05.HADITS AL-BUKHARI TENTANG NIAT DAN HIJRAH seri 01

KAJIAN HADITS

RIWAYAT

AL-BUKHARI

tentang

NIAT DAN HIJRAH

 

A. Teks Hadits dan Terjemah

Imam al-Bukhari (194-256H)[1] meriwayatkan:

 

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

 

“Qutaibah bin Sa’id telah menyampaikan hadits pada kami. Abd al-Wahab memberitakan pada kami. Dia berkata: Saya mendengar yahya bin Sa’id yang mengatakan: Muhammad bin ibrahim telah memberitahu bahwa ia mendengar Alqamah bin Waqas al-Laytsi berkata: Aku mendengar Umar bin al-Khathab berkata: Saya dengar rasul SAW bersabda: Sesungguhnya amal itu dengan niyat. Sesungguhnya bagi setiap orang tergantung pada yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya pada Allah dan rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya untuk kepentingan dunia, atau yang hijrahnya karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang harapkannya.”

 

 

B. Sanad dan Rawi

1. Sekilas Sanad

1. حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ

(Kata imam al-Bukhari), Qutaibah bin Sa’id telah menyampaikan hadits pada kami. Qutaibah bin Sa’id bin Jamil bin Thuraif bin Abd Allah, dikenal dengan nama Abu Raja, keturunan al-Baghlani al-tsaqafi, temasuk كبار تِبع الأتْبَاع (murid besar al-atba/ bertemu dengan murid tabi’in sampai dewasa) dan wafat di Khimshi tahun 240H.

 

2. حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ قَالَ سَمِعْتُ

(Kata Qutaibah) Abd al-wahab telah menyampaikan hadits pada kami; ia telah mengatakan: Saya mendengar.

Nama lengkapnya Abd al-Wahab bin Abd al-Majid bin al-Shalth, dijuluki Abu Muhammad, keturunan al-Tsaqafi, setingkat الوُسطَى من الأتْبَاع (pengikut tabi’in pertengahan), wafat di Bashrah tahun 194 H.

 

3.  يَحْيَى بْنَ سَعِيدٍ يَقُولُ

(Kata Abd al-Wahab) Yahya bin Sa’id berkata.Nama lengkapnya Yahya bin Sa’id bin Qays, Abu Sa’id al-Anshari, al-Najari (keturunan Najar), setingkat الصُّغْرَى مِن التَّابِعِيْن (tabi’in kecil/ semasa kecil bertemu dengan shahabat), lama tinggal di Madinah dan wafat di daerah al-Hasyimiyah thun 144H.

 

4. أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ

(Kata Yahya bin Sa’id) Muhammad bin Ibrahim telah memberi tahu saya. Nama lengkapnya Muhammad bin Ibrahim bin al-Harits bin Khalid, dikenal dengan nama Abu Abd Allah al-Taymi, keturunan Quraisy. Setingkat  دُون وُسطَى التَّابِعِين  berkedudukan dan wafat di Madinah tahun 120H.

 

5. أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ

Sesungguhnya Muhammad bin Ibrahim mendengar Alqamah bin Waqas al-Laytsi mengatakan saya mendengar: Alqamah bin Waqas bin Muhshin al-Laytsi, منْ كبار التَّابِعِيْن (tabi’in besar / bertemu dengan shahabat hingga dewasa) dan wafat di Madinah.

 

6. عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

(Kata al-Laytsi) Umar bin Khathab berkata; saya mendengar Rasul SAW bersabda. Menurut al-Laytsi, Umar bin al-Khathab yang menerima hadits ini secara langsung dari Rasul SAW. Umar bin Khathab bin Nufayl bin Abd al-Uzza bin Rubah bin Qarth bin Razah bin Adiy bin Ka’b bin Lu`ay, Abu Hafash, al-Qurasyi, al-Adwi al-Faruq, masuk Islam pada tahun 6 dari kenabian, khalifah yang paling pertama disebut أمِيْر المُؤْمِنِيْن pemimpin mukmin رَضِيَ اللهُ عَنْهُ semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan keridlaan padanya.

Para Muhadits, setiap menyebut nama Shahabat diiringi dengan do’a tersebut, supaya mempunyai nilai ibadah. Mendo’akan orang mukmin yang telah wafat adalah ibadah. Umar bin al-Khathab (lahir 40 sH / 586M) adalah shahabat yang cukup terkenal dalam berbagai hal, utamanya dalam membela al-Islam sejak ia masuk Islam hingga akhir hayatnya. Kata Ali bin Abi Thalib sebagaimana dikutip al-Suyuthi, semasa Rasul Umar sering menyampaikan pendapat berdasar pemikirannya, kemudian al-Qur`an turun sesuai dengan pemikirannya itu, seperti masalah khamr dan tawanan.

Sepeninggal Rasul, Umar yang paling pertama menobatkan Abu Bakr sebagai khalifah dengan menyampaikan argumentasi yang meyakinkan kaum Anshar dan Muhajirin. Umar juga berjasa membukukan al-Qur`an dalam satu Mushhaf Utsmani, dan sangat hati-hati dalam meriwayatkan hadits. Beliau juga yang menaklukan kawasan Romawi dan Parsi hingga al-Islam menyebar ke seluruh dunia. Umar bin Khathab, sangat dicintai rakyat pada masa pemerintahannya( 634M-644M), sejak diangkat oleh Abu Bakr untuk menggantikannya.

Umar bin al-Khathab merupakan orang yang paling pertama (1) dijuluki Amir al-mu`minin, (2) yang menetapkan kalender hijri, (3) pendiri Bait al-Mal, (4) Tarawih diberjamaahkan, (5) menghidupkan ronda malam, (6) yang menetapkan hukum cambuk 80 kali bagi peminum khamr, (7) mensyari’ahkan ‘awl[2] dalam ilmu fara`idl, dan masih banyak gagasan lainnya. [3]  Beliau wafat ditikam (22 H / 644M) bukan karena dibenci umat, tapi karena dendam kaum Parsi (Abu Lu`lu) yang tidak setuju Islam menyebar ke kawasannya.

 

2. Sekilas al-Bukhari

Imam al-Bukhari (1 Syawal 194 H‑30 Ramadhan 256 H). [4]  Urutan pertama yang paling terkenal diantara enam[5] tokoh Hadits adalah Amirul-Mu’minin fil-Hadits (pemimpin orang mukmin dalam hadits), suatu gelar ahli hadits tertinggi. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail, terkenal kemudian sebagai Imam Bukhari, lahir di Bukhara pada 1 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), cucu seorang Persia bernama Bardizbah. Kakeknya, Bardizbah adalah pemeluk Majusi, agama kaumnya. Kemudian putranya bernama al-Mughirah memeluk Islam di bawah bimbingan al-Yaman al Ja’fi, Gubernur Bukhara. Pada masa itu Wala dinisbahkan kepadanya. Karena itulah ia dikatakan “al-Mughirah al-Jafi.” Mengenai kakeknya, Ibrahim, tidak terdapat data yang menjelaskan. Sedangkan ayahnya, Ismail, seorang ulama besar ahli had