namun ternyata istinsyaq itu tidak hanya ketika berwudlu, melainkan setiap ada kesempatan. Dikaitkan dengan wudlu berarti dalam sehari semalam tidak kurang dari lima kali.

 Manfaat Istinsyaq (menghirup air kedalam hidung) saat berwudhu Istinsyaq berarti menghirup air dengan lubang hidung, melalui rongga hidung sampai ke tenggorokan bagian hidung (nasofaring) . Fungsinya untuk mensucikan selaput dan lendir hidung yang tercemar oleh udara kotor dan juga kuman. Selama ini kita ketahui selaput dan lendir hidung merupakan basis pertahanan pertama pernapasan. Dengan istinsyaq mudah-mudahan kuman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat dicegah Manfaat dan kelebihan istinsyaq (menghirup air kedalam hidung), diantaranya membersihkan hidung dari kotoran yang terhirup. Karena itu sangat bermanfaat bagi kebersihan dan kesehatan hidung.[21]

9. وَنَتْفُ الْإِبْطِ merontokkan bulu ketiak,

Perkataan نَتْفُ menrut bahasa mengandung arti mencabut bulu atau merontokkannya sehingga gundul. Sedangkan الْإِبْطِberarti bulu ketiak atau ketiak itu sendiri. Dengan demikian merontokkan bulu ketiak termasuk kebersihan fithriyah. Merontokan bulu ketiak mesti dilakukan secara rutin paling tidak jangan sampai kurang dari empat puluh hari sekali. Anas bin Malik menerangkan:

وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الْأَظْفَارِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ وَنَتْفِ الْإِبْطِ لَا يُتْرَكُ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

Kita diberi waktu untuk memotong kumis, memotong kuku, mencukur bulu kelamin merontokkan bulu ketiak jangan sampai melebihi empat puluh hari. Hr. al-Tirmidzi.[22]

Manfaat merontokkan bulu ketiak: Menurut  Dr. Tjut Nurul Alam Jacoeb, Sp.KK (K), dari Jakarta Skin Center, keringat manusia dihasilkan oleh dua kelenjar, yakni kelenjar accrine dan kelenjar apocrine. Kelenjar accrine memproduksi keringat bening dan tidak berbau (sejak bayi), yang biasanya muncul di tangan, punggung, dan dahi. Sedangkan kelenjar apocrine terdapat di tempat-tempat tertentu, terutama di daerah perakaran rambut, seperti ketiak, kemaluan, dan di dalam hidung. “Secara medis, rambut ketiak berfungsi memperluas permukaan untuk mengatur penguapan keringat. Di pangkal rambut, terdapat banyak pori-pori yang menjadi muara kelenjar keringat untuk mengalirkan keringat ke ketiak,” terang Tjut seraya menganjurkan orang-orang yang gampang berkeringat dan bekerja di tempat yang panas agar mencukur rambut ketiaknya. “Pasalnya, rambut ketiak akan menahan aliran keringat sehingga menjadi lembab. Apalagi kalau kita memakai deodoran dan bedak, yang akan tertahan di bulu ketiak,” ujarnya.

 

10. وَحَلْقُ الْعَانَةِ menggunduli bulu kelamin,

Perkataan حَلْقُ seperti dikemukakan di atas, bukan memotong atau mencukur, tapi menjadikan gundul. Tegasnya dalam hadits ini tidak dirinci ketentuannya apakah menggunduli kelamin itu dengan cara mencukurnya atau merontokan bulunya hingga gundul. Apakah dengan gunting, atau alat cukur lain atau dengan obat yang dapat merontokkannya. Yang jelas kelamin baik laki-laki maupun wanita mesti digunduli. Anas bin Malik menerangkan:

وَقَّتَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الْأَظْفَارِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ وَنَتْفِ الْإِبْطِ أَنْ لَا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ يَوْمًا وَقَالَ مَرَّةً أُخْرَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Rasul SAW memberi waktu jeda bagi kita dalam memotong kumis, memotong kuku, menggunduli bulu kelamin, merontokkan bulu ketiak, jangan sampai melebihi emapt puluh hari. Dalam riwayat lain emapt puluh malam. Hr. Muslim dan al-Nasaiy.[23]

Manfaat kelamin gundul, antara lain (1) Secara ilmu kedokteran modern, diketahui bahwa daerah-daerah pada tubuh manusia yang menjadi sarang penyakit hendaknya senantiasa dibersihkan, diantaranya adalah mencukur bulu disekitar kemaluan baik bagi laki-laki maupun wanita. (2). Selain alasan kesehatan, rambut kemaluan yang pendek, membuat kulit kemaluan jadi lebih terekspos, dan lebih sensitif saat menerima rangsangan dan sentuhan. (3) Selain itu, mencukur rambut kemaluan juga mengurangi bau tidak sedap pad kemaluan, sehingga pasangan suami istri bis nyaman dalam melakukan hubungan Seks.[24]

11. وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ bersuci dengan air.

Walau di jaman modern sudah tersedia berbagai fasilitas untuk membershikan kotoran seperti tissue, sapu tangan, serbet, atau alat pembersih lainnya, bersuci dengan air jangan terlewatkan. Membersihkan diri dengan air selain termasuk ibadah fithriyah, juga mengandung manfaat lain.

Kebutuhan air pada setiap orang sangatlah berbeda-beda, bergantung dari beberapa faktor, misalnya: aktivitas, usia, berat badan, tinggi badan, serta kondisi lingkungan di mana kita berada. Air memiliki kegunaan yang luar biasa bagi tubuh.

Beberapa fungsi air dalam peranannya di dalam tubuh kita yaitu[25]:

1. Air sebagai pengatur suhu tubuh

Kondisi tubuh akan menurun ketika kandungan air yang ada di dalam tubuh menurun. Bila tubuh kekurangan air maka suhu tubuh akan menjadi panas dan naik. Jika kita berada pada daerah atau tempat yang suhunya panas, maka tubuh kita akan membutuhkan air yang cukup. Pada tempat yang panas seperti itu, tubuh akan merespon dengan mengeluarkan keringat untuk menormalkan suhu tubuh. Begitu juga ketika di ruang ber-AC, kita dianjurkan untuk minum lebih banyak, karena udara AC akan membuat tubuh mengalami dehidrasi dan kulit menjadi kering.

2. Air berguna untuk melancarkan darah

Seperti yang kita ketahui, darah dalam tubuh kita terdiri dari 90% air. Bisa dibayangkan bila tubuh kita kekurangan air maka darah menjadi lebih kental. Pengentalan darah membuat persediaan oksigen yang diantarkan ke otak berkurang dan memungkinkan terjadinya stroke. Pengentalan darah juga akan merusak fungsi ginjal karena ginjal dipaksa bekerja ekstra keras untuk menyaring darah. Bahkan lebih parah lagi, bisa memicu terjadinya kanker usus besar akibat sisa-sisa makanan pada usus besar mengeras.

3. Air dapat menyehatkan dan menghaluskan kulit tubuh

Ketika kita jarang  minum air, tubuh akan menyerap kandungan air di dalam kulit sehingga kulit akan menjadi tampak kering, kusam, kasar, berkerut, dan tidak segar. Kulit bukan hanya sekadar selubung yang membalut seluruh tubuh, tetapi juga organ vital yang sangat kuat. Melalui kulit kotoran-kotoran dari dalam tubuh kita dikeluarkan. Bila pori-pori kulit tersebut tertutup oleh partikel atau minyak kotor berukuran kecil (yang dihasilkan oleh tubuh kita) maka proses pembuangan menjadi menjadi terhalang atau terlambat akibatnya di kulit muncul jerawat serta bintik hitam. Air sangat penting untuk mengatur  struktur dan fungsi kulit. Kecukupan air di dalam tubuh perlu untuk menjaga kelembaban, kelembutan, dan elasistas kulit.

4. Air memperlancar fungsi pencernaan

Peran air di dalam tubuh sangatlah besar, karena air akan membantu sistem pencernaan di dalam tubuh. Dengan mengonsumsi air yang cukup akan membantu kerja organ-organ pencernaan, seperti usus besar yang berfungsi untuk mencegah konstipasi (susah buang air besar). Hal ini disebabkan karena gerakan-gerakan usus menjadi lebih lancar, dan feses pun dikeluarkan dengan lebih lancar.

5. Air membantu pernapasan tubuh

Organ tubuh kita yang berfungsi dalam pernapasan adalah paru-paru. Paru-paru di dalam tubuh manusia harus selalu basah dalam melakukan tugasnya, dikarenakan untuk memasukkan oksigen ke sel tubuh dan memompakan karbondioksida keluar dari tubuh. Paru-paru kita sangat membutuhkan air, ini bisa dibuktikan dengan cara menghembuskan napas ke kaca, dimana kita akan melihat uap air yang keluar lewat napas dan terlihat dalam bentuk embun yang menempel pada kaca.

6. Air sebagai pelumas sendi dan otot

Air yang cukup di dalam tubuh akan melindungi dan melumasi gerakan sendi dan otot. Orang-orang yang beraktivitas tinggi, seperti olahragawan misalnya, sangat rawan mengalami cedera pada tulang sendi dan juga otot-ototnya. Oleh karenanya, air sangat dibutuhkan bagi olahragawan karena mereka mempunyai aktivitas tinggi. Untuk itulah, mengonsumsi air selama beraktivitas berguna untuk meminimalisasi risiko kejang otot. Perlu kita ketahui, jika otot-otot tubuh kekurangan cairan, maka otot-otot tubuh akan mengempis, sehingga otot-otot tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik karena kekurangan cairan.

7. Air sebagai media untuk pemulihan kondisi tubuh

Ketika sedang sakit, demam misalnya, cairan yang keluar dari dalam tubuh akan lebih banyak, maka sebaiknya dianjurkan untuk mengonsumsi air minum lebih banyak dari biasanya dikarenakan air berfungsi untuk menggantikan cairan yang telah terbuang dari dalam tubuh. Ketika sakit suhu tubuh juga meningkat. Meningkatnya suhu tubuh adalah reaksi yang normal, karena ini adalah bagian dari mekanisme pertahanan tubuh dalam menghadapi masuknya benda-benda asing seperti bakteri atau virus.

Demam yang terlalu tinggi dapat menyebabkan dehidrasi, kerusakan otak, dan juga kerusakan jantung. Itulah sebabnya mengapa orang sakit dianjurkan untuk selalu banyak minum air untuk membantu proses penyembuhan.

8. Air untuk kesuburan

Meningkatnya hormon testosteron pada pria dan hormon estrogen pada wanita menunjukkan tingkat kesuburan dan kesehatan seseorang, ini bisa terjadi bila kita mandi dengan air dingin. Menurut para peneliti sebuah lembaga riset trombosis di London, Inggris, jika seseorang mandi dengan air dingin maka peredaran darahnya akan lancar atau membaik sehingga tubuh akan menjadi lebih segar. Mandi dengan air dingin juga akan meningkatkan produksi sel darah putih sehingga akan meningkatkan kemampuan seseorang terhadap serangan virus. Seperti telah disebutkan di atas mandi pagi dengan menggunakan air dingin dapat meningkatkan hormon estrogen dan testosterone, dengan demikian kesuburan dan gairah seksual pun akan meningkat.

 

12. قَالَ مُصْعَبٌ وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ Kemudian Mush’ab mengatakan lupa yang kesepuluh tapi yang jelas adalah rajin berkumur

Berkumur –kumur berarti membersihkan rongga mulut dari penularan penyakit. Sisa makanan sering mengendap atau tersangkut di antara sela gigi yang jika tidak dibersihkan ( dengan berkumur-kumur atau menggosok gigi) akhirnya akan menjadi mediasi pertumbuhan kuman. Dengan berkumur-kumur secara benar dan dilakukan lima kali sehari berarti tanpa kita sadari dapat mencegah dari infeksi gigi dan mulut. Penelitian modern membuktikan bahwa berkumur dapat menjaga mulut dan tenggorokan dari radang dan menjaga gusi dari luka. Berkumur juga dapat menjaga dan membersihkan gigi dengan menghilangkan sisa-sisa makanan yang terdapat di sela-sela gigi setelah makan. Manfaat berkumur lainnya yg juga penting adalah menguatkan sebagian otot-otot wajah dan menjaga kesegarannya. Berkumur merupakan latihan penting yang diakui oleh pakar dalam bidang olahraga, karena berkumur jika dilakukan dengan menggerakkan otot-otot wajah dengan baik dapat menjadikan jiwa seseorang tenang.

 

C. Beberapa Ibrah

1. Ibadah terdiri dari yang sifatnya ritual dan yang bersifat social. Di samping itu ada yang yang bersifat fithriyah yang berkaitan dengan kebutuhan setiap individu. Dalam hadits ini terdapat sepuluh ibadah fithriyah. Tentu saja bukan hanya berjumlah sepuluh saja melainkan masih ada yang lainnya yang tercantum di hadits lainnya.

2. Dengan mengetahui dalil naqli yang bersumber dari syari’ah dan dalil aqli yang sifatnya ilmiyah hasil penelitian para ilmuwan, setiap mu`min tidak hanya meraih nilai ibadah, tapi juga bernilai mu’amalah, bukan hanya dapat menyehatkan jasmani, tapi juga menyehatkan ruhani.

3. Sebagai orang yang beriman pada kebenaran Rasul SAW akan disiplin menaati aturan syari’ah walau belum memahami hikmah dan manfaatnya. Namun bila sudah mengetahui manfaatnya maka akan lebih merasakan betapa indahnya syari’ah Islam, dan betapa tingginya mu`jizat Rasul SAW.

 

 



[1]  Shahih Muslim, no.384, sunan al-Nasa`iy, no. 4954

[2] Shahih al-Bukhari, no.3179

[3]  Awn al-Ma’bud, I h.67

[4] al-Muntaqa, syarah al-Muwathha, IV h.321

[5]  Tanwir al-Hawalik, I h.665

[6]  Tuhfat al-Ahwadzi, VII h.65

[7]  Ibn Hajar, Fath al-Bari, XVI h.477

[8] al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, I h.414

[9]  Shahih al-Bukhari, no. 5442, Shahih Muslim, no.382

[10]  Musnad Ahmad, no. 6835

[11]  Awn al-Ma’bud, I h.67

[12] http://polynym.blogspot.com/2013/02/pelihara-jenggot-bisa-menunda-penuaan.html

[13] http://beautyinhealthy.blogspot.com/2011/04/alasan-kenapa-kita-perlu-memotong-kuku.html

[14]  Syarah al-Nawawi, I h.419

[15] http://kilas-kesehatan.blogspot.com/2013/06/tips-mencuci-tangan-yang-baik-dan-benar.html

[16] al-Fiqh al-Isalmi, I h.300

[17] http://kuncisehatdansukses.blogspot.com/2012/09/kandungan-kimia-kayu-siwak.html

[18] Shahih al-Bukhari, VI h.16

[19]  Sunan Abi Dawud, no 43

[20]  Sunan Abi Dawud, no.123

[21] http://simkuring-info1.blogspot.com/2011/11/manfaat-istinsyaq-menghirup-air-kedalam.html

[22]  Sunan al-Tirmidzi, no.2683

[23] sunan al-Nasaiy, no. 14

[24] http://artikel-islamiku.blogspot.com/2012/07/mencukur-rambut-kemaluan.html

[25] http://www.citrabening.com/manfaat-air-bagi-tubuh/