FUNGSI HADITS TERHADAP AL-QUR`AN

E. Fungsi al-Hadits terhadap al-Qur`an

Fungsi al-Hadits terhadap al-Qur`an yang paling pokok adalah sebagai bayân, sebagaimana ditandaskan dalam ayat:

 

keterangan-keterangan (mu`jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan,. (Qs.16:44)

 

Ayat ini menunjukkan bahwa Rasul SAW bertugas memberikan penjelasan tentang kitab Allah. Penjelasan Rasul itulah yang dikategorikan kepada al-hadîts. Umat manusia tidak akan bisa memahami al-Qur`ân tanpa melalui al-hadîts tersebut. Al-Qur`ân bersifat kully dan ‘am, maka yang juz’iy dan rinci adalah al-hadîts.

Imam Ahmad menandaskan bahwa seseorang tidak mungkin bisa memahami al-Qur`ân secara keseluruhan tanpa melalui al-hadîts. Imam Al-Syatibi berpendapat bahwa kita tidak akan bisa mengistinbath atau mengambil kesimpulan dari hukum al-Qur`ân tanpa melalui al-hadîts. Dengan demikian jelaslah bahwa fungsi al-hadîts terhadap al-Qur`ân itu cukup penting, yaitu sebagai bayân atau penjelas.

Contoh-contoh di bawah ini memberikan gambaran tentang bagaimana al-hadîts menjelaskan isi al-Qur`ân:

 

1.  Al-Qur`ân telah menghalalkan makanan yang baik-baik (Qs.5:1), dan megharamkan yang kotor-kotor (Qs.7:156); tetapi di antara keduanya (di antara yang baik-baik dan yang kotor-kotor) itu ada terdapat beberapa hal yang tidak jelas atau syuhbat, yang samar-samar (tidak nyata baik dan tidak nyata buruknya). Ukuran baik dan buruk pun menurut pandangan manusia akan berbeda. Oleh sebab itu, Rasul SAW yang menetapkan mana yang baik dan mana yang buruk itu, dengan istilah halal dan haramnya. Beliau mengharamkan segala hewan-hewan (binatang-binatang) buas, yang mempunyai taring, dan burung-burung yang mempunyai kuku yang mencakar dan yang menyambar, demikian juga beliau mengharamkan keledai jinak (bukan keledai hutan), karena semua itu termasuk binatang yang kotor-kotor dan yang keji-keji.[1].

 

2. Al-Qur`ân telah menghalalkan segala minuman yang tidak memabukan, dan mengharamkan segala mi-numan yang memabukkan. Di antara yang tidak memabukkan dan yang memabukkan ada beberapa macam minuman, yang sebenarnya tidak memabukkan, tetapi dikuatirkan kalau-kalau memabukkan juga, seperti tuak dari ubi, tuak kedelai, tuak labu, atau tuak yang ditaruh dalam bejana yang dicat dengan ter dari dalamnya (Al- Muzaffat), juga yang ditaruh di dalam batang kayu yang dilobangi (Al- Naqir), dan yang serupa dengan minuman yang memabukkan dan membawa kebinasaan.[2] Kemudian Rasulullah SAW kembali menghalalkan segala sesuatu yang tidak memabukan.[3]

 

3. Al Qur’an telah membolehkan daging hewan-hewan yang ditangkap oleh hewan-hewan pemburu yang sudah diajar dengan patuh dan mengerti. Jelas, apabila hewan pemburu itu belum terlatih, maka haramlah memakan hewan dari hasil buruan (yang ditangkapnya), karena dikuatirtkan bahwa hewan yang ditangkapnya itu buat dirinya sendiri. Kemudian timbul pertanyaan yang beredar antara dua masalah yaitu: apabila hewan pemburu itu sudah terlatih, tetapi buruan itu ditangkapnya untuk dirinya sendiri, tidak untuk tuan yang menyuruh-nya, denga tanda-tanda bahwa buruannya itu telah dimakannya sendiri sekalipun sedikit,  maka bagaimanakah hukumnya?.

Sunnah Rasulullah SAW, menjelaskan bahwa jika buruan itu dimakan oleh anjing pemburu, maka kaum muslimin dilarang memakannya, karena dikuatirkan hewan yang ditangkapnya itu untuk dirinya sendiri. [4]

 

4. Al-Qur`ân melarang orang yang sedang ihram mem-buru buruan dengan muthlaq, artinya tidak me-makai syarat, apabila larangan itu diabaikannya, maka diwajibkan jaza (balasan) atas orang yang melanggarnya (membunuhnya). Tetapi larangan memburu itu dikecualikan bagi orang yang halal, artinya bagi yang tidak mengerjakan ihram. Pengecualian itu dengan muthlaq juga. Kemudian timbul pertanyaan: Bagaimana hukumnya orang yang sedang ihram itu memburu dengan tidak disengaja?, Oleh Rasul SAW dijelaskan bahwa memburu buruan bagi orang yang sedang ihram itu, sama saja, hukumnya antara yang sengaja dengan yang tidak disengaja, dalam kewajibannya menunaikan denda atau dam.

Fungsi al-Hadits terhadap al-Qur`ân sebagai bayân itu difahami oleh ulama dengan berbagai pemahaman, antara lain sebagai berikut:

Kelompok pertama berpendirian bahwa fungsi as-Sunnah terhadap al-Qur`ân itu adalah sebagai:

 

a. Bayân Taqrir

Bayân taqrir ialah al-Hadits yang berfungsi menetapkan, memantapkan, dan mengokohkan apa yang telah ditetapkan al-Qur`ân, sehingga maknanya tidak perlu dipertanyakan lagi. Ayat yang ditaqrir oleh al-Hadits tentu saja yang sudah jelas maknanya hanya memerlukan penegasan supaya jangan sampai kaum muslimin salah menyim-pulkan.  Contoh: Firman Allah SWT:

فَمَن شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Barangsiapa yang menyaksikan bulan ramadlan maka hendaklah shaum. (Qs.2:185)

Ditegaskan oleh Rasulullah SAW:

صُومُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ*

Shaumlah kalian karena melihat tanda awal bulan ramadlan dan berbukalah kalian karena melihat tanda awal bulan syawal. Hr. Muslim.[5]

Hadits di atas dikatakan bayân taqrîr terhadap ayat al-Qur`ân, karena maknanya sama dengan al-Qur`ân, hanya lebih tegas ditinjau dari bahasanya maupun hukumnya.

 

b. Bayân Tafsîr

Bayân tafsir berarti menjelaskan yang maknanya samar, merinci ayat yang maknanya global atau mengkhususkan ayat yang maknanya umum. Sunnah yang berfungsi bayân tafsir tersebut terdiri dari (1) tafshîl- al-mujmal, (2) tabyîn al-musytarak, (3) takhshish al-’âm.

 

1.  tafshîl- al-mujmal,

Hadits yang berfungsi tafshîl- al-mujmal, ialah yang merinci ayat al-Qur`ân yang maknanya masih global.

Contoh:

a) Tidak kurang enam puluh tujuh ayat al-Qur`ân yang langsung memerintah shalat, tapi tidak dirinci bagaimana operasionalnya, berapa raka’at yang harus dilakukan, serta apa yang harus dibaca pada setiap gerakan. Rasulullah SAW dengan sunnahnya memperagakan shalat secara rinci, hingga beliau bersabda:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أَُصَلِّى. رواه الجماعة

Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku sedang shalat. Hr. Jamaah[6]

 

b) Ayat-ayat tentang zakat, shaum, haji pun demikian memerlukan rincian pelaksanaannya.

Ayat haji umpamanya menandaskan:

وَأَتِمُّوْا الحَجَّ وَالعُمْرَةَ ِلله

Sempurnakanlah ibadah haji dan ibadah umrahmu karena Allah. (Qs.2:196)

Rinciannya ialah pelaksanaan Rasulullah dalam ibadah haji wada’ dan beliau bersabda:

خُذُوْا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ.

Ambilah dariku manasik hajimu. Hr. Ahmad, al-Nasa`I, dan al-Bayhaqi.[7]

 

2. Tabyîn al-Musytarak

Tabyîn al-Musytarak ialah menjelaskan ayat al-Qur`ân yang mengandung kata bermakna ganda.

Contoh:  Firman Allah SWT:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوءٍ

Wanita yang dicerai hendaklah menunggu masa iddah selama tiga quru. (Qs.2:228)

Perkataan قُرُوءٍ Quru adalah bentuk jama dari قَرْءٍ  Qar’in. Dalam bahasa Arab antara satu suku bangsa dengan yang lain ada perbedaan pengertian Qar’in. Ada yang mengartikan suci ada pula yang mengarti-kan masa haidl. Mana yang paling tepat perlu ada penjelasan. Rasul SAW bersabda:

طَلاَقُ الأَمَةِ تَطلِقْتَانِ وَعِدَّتُهَا حَيْضَتَانِ.

Thalaq hamba sahaya ada dua dan iddahnya dua kali haidl. Hr. Abu dawud, al-Turmudzi, dan al-Daruquthni.[8]

Dalam ketentuan hukum, hamba sahaya itu berlaku setengah dari orang merdeka. Jika hadits ini menetap-kan dua kali haidl, maka menurut sebagian pendapat, perkataan حَيْضَتَانِ  haidlatâni itu merupakan penjelas dari Qar`in yang musytarak, sehingga kesimpulannya bahwa wanita yang dicerai itu iddahnya tiga kali haidl.

 

c. Takhshîsh al-’âm

Takhshîsh al-’âm ialah sunnah yang mengkhususkan atau mengecualikan ayat yang bermakna umum.

Contoh:

1) Firman Allah SWT:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ المَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الخِنْزِيْرِ

Diharamkan atasmu bangkai, darah dan daging babi. (Qs.5:3)

 

Dalam ayat ini tidak ada kecuali, semua bangkai dan darah diharamkan untuk dimakan. Sunnah Rasulullah SAW mentakhshish atau mengecualikan darah dan bangkai tertentu. Sabda Rasululah saw:

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا المَيْتَـَتَانِ الحُوتُ وَالجَرَادُ وَأَمَّا الدَمَانِ فَالكَبِدُ وَالطِّحَالُ.

Telah dihalalkan kepada kita dua macam bangkai dan dua macam darah. Yang dimaksud dua macam bangkai adalah bangkai ikan dan bangkai belalang. sedangkan yang dimaksud dua macam darah adalah ati dan limpa.  (Hadits Riwayat Ahmad, Ibnu Majah dan al-Bayhaqi.[9]

 

2) Firman Allah SWT:

يُوصِيْكُمُ الله فِى أَوْلاَدِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَضِّ الأُنْثَيَيْنِ*

 

Allah mewasiatkan bahwa hak anakmu laki-laki adalah dua kali hak anakmu yang perempuan. Qs.4:11

 

Dalam ayat ini tanpa kecuali atau berlaku umum bahwa semua anak mendapat warisan. Sedangkan keberlakuan hukum tersebut hanya untuk anak yang agamanya sama muslim. Sunnah Rasul memberikan takhshish atau pengcualian dengan sabdanya:

لاَيَرِثُ المُسْلِمُ الكَافِرَ وَلاَ الكَافِرُ المُسْلِمَ.

 

Seorang muslim tidak mewarisi orang kafir dan yang kafir tidak mewarisi seorang muslim. Hr. al-Bukhari dan Muslim[10]

 

c. Bayân Tabdîl

Bayân Tabdîl ialah mengganti hukum yang telah lewat keberlakuannya.

Dalam istilah lain dikenal dengan nama nâsih wa al- mansûh. Banyak ulama yang berbeda pendapat tentang keberadaan hadits atau sunnah men-tabdil al-Qur`ân. Namun pada dasarnya bukan berbeda dalam menyimpulkan hukum, melainkan hanya terletak pada penetapan istilahnya saja.

Contoh sunnah yang dianggap Bayân Tabdîl oleh pendapat yang mengakuinya ialah dalam bab zakat pertanian. Dalam ayat al-Qur`ân tidak diterangkan batasan nisab zakat melainkan segala penghasilan wajib dikeluarkan zakatnya. Sedangkan dalam sunnah Rasul ditandaskan:

لَيْسَ فِيْمَا دُونَ خَمْسَةِ أَوسَقٍ صَدَقَةً

Tidak ada kewajiban zakat dari hasil pertanian yang kurang dari lima wasak .Hr. al-Bukhari dan Muslim[11]

 

Imam Malik berpendirian bahwa fungsi sunnah terhadap alqur’an adalah sebagai (1) bayân taqrir, (2) bayân tawdlîh, (3) bayân tafshîl, (4) bayân tabsîth, (5) bayân tasyrî’.

Bayân taqrîr telah dijelaskan pada uraian di atas. Bayân taudlîh, bayân tafshîl telah tercakup pembahasannya pada bayân tafsîr. Yang perlu dijelskan adalah bayân tabsîth dan bayân tasyrî.

Sunnah yang berfungsi sebagai bayân tabsith ter-hadap al-Qur`ân adalah sunnah yang menguraikan ayat al-Qur`ân yang ringkas yang memerlukan pen-jelasan secara terurai. Contohnya kisah-kisah dalam al-Qur`ân yang ringkas diuraikan oleh sunnah rasul secara gamblang dan terurai seperti isra mi’raj.

Imam Syafi’i berpendirian bahwa fungsi as-Sunnah terhadap al-Qur`ân itu adalah sebagai (1) bayân tafshil atau perinci ayat yang mujmal, (2) bayân takhshish atau pengkhusus yang yang bersifat umum, (3) bayân ta’yien yaitu menetapkan makna yang dimaksud dari suatu ayat yang memungkinkan memiliki beberapa makna seperti menjelaskan yang musytarak, (4) bayân tasyri’ yaitu sunnah yang berfungsi tambahan hukum yang tidak tercantum dalam al-Qur`ân. Contohnya: dalam al-Qur`ân telah ditetapkan bahwa yang haram dimakan itu hanyalah bangkai, darah, daging babi dan yang disembelih bukan karena Allah (Qs.6:145). Sedangkan dalam beberapa riwayat sunnah diterangkan bahwa Rasul melarang memakan binatang buas, yang berbelalai, burung menyambar, dan yang hidup di air dan di darat, (5) bayân nasakh, yaitu mengganti hukum yang tidak berlaku lagi seperti diuraikan pada bayân tabdil.

Ibnul-Qayim berpendapat bahwa fungsi as-Sunnah terhadap al-Qur`ân adalah sebagai (1) bayân ta’kid atau penguat seperti bayân taqrir yang telah dijelaskan di atas (2) bayân tafsir, (3) bayân tasyri’, (4) bayân takhshish, dan (5) bayân taqyied, yaitu menentukan sesuatu yang dalam ayat bisa bermakna mutlak, seperti seruan Allah tentang kewajiban shalat secara mutlak berlaku pada siapa pun. Sedangkan sunnah mentaqyid wanita yang sedang haidl dari yang mutlak tersebut. Wanita yang haidl tidak diwajibkan shalat dan tidak diwajibkan mengganti.

Dengan memperhatikan beberapa pendapat di atas, tampaklah betapa pentingnya sunnah terhadap al-Qur`ân, terutama memberikan kemudahan bagi kaum muslimin untuk memahami isi al-Qur`ân. Jika Rasulullah SAW tidak memberikan penjelasan tentang ayat al-Qur`ân, tentu saja akan menimbulkan berbagai kendala dan kesulitan dalam melaksanakan al-Qur`ân. Itulah mungkin salah satu makna dari fungsi Rasul sebagai rahmat bagi mu’minin bahkan bagi alam semesta.

Oleh karena itu, bukan Allah yang membutuhkan Rasul, tapi justru manusialah yang membutuhkannya. Setiap mu’min harus berkeyakinan bahwa Rasulullah SAW yang paling mengetahui makna al-Qur`ân, karena beliaulah yang menerima langsung dari Allah SWT. Tak sepatutnya seorang mu’min menyalahi apa yang dijelaskan dalam as-Sunnah tentang makna dan maksud ayat al-Qur`ân.

Contoh lainnya dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

 

AYAT

HADITS MUBAYIN

BAYÂN

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ Qs.2:185

 صوموا  لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غمي عليكم فأكملوا العدد  

Shahih muslim, II h.762

Taqrir/

ta’kid

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ  Qs.2:196

 خذوا عني  مناسككم لعلي لا أراكم بعد عامي هذا

sunan al-Bayhaqi V h.125

Tafshil

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ Qs.2:150

 كان رسول الله  صلى الله عليه وسلم  يصلي على راحلته   حيث توجهت  فإذا أراد الفريضة نزل فاستقبل القبلة

Shahih al-Bukhari, I h.156

takhshish

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ

Qs.24:2

 خذوا عني خذوا عني  قد جعل الله لهن سبيلا البكر بالبكر جلد مائة ونفي سنة والثيب بالثيب جلد مائة والرجم

Shahih muslim, III h.1316

Tasyri’

 

 



[1] (perhatikan hadits-hadits, fiy ma la yu`kal minal-hayawan, At-Taj,III:95-96)

[2] (Hadits Riwayat Khamsah dari “Aisyah, At-Taj, III: 140).

[3] (Hadits riwayat Khamsah kecuali Bukhari dari Buraidah, At-Taj,III:141).

[4] (At-Taj,III:102).

[5] Shahih Muslim, II h.762

[6] Musnad Ahmad, I h.148, Shahih al-Bukhari, I h.226, Shahih Ibn Khuzaymah, I h.206, Shahih Ibn hibban, V h.503, Sunan al-Darimi, I h.196, Sunan al-Bayhaqi, III h.120,

[7] Musnad Ahmad, III h.318, Sunan al-Nasa`i, II h.245, Sunan al-Bayhaqi, V h.125

[8] Sunan Abi dawud, II h.257, Sunan al-Turmudzi, III h.488, Sunan al-Daruquthni, IV h.39

[9] Musnad Ahmad, II h.97, Ibn Majah, II h.1073, al-Bayhaqi, I h.254

[10] Shahih al-Bukhari, VI h.2484, Shahih Muslim, III h.1233

[11] Shahih al-Bukhari, II h.524, Shahih Muslim, II h.673

Leave a Reply